Ini Muslimah Rohingya yang Dapat Kewarganegaraan Amerika

gomuslim.co.id - Lila Mubarak, seorang pengungsi dari minoritas Rohingya, Myanmar resmi menjadi warga Amerika Serikat (AS) setelah lebih dari satu abad tak diakui kewarganegaraannya oleh Pemerintah Myanmar.

Dilansir dari Independent, Selasa (25/2/20), perempuan berusia 27 tahun ini menceritakan perjuangannya untuk menjadi warga Negara Amerika beberapa tahun yang lalu setelah melarikan dari penganiayaan di tanah kelahirannya dan memulai kehidupan baru di Chicago Amerika.

“Saya sangat senang menjadi warga negara Amerika karena saya sebelumnya tidak memiliki kewarganegaraan. Ini adalah yang pertama bagi saya,” kata Mubarak setelah dinaturalisasi beberapa hari yang lalu.

 

Baca juga:

Bangladesh Minta Myanmar Dukung Peluang Pendidikan untuk Anak-anak Muslim Rohingya

 

Tetapi kekhawatiran tumbuh di komunitas Rohingya yang ada 8.000 orang di Amerika, sebuah kelompok etnis Muslim yang digambarkan sebagai salah satu yang paling tertindas di dunia. Terlebih kebijakan Donald Trump terkait pembatasan imigran yang masuk ke AS. Namun Lila termasuk beruntung karena mereka termasuk angkatan terakhir sebelum kebijakan itu berlaku.

Sebelumnya, dia tidak pernah membayangkan pengasingan di Amerika karena dia tidak punya alasan untuk meninggalkan tanah airnya di Asia Tenggara, yang sebelumnya dikenal sebagai Burma sebelum Junta yang berkuasa di negara itu pada tahun 1989.

Setelah mendapatkan kartu hijau lima tahun lalu, ia menghadiri kelas-kelas di Pusat Kebudayaan Rohingya di Chicago, sebuah kota di Midwestern yang menampung sekitar seperempat penduduk Rohingya di Amerika.

Pada puncaknya, populasi Rohingya berjumlah sekitar 1,3 juta di Myanmar, sebagian kecil dari populasi yang sebagian besar beragama Buddha yaitu 54 juta.

Diperkirakan 600.000 orang yang tinggal di negara bagian Rakhine hidup dalam dalam kondisi yang memprihatinkan, tanpa kebebasan bergerak atau akses ke pekerjaan, pendidikan atau perawatan kesehatan.

Hampir 130.000 dari mereka telah tinggal di kamp-kamp sejak kekerasan antar-komunal yang brutal terjadi pada 2012.

Pada 2017, militer Myanmar melakukan pembantaian di utara Rakhine, memaksa ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Militer Myanmar mengklaim mereka hanya memerangi kelompok separatis, namun faktanya, sebagaimana disebutkan penyelidik HAM PBB, telah terjadi pembasmian etnis. Muslim Rohingnya menghadapi kekerasan yang tak terbayangkan seperti dibakar dan diperkosa.

 

Baca juga:

Bangladesh Izinkan Anak Rohingya Terima Pendidikan Formal

 

Kehidupan Lila di AS dibantu oleh Abdul Jabbar Amanullah, seorang muslim Rohingya yang lebih dulu melarikan diri ke AS yakni pada 2012. Dia bekerja sebagai manajer di Pusat Kebudayaan Rohingya yang juga membantu pendatang untuk mendapatkan pekerjaan.

Banyak dari mereka yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di Bandara Internasional O'Hare atau atau mencuci piring di restoran.

"Pekerjaan itu cocok bagi warga Rohingya yang baru datang karena tidak memerlukan keterampilan bahasa Inggris sama sekali dan bayarannya lumayan bagus," kata Amanullah, seraya menambahkan ada beberapa pekerjaan yang upahnya 15 dolar AS atau sekitar Rp203.000 per jam.

Direktur pusat tersebut, Nasir Zakaria, yang melarikan diri dari Myanmar ketika berusia 14 tahun dengan mengayuh ke Bangladesh, mengatakan bahwa para pendatang senang dengan kondisi mereka yang baru, tanpa melupakan kampung halaman. (Mr/Independent)


Back to Top