Ini Tanggapan PB IDI Terkait Fatwa MUI Pedoman Salat Bagi Tenaga Medis

gomuslim.co.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa MUI Nomor 17 Tahun 2020 membuat pedoman salat bagi tenaga medis yang memakai alat pelindung diri (APD) saat merawat dan menangani pasien virus corona atau COVID-19. Adanya fatwa ini dinilai membuat tenaga kesehatan lebih tenang. 

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Rosita Rivai mengatakan, tenaga medis di RS dan tempat layanan kesehatan sudah mengatur jadwal kerja. Biasanya, satu sif enam sampai delapan jam. Akan tetapi, tetap mesti mempertimbangkan jumlah pasien. Kalau jumlah pasiennya banyak, sebaiknya sif dibuat enam jam.

 

Baca juga:

MUI Keluarkan Fatwa Pedoman Salat Bagi Tenaga Kesehatan COVID-19

 

"Mengenai waktu salat juga bisa dikondisikan, tidak usah hitung ganti sif jam berapa, yang penting durasi waktunya saja, saya pikir karena saya Muslim waktu salat tidak mempersulit dan bisa dimudahkan," ujar Rosita, Jumat (27/3/2020).

Ia mengatakan, Komisi Fatwa MUI menyampaikan salat Jumat bisa diganti dengan salat zhuhur dalam kondisi darurat. Artinya, agama tidak mempersulit pemeluknya. Seperti halnya tenaga medis yang menggunakan APD selama enam sampai delapan jam. Saat mengenakan APD tidak bisa makan, minum, dan wudhu.

Sekarang sudah ada Fatwa MUI tentang panduan salat bagi tenaga medis yang merawat pasien Covid-19. Fatwa ini bisa membuat tenang tenaga medis yang menggunakan APD berjam-jam. "Sebenarnya kami sudah paham, kemudian keluar fatwa itu akhirnya membuat kami lebih yakin. Kami tidak meninggalkan kewajiban kami, dalam Islam pun dipermudah," ujarnya.

Rosita menambahkan, kalau pasien yang dirawat sangat banyak, sebaiknya sif dibuat enam jam. Kalau sif enam jam, menggunakan APD juga selama enam jam. Sebisa mungkin bertugas selama delapan jam dalam satu sif. Namun, tidak bisa diprediksi wabah COVID-19 akan berakhir kapan karenanya stamina tenaga medis harus dijaga.

"Jangan sampai kita maksa delapan jam dengan pasien yang sangat banyak, akhirnya membuat teman-teman kami kelelahan sehingga tidak bisa memberi layanan lagi," kata Rosita yang juga Direktur Dompet Dhuafa (DD) Klinik.

 

Baca juga:

MUI Imbau Umat Islam Salat Ghaib untuk Korban COVID-19 yang Wafat

 

Sebelumnya, Fatwa MUI Nomor 17 Tahun 2020 menyampaikan, dalam kondisi APD yang dipakai terkena najis dan tidak memungkinkan untuk dilepas atau disucikan, maka melaksanakan salat boleh dalam kondisi tidak suci dan mengulangi salat (i'adah) usai bertugas.

Penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur sif bagi tenaga kesehatan Muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu salat supaya dapat menjalankan kewajiban ibadah dan menjaga keselamatan diri. Penanggung jawab bidang kesehatan wajib mengatur sif bagi tenaga kesehatan Muslim yang bertugas dengan mempertimbangkan waktu salat supaya dapat menjalankan kewajiban ibadah dan menjaga keselamatan diri. (Mr/rep)


Back to Top