Konferensi Islam Inggris 2020 Bahas Tradisi dan Modernitas

gomuslim.co.id – Konferensi Islam Inggris 2020 berlangsung di Kantor Amnesty International di London pada 22-23 Februari 2020 kemarin. Kegiatan ini dihadiri oleh para cendekiawan Muslim Inggris, para pemimpin, dan aktivis.

Program tersebut juga menghadirkan pembicara non-Muslim mulai dari Amerika Serikat sampai dari Indonesia timur. Mereka berbagi pengalaman terkait platform dialog, percakapan, dan keragaman.

Konferensi yang berlangsung pada akhir pekan ini secara khusus mempromosikan kolaborasi dan memikirkan gagasan tentang Islam di Inggris. Acara tahunan juga mendorong pengembangan pemikiran, identitas, dan budaya Muslim Inggris; serta menciptakan ruang untuk pengembangan jaringan dan kemitraan.

Pada kesempatan itu, Profesor Studi Islam di Universitas Notre Dame, Sheikh Ebrahim Moosa berkesempatan menyampaikan pidato utama. Ebrahim yang juga seorang sarjana menyoroti penafsiran nilai-nilai dari kitab suci Muslim tradisional dalam konteks modern. Misalnya tentang menghormati masa lalu untuk menciptakan penerapan nilai-nilai tradisional yang bermakna dan relevan bagi masyarakat saat ini.

“Kita berusaha memikirkan Islam, dan bagaimana praktik agama Islam di dunia tempat kita hidup. Kita harus kembali ke tradisi kuno dan tradisi modern. Keduanya harus dikombinasikan secara sintesis,” ujarnya seperti dilansir dari publikasi About Islam, Rabu (26/02/2020).

 

Baca juga:

Konferensi Ini Akan Bahas Masa Depan Komunitas Muslim Kulit Hitam Amerika

 

Sementara itu, seorang Psikolog Keluarga dan Sekretaris Jenderal Badan Kesejahteraan Keluarga Nahdlatul Ulama, organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Alissa Wahid mengungkapkan bahwa Indonesia bukan negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara demokrasi. Ia mengungkapkan Indonesia telah menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia karena masyarakat Muslim di Indonesia.

“Muslim Indonesia percaya ada tiga kategori solidaritas yang harus kami junjung tinggi jika kami ingin mencapai Islam sebagai berkah bagi alam semesta. Pertama, kami memiliki solidaritas di antara umat Islam, kemudian kami memiliki solidaritas di antara orang Indonesia, terlepas dari suku atau agama. Yang ketiga adalah solidaritas di antara umat manusia. Tiga solidaritas ini harus kita kerjakan pada saat yang sama, secara rumit, untuk mencapai Islam sebagai berkah,” paparnya.

Selanjutnya, Diplomat Inggris Moazzam Malik yang juga merupakan mantan Duta Besar untuk Indonesia menyampaikan pidato tentang perbandingan antara Inggris dan Indonesia.

“Kami adalah komunitas muda di negara ini, dalam lingkungan demokratis, modern, barat, mencoba mencari tahu apa artinya menjadi Inggris, Muslim, dan modern. Di Indonesia, Anda memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, di negara yang sangat beragam, tumbuh dengan cepat, dan ada banyak hal yang dapat kita pelajari darinya,” pungkasnya. (mga/AboutIslam)

 

Baca juga:

Bulan Depan, Muslim Amerika Gelar Konferensi Melawan Islamofobia


Back to Top