Komunitas Muslim Indonesia di AS Tetap Lakukan Rutinitas Keagamaan Lewat Medsos

gomuslim.co.id – Pandemi COVID-19 berimbas langsung pada warga Muslim Indonesia di Amerika. Mereka harus diam di rumah dan tidak bisa beraktivitas di masjid. Namun, dua organisasi Muslim Indonesia di Amerika tetap aktif berkegiatan dengan bantuan media sosial dan virtual.

Dilansir dari publikasi VOA Indonesia, Senin (30/3/2002), salah seorang aktivis muslim, Fahmi Zakaria Zubair yang dikenal sebagai Ustadz Fahmi masih rutin melakukan tugasnya untuk memberi ceramah keagamaan kepada warga Muslim Indonesia di kawasan metro Washington DC, yang tergabung dalam IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) meski ditengah pandemi COVID-19 yang menghantui seluruh umat manusia.

Yang berbeda dari rutinitasnya, semasa pandemi COVID-19 ini, separuh warga Amerika diperintahkan untuk diam di rumah, ia pun tidak menyampaikan ceramahnya langsung kepada jamaah di masjid. Namun, ia berceramah melalui media konferensi telepon Zoom, dan YouTube. Menurutnya, Zoom membantu terjadi interaksi langsung dengan jamaah, sedangkan YouTube membantu jemaah melihat langsung ustadz mereka berbicara.

Sebagai umat muslim, salah satu untuk menjaga rutinitas agar tetap berjalan normal, antara lain dengan tetap bisa melihat tokoh agama mereka berbicara dan tetap bisa berinteraksi dengan saudara seiman. Hal itu dinilai sangat membantu Muslim Indonesia dalam mendukung upaya pemerintah Amerika meredam pandemi COVID-19. Tetapi yang terpenting adalah mengupayakan kehidupan berjalan normal di rumah.

Dalam pernyataan bersama pada 18 Maret 2020 lalu, National Muslim Task Force (Satuan Tugas Muslim Nasional) untuk pandemi virus corona meminta Muslim di seluruh Amerika Utara mendukung upaya pemerintah di negara masing-masing untuk melakukan karantina mandiri dan menerapkan social distancing atau menjaga jarak dalam bersosialisasi.

 

Baca juga:

Pandemi COVID-19 Belum Usai, Komunitas Muslim AS Mulai Diskusikan Program Ramadhan

 

Muslim diingatkan untuk tidak bertemu dalam jumlah lebih dari 10 orang, demi melindungi diri, keluarga dan komunitas mereka. Task Force juga meminta masjid-masjid, pusat-pusat komunitas, sekolah dan semua tempat umum agar tutup sampai waktu yang akan ditentukan nanti.

Selain itu, Task Force menyertakan pula informasi yang diperkirakan menjadi pertanyaan warga Muslim, mulai dari informasi tentang virus corona dan cara penularannya, bagaimana kita mencegah penularan dan melindungi diri, sampai tentang fatwa dan informasi mengenai apa yang dilakukan Muslim di negara-negara lain.

Semua informasi dalam Task Force tersebut pun dimuat lengkap dan disebarluas oleh Islamic Society of North America (ISNA), yang termasuk dalam gugus tugas tersebut. Namun, ISNA, sebagai payung organisasi Islam di Amerika dan Kanada, menambahkan informasi lain, misalnya fiqih menyolatkan dan memakamkan korban COVID-19, yang sudah dirilis oleh Dewan Fiqih Amerika pada 13 Maret 2020.

ISNA menyerahkan kepada organisasi Islam di bawahnya dalam membuat kegiatan yang melibatkan anggota masing-masing guna menghadapi situasi itu.

Kegiatan Indonesian Muslim Society in America (IMSA) lebih banyak melalui virtual memang. Semasa pandemi, kegiatan IMSA ditambah dengan penyebaran informasi, antara membahas rinci, disertai tanya jawab seputar virus corona dan bagaimana menghadapinya, melalui radio komunitas IMSA, menghadirkan Azaibi Tamin.PhD, dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Amerika.

“Kenapa kita harus meniadakan sholat Jumat? Pertama, belum ada vaksin untuk virus ini. Kedua, belum ada obatnya. Ketiga, kita bisa menghentikan penyebaran virus ini dengan tidak berkelompok," ujar Azaibi

Sementara itu, Presiden IMSA, Syafrin Murdas mengatakan bahwa pemberian informasi itu untuk menunjukkan kepedulian organisasi kepada anggotanya, disertai harapan tidak ada yang terkena wabah ini.

Di Seattle, Mohammad Joban terus melakukan tugasnya sebagai imam masjid Ar-Rahmah dengan mengunggah ceramah di YouTube. Meski pertemuan virtual memang untuk sementara bisa mengisi lubang kebutuhan masyarakat, namun tidak bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan komunitas Muslim untuk datang ke masjid. (mga/VoaIndonesia)

 

Baca juga:

Waspada COVID-19, Peziarah di Masjid AS Wajib Periksa Kesehatan


Back to Top