Begini Kisah Mantan Pemabuk yang Dirikan Pesantren Yatim Piatu

gomuslim.co.id - Setiap orang punya kisah hidup yang unik dan berbeda. Salah satu yang unik adalah kisah laki-laki bernama Deni Sartika ini. Seorang mantan pemabuk yang kini mengabdikan seluruh hidupnya untuk agama dan anak yatim-piatu. Hijrahnya tak sekadar berbusana, tetapi perilaku untuk manusia yang lain.

Deni menceritakan jika masa kecilnya tidak pernah mengenal sosok ayah karena meninggal saat dirinya masih berusia 4 tahun. "Kalau mengingat-ingat dulu ya saya dari mabuk-mabukan, maksiat banyak sekali lah. Saya tidak mengenal ayah saya, hanya tahu lewat foto, karena sudah meninggal saat usia saya 4 tahun," ujarnya seperti dilansir dari publikasi tugumalang, Jumat (28/02/2020).

Ia juga bercerita saat kelas 3 SD sudah belajar merokok dan minum alkohol oleh orang-orang di desanya. Saat memasuki SMP, ia mengatakan kehidupannya lebih liar lagi. "Saat SMP saya jadi penabuh gendang di salah satu kelompok musisi dangdut, jadi ya gitu kalau orang entertain pasti banyak maksiat," ucapnya.

Setelah beberapa waktu menjadi penabuh gendang, Deni mulai bosan dengan kehidupannya dan ingin mulai berubah. Awalnya ia membuat komunitas NSG (Nasional Sembarangan Gelem) yang isinya musisi dangdut dan pecinta soundsystem.

 

Baca juga:

Model Playboy Ini Pilih Jadi Mualaf Meski Ditinggalkan Ratusan Ribu Fans

 

Kegiatan NSG sendiri fokus untuk membantu para anak yatim yang kurang beruntung. "Saya usul setidaknya setiap tiga bulan sekali kita anggota komunitas memberikan santunan pada anak yatim. Saat melakukan santunan ini kok rasanya enak, hati jadi tenang. Jadi saya niatkan untuk berhenti minum dan berhenti maksiat," ucapnya.

Setelah itu, Deni membulatkan tekad untuk sepenuhnya hijrah saat memutuskan menikah. Setelah menikah, ia tinggal beberapa bulan di salah satu Masjid di Ngajum bersama sang istri untuk belajar agama.

Setelah merasa siap, ia mengontrak sebuah rumah untuk menampung anak-anak yatim-piatu untuk dirawat dan dididik sekitar tahun tahun 2012. Tentu, awal perjuangannya tidak mudah, banyak orang yang meragukan niat baiknya bahkan tidak jarang ia difitnah. "Karena ya gitu, orang cenderung melihat masa lalu saya, jadi kalau cuma setengah-setengah ya pasti gak bakal kuat," ungkapnya.

Kini, ia sudah merawat sejumlah 28 anak dan tidak perlu mengontrak rumah lagi karena sudah berdiri pondok pesantren Al-Ma'un di Jalan Margonoyo RT 03 RW 02, Desa Ngajum, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

"Seluruh bangunan ini tidak ada tanda tangan, artinya tidak pernah meminta-minta ke manapun. Murni semuanya donasi, dan yang donasi ikhlas datang sendiri kemari," ungkapnya.

Ia bahkan bercerita bahwa bangunan yang sekarang pernah kehabisan dana dan mangkrak. Menurutnya, memang ada dana yang dialokasikan pada anak-anak, namun ia tidak ingin menggunakannya. "Biar uang untuk anak-anak khusus untuk mereka, gak mau saya campur dengan uang bangunan meskipun sebenarnya bangunan juga untuk mereka," jelasnya.

Akhirnya setelah salat tahajud bersama, besoknya ada donatur yang datang untuk memberikan bantuan dana yang bahkan lebih dari yang dibutuhkan untuk membangun bangunan itu. "Saya juga bingung waktu itu, tapi memang bantuan dari Gusti Allah bisa dari mana saja," ucapnya sambil tersenyum heran.

 

Baca juga:

Nekat Kunjungi Masjid, Nenek 85 Tahun Ini Ucapkan Syahadat

 

Deni melanjutkan jika tiap bulan pengeluaran untuk anak-anaknya itu mencapai Rp 7 juta sebulan. Namun selalu saja ada donatur yang membantu kebutuhan mereka.

"Setiap anak itu akan mendapatkan subsidi dari Al-Ma'un sebanyak Rp 200.000 setiap bulan. Yang lulus ini akan tetap kita berikan subsidi asal melanjutkan pendidikan keagamaannya, tapi yang tidak melanjutkan ya kita stop," ungkapnya.

Deni akan tetap menyokong pendidikan anak-anaknya sampai jenjang kuliah asalkan mereka tetap tekun beribadah. Anak-anak di Al-Ma'un dididik berbagai ilmu agama seperti tahsin Qu'an, Dzikir petang, Alquran dan Hadits, bahasa Arab, Qiro'ah, Riyatul Shalihin, ta'lim muta'allim, dan muroja'ah. (Mr/tugumalang/kumparan)


Back to Top