Masjid Darussalam Jadi Saksi 3505 Mualaf Ikrarkan Syahadat

gomuslim.co.id - Masjid Raya Darussalam adalah masjid terbesar kedua di provinsi Kalimantan Timur setelah Masjid Islamic Center Samarinda yang tepatnya berada di kelurahan Pasar Pagi, Samarinda Ilir, Samarinda. Masjid ini berada di tengah-tengah Kota Samarinda.

Masjid yang berlokasi di samping Pasar Pagi Samarinda ini melayani proses mualaf sejak tahun 1990. Tercatat per 2 Maret 2020, ada 3.505 orang yang resmi masuk Islam. “Pelayanan sudah ada sejak 1990. Enggak hanya warga sekitar yang bersyahadat tetapi ada pula masyarakat luar negeri yang berikrar di sini,” tutur Muhammad Rasyid, salah satu imam di Masjid Raya Darrusalam.

 

Baca juga:

Mualaf di Kota Sukabumi Terus Bertambah

 

Para mualaf ini datang berasal dari Jerman, Australia, Belanda, Amerika, hingga Jepang. “WNA yang berikrar di sini (Masjid Raya Darussalam) biasanya sudah tinggal lama karena ada kerjaan di Samarinda. Kasusnya juga nyaris sama, kebanyakan dari mereka memutuskan pindah agama karena ingin menikah. Biasanya buat mereka yang datang karena ingin menikah akan ditemani dengan calon pengantin perempuannya,” tutur Rasyid.

Selain itu, ada pula beberapa masyarakat yang berikrar karena merasa agama ini begitu lembut. Ada yang mualaf pada usia 60-an, dan paling muda itu 3 tahun. Biasanya unutuk anak-anak yang mualaf disertai dengan satu keluarga.

“Uniknya, beberapa dari mereka yang benar-benar tulus ingin masuk Islam sudah mempersiapkan dari bertahun-tahun sebelumnya. Mempelajari Islam dengan baik, bahkan ada dari mereka yang tak perlu lagi dituntun untuk membacakan syahadat, karena sudah hapal dan lancar,” tambahnya.

Diketahui, masjid ini didirikan sejak tahun 1925 pada zaman Kesultanan Aji Muhammad Parikesit dengan luas 25x25 meter, ini jadi masjid jami pertama di kota samarinda.

“Pada 1925, untuk pertama kalinya dibangun Masjid Jami di Kota Samarinda dengan luas 25 x 25 meter. Masjid itu dulunya terletak persis di seberang jalan Masjid Raya ini, pas di tepi Sungai Mahakam. Saat itu masjid belum memiliki pekarangan, bahkan samping kiri tiangnya berada di dalam sungai,” ucap Arnani selaku sekretaris eksekutif Yayasan Masjid Raya

Seiring berjalannya waktu, Masjid Jami tak sanggup lagi menampung jumlah jemaah sehingga dibutuhkan renovasi. Sejak tahun 1953 masjid ini mulai di renovasi, kendati demikian hingga 1967, proses pembangunan masjid belum terlaksana. Fakto ekonomi saat itu dan hal lainnya menyebabkan pembangunan masjid terkendala. Baru pada tahun 1990 pembanguan masjid ini benar-benar terlaksana atas perhatian dari Gubernur, H.M. Ardans pada waktu itu.

 

Baca juga:

Usai Syahadat, Mualaf Berusia 75 Tahun Ini Langsung Disunat

 

“Alhamdullillah, dapat perhatian dari Gubernur, H.M. Ardans pada waktu itu. Hingga diberikan kesempatan untuk merenovasi bangunan lama dengan luas 3.550 meter persegi. Setelah direnovasi, menjadi 7.200 meter persegi dengan daya tampung 14 ribu jemaah,” ungkapnya

Selain dengan tujuan agar menampung jemaah lebih banyak, renovasi masjid kedua terbesar setelah Masjid Islamic Center ini bertujuan agar menjadi land mark sekaligus aset keindahan Samarinda yang bisa dibanggakan untuk masa mendatang. (Mr/prokaltim)


Back to Top