Dakwah Kultural Muhammadiyah Rambah Dunia Sepakbola

gomuslim.co.id– Dakwah Muhammadiyah terus merambah ke berbagai bidang. Baru-baru ini, dakwah Muhammadiyah membidik anak-anak muda. Bukan dengan ceramah keagamaan. Anak-anak muda itu dikenalkan paham agama perspektif Muhammadiyah melalui sepak bola. 

Muhammadiyah melebarkan dakwah kultural dengan menggandeng serta membeli klub bola. Universitas Muhammadiyah Surabaya mensponsori Klub Sepak Bola Persebaya dengan menandatangani kerjasama dengan Presiden Persebaya Azrul Ananda dan Rektor UMSurabaya Dr. dr. Sukadiono MM.

Dengan kerjasama tersebut, nantinya dalam pertandingan akan ada logo Universitas Muhammadiyah Surabaya yang bakal menempel di Jersey Persebaya pada musim ini. Bahkan, Azrul Ananda akan dihadapkan ribuan mahasiswa, dosen dan karyawan UM Surabaya untuk mengisi kuliah tamu.

Saat itu, Azrul menuturkan jika keterlibatan perguruan tinggi yang ikut mensponsori klub olahraga di Indonesia masih langka. Lain dengan di luar negeri. Banyak perguruan tinggi yang jadi mitra sponsor klub olahraga. Kerja sama itu bukan sekadar untuk branding, tapi juga berkontribusi menyalurkan atlet-atlet di klub olah raga. Itu sebabnya, UMSurabaya bisa dibilang menjadi pionir.

Tak hanya itu, Azrul mengakui kali pertama menangani klub kebanggaan Arek-Arek Surabaya itu dalam keadaan minus. Persebaya juga belum bermain di Liga 1, tapi Liga 2. Akan tetapi dia melihat potensi kekuatan besar di Persebaya yang tak banyak dimiliki klub lain. Apa itu? Suporter yang loyal dan fanatik. Data terakhir, Persebaya menjadi klub dengan jumlah penonton terbanyak. Mengalahkan Persija, Persib, dan Arema.

Hampir semua pertandingan home Persebaya stadion selalu penuh. Ketika away, klub-klub lain juga merasakan dampaknya. Penontonnya banyak. Tribun stadion terlihat padat. Satu musim kompetisi yang berat. Persebaya bisa melalui dengan menjuarai Liga 2 tahun 2017.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dipastikan membeli klub sepak bola dan akan ikut kompetisi Liga 2. Kabar ini belum banyak diketahui publik. Di mana, PWM Jawa Timur sepakat mengakuisisi klub sepak bola, Semeru FC. Klub sepak bola yang bermarkas di Lumajang. Nilainya juga dirahasiakan. Selanjutnya, klub tersebut akan berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW) Jatim.

 

Baca juga:

Bantu Kembangkan Microfinance, BTM Muhammadiyah Jalin Sinergi dengan Dua Universitas 

 

Proses akuisisi sudah sampai tahap akhir. Masing-masing pihak segera menuntaskan proses administratif sebagai syarat untuk mengikuti Kompetisi Liga 2. Pada Maret ini, PSHW akan menjadi klub yang ikut Kompetisi Liga 2 tahun 2020. Pembelian klub sepak bola oleh Muhammadiyah ini merupakan yang pertama kali. Bukan tak mungkin setelah PWM Jawa Timur,  PWM-PWM lain yang akan melakukan hal serupa. Dengan pola yang sama maupun berbeda.  

Sebagai organisasi tertua di Indonesia, Muhammadiyah lebih banyak mengembangkan cakar dakwahnya melalui pendidikan, kesehatan, dan sosial. Melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sudah ribuan sekolah, dari SD sampai perguruan tinggi, dibangun. Dari Sabang sampai Merauke ada. Kapasitasnya juga terus bertambah.

Juga dengan keberadaan rumah sakit, balai kesehatan ibu dan anak, balai kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dan apotek milik Muhammadiyah yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Belum termasuk pondok pesantren, masjid, panti asuhan anak yatim, panti jompo, panti wreda, panti cacat netra, dan infrastruktur sosial yang tercecer di mana-mana.

Sepak bola juga bisa menjadi turning poin bagi Muhammadiyah. Setidaknya, Muhammadiyah bisa memosisikan diri menjadi bagian penting ikut membangun dan memerbaiki kondisi carut marut persepakbolaan nasional. Hal itu sesuai dengan watak Muhammadiyah yang selalu berkontribusi dan mencari solusi.

Selain itu, dalam catatan sejarah, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan sangat menggemari bermain sepak bola. Seperti disampaikan Sukriyanto (Ketua PP Muhammadiyah), di bawah kepemimpinan Farid Makruf (Menteri Muda Urusan Haji era Bung Karno) kalangan pemuda Muhammadiyah menggalang dana untuk membangun lapangan sepak bola. Ada yang satu meter, 10 meter, 50 meter, sampai 100 meter. Hingga terbeli lebih dari dua hektar.

Kala itu, arsiteknya dan pimpronya, Ir Soeratin Susrosugondo. Dia teman dan guru KH Ahmad Dahlan. Suratin adalah salah seorang pendiri PSSI dan ketua PSSI pertama (1930-1940). PSSI sampai sekarang masih menggelar Kompetisi Piala Soeratin untuk U-17 ke bawah. Instrumen yang dimiliki Muhammadiyah untuk terlibat di sepak bola, juga cukup lengkap. Potensi Muhammadiyah untuk menjadi yang terbaik dan tampil di kasta tertinggi juga sangat terbuka. Tinggal komiten dan integritas yang harus dijaga. Dan kalimat kerennya bisa seperti ini,"Sepak bola Indonesia perlu sentuhan amar makruf nahi mungkar." (hmz/muhammadiyah/kompasiana)

 

Baca juga:

Animo Masyarakat Tonton Film ‘Jejak Langkah Dua Ulama’ Cukup Besar 


Back to Top