Tiga Dokter Muslim Inggris Gugur Setelah Berjuang Hadapi Corona

gomuslim.co.id - Tiga dokter muslim di Inggris meninggal ketika berjuang melawan virus corona (COVID-19). Ketiganya yaitu dr Adil El-Tayar, dr. Habib Zaidi dan Amged El-Hawrani. Tenaga medis profesional tersebut gugur saat bertugas dalam waktu sepekan terakhir. 

Dilansir dari Middle East Monitor, Rabu (1/4/2020), Dr Adil El-Tayar (63) meninggal pada 25 Maret 2020 di Rumah Sakit Universitas Middlesex Barat di Isleworth, London. El Tayar, sebelumnya bekerja di Sudan dan Arab Saudi. Ia kembali ke Inggris untuk membantu badan kesehatan nasional (NHS) mengatasi pandemi Covid-19.

Sepupunya, Zeinab Badawi, mengatakan bahwa El-Tayar ingin pergi ke tempat yang paling berguna baginya dalam krisis. "Itu tipikal sepupuku. Selalu bersedia membantu, selalu dengan senyum," tuturnya.

Zeinab menyebut hanya perlu 12 hari bagi dokter ini untuk beralih dari dokter yang tampak bugar, cakap, serta bekerja di rumah sakit yang sibuk, menjadi berbaring di kamar mayat rumah sakit. Penghargaan diberikan untuk membalas jasa ketiga dokter ini.  

Pada tanggal 27 Maret 2020, dr. Habib Zaidi (76) meninggal setelah menerima perawatan di unit perawatan intensif di Rumah Sakit Southend di Essex. Menurut putrinya yang juga sesama dokter umum, dr. Sarah Zaidi, ayahnya seorang dokter keluarga yang telah bekerja di Leigh-on-Sea selama lebih dari 45 tahun mengalami gejala-gejala dari virus tersebut.

Profesional medis ketiga, Amged El-Hawrani (55) meninggal pada 28 Maret 2020 di Leicester Royal Infirmary setelah dites positif virus corona. Hawrani adalah spesialis telinga, hidung dan tenggorokan di Queen's Hospital Burton di Derbyshire.

 

Baca juga:

Ikut Rapat Online Wantim MUI, Dokter Idrus Paturusi yang Positif Virus Corona Sampaikan Pesan Penting

 

"Ia memandang perannya sebagai dokter sebagai salah satu pekerjaan paling mulia dalam kehidupan. Kami sangat bangga dengan warisan yang telah ditinggalkannya dan semua yang telah ia capai," ujar seorang juru bicara dari keluarga Hawrani.

Kabar meninggalnya tiga dokter ini muncul di tengah laporan staf Layanan Kesehatan Nasional yang memungkiri alat perlindungan dasar (APD) untuk melaksanakan tugas mereka. Pemerintah Inggris pun menghadapi kritik karena kurangnya alat pelindung diri yang tersedia untuk pekerja medis sehingga mereka rentan terhadap infeksi.

Seorang dokter menulis dalam The Daily Mail, “Jika rumah sakit ingin selamat dari ini, kami sangat membutuhkan pakaian pelindung yang memadai. Kalau tidak, kita adalah anak domba yang siap potong," ucapnya.

Para ilmuwan telah memperingatkan ribuan ventilator baru mungkin terlambat tiba di Inggris. Sementara itu pemerintah mengatakan gagal untuk bergabung dengan skema Eropa dalam meningkatkan kapasitas karena komunikasi yang tumpang-tindih.

Inggris awalnya mengadopsi pendekatan dengan sentuhan ringan untuk wabah ini. Namun, sejak kasus yang dikonfirmasi dan jumlah kematian meningkat, pemerintah memberlakukan tindakan yang lebih keras, termasuk termasuk karantina wilayah selama tiga pekan.

Hingga saat ini, pemerintah Inggris telah melaporkan 22.141 kasus yang dikonfirmasi, di antaranya 1.408 kematian, dan 135 pemulihan. (Mr/Middle East Monitor)

 

Baca juga:

Dokter Muslim Pakistan Ini Sadar APD Minim, Tapi Ikhlas Rawat Pasien Corona Hingga Nyawanya Melayang

 


Back to Top