Viral Tayangan Ijab Kabul Nikah Lewat Video Call, Ini Penjelasan Wakil Lembaga Falakiyah PBNU

gomuslim.co.idSebuah tayangan ijab kabul pasangan pengantin melalui video call viral di media sosial baru-baru ini. Prosesi ijab kabul online itu terjadi lantaran mempelai pria yang berada di Malang akan masuk karantina selama 14 hari dengan status orang dalam pemantauan (ODP) kasus COVID-19.

Calon pengantin pria berinisial C (33) asal Surabaya terpaksa melangsungkan prosesi ijab kabul bersama wanita pujaannya berinisal F, yang merupakan warga Kabupaten Kolaka.

Camat Kolaka, Amri, menuturkan akad nikah melalui video call ini dilakukan di rumah pengantin wanita berinisial F di Kelurahan Lamokato. Prosesinya pun berlangsung penuh rasa bahagia dan haru. "Jadi, layaknya seperti biasa, ada juga pak penghulu di rumah pengantin pria, Pak Abdul Wahab yang jadi penghulunya," ujarnya. 

Lantas, bagaimana hukum melakukan ijab kabul melalui video call? Wakil Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sirril Wafa menjelaskan, di dalam ranah fikih (fikih centris) terdapat berbagai perbedaan pendapat terkait dengan melakukan ijab kabul tidak secara langsung atau melalui video call.

 

Baca juga:

Imbas Corona, Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Secara Online

 

"Dalam ranah wacana fikih (fikih centris), mungkin saja ada pendapat yang membolehkan, tapi dengan syarat-syarat ketat. Namun dalam peraturan yang berlaku di Indonesia, hal itu belum memungkinkan untuk dilaksanakan, setidaknya dalam pandangan legal formal," kata Sirril Wafa dalam keterangannya pada Selasa (31/3/2020).

Lebih lanjut, kata Kiai Sirril, khususnya dalam bidang hukum Ta'abbudi, yakni harus melihat prinsip kehati-hatian dan itu diutamakan dibandingkan dengan pertimbangan akal atau filosofi dalam menerapkan ijab kabul.

Namun prinsip Ta'aqquli atau pemahaman rasional menurut Kiyai Siiril, saat ini bisa digunakan dalam melakukan suatu kesepakatan (akad), contohnya dalam bidang usaha. "Saat ini sudah banyak startup yang menjamur, misalnya sudah ada Fintech Syariah yang telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) walaupun masih sedikit karena persyaratan Syar'inya cukup ketat," terangnnya.

Akan tetapi, katanya, untuk permasalah ijab kabul pernikahan secara jarak jauh, selama ini belum pernah ada yang mengambil keputusan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Untuk masalah pernikahan jarak jauh, setahu saya belum pernah dibahas oleh MUI. Sebaiknya dalam masalah semacam ini masyarakat jangan gegabah menggunakan tafsiran perundangan/peraturan masing-masing. Kalau memang sudah ada fatwa MUI, baiknya kita ikuti, agar seragam semua, mengarah ke unifikasi. Wallahu A'lam," katanya.

Sementara dai kondang Indonesia Ustadz Abdurrohman Djaelani mengatakan, hukum menikah atau ijab kabul melalui video call harus merujuk kepada hukum fikih yang lebih dalam. Sebab beberapa ulama berbeda pendapat akan hal tersebut.

"Tapi jika situasinya darurat seperti sekarang ini adanya virus Corona, saya pribadi sebenarnya sah saja menikah lewat video call. Sebab antara calon suami dan walinya bertemu langsung melalui gambar video, meski tidak berjabat tangan seperti ijab kabul pada umumnya. Wallahu alam, tergantung niat," pungkasnya. (hmz/okezone/dbs)

 

Baca juga:

Demi Cegah Corona, Kemenag Gorontalo Utara Izinkan Akad Nikah Hanya Dihadiri 10 Orang


Back to Top