Pandemi COVID-19, Warga Pakistan Mulai Salurkan Zakat kepada Dhuafa

gomuslim.co.id – Pandemi COVID-19 yang mengharuskan masyarakat untuk mengunci diri di dalam rumah, warga Karachi, Pakistan justru memutuskan untuk beramal. Mereka rama-ramai menyalurkan zakat secara langsung kepada para tuna wisma dan dhuafa.

Masyarakat Pakistan tersebut tetap melakukan aktivitas di luar rumah untuk menawarkan makanan, memberikan uang, atau sedekah lainnya kepada orang-orang yang kurang beruntung yang tidak memiliki tempat tinggal. Sembari memberikan bantuan, mereka selalu berkata kepada kaum fakir tersebut dengan kalimat "Berdoalah agar (virus corona) segera berakhir."

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan mengatakan, ketika sebuah negara memutuskan untuk menetapkan karantina nasional, maka akan ada orang-orang yang terdampak besar atas keputusan itu, termasuk Pakistan. Banyak dari pekerja domestik seperti pedagang kaki lima hingga tukang semir sepatu belum mendapatkan uang dalam beberapa pekan setelah penetapan lockdown

"Jika kita mematikan kota-kota (lockdown) kita menyelamatkan mereka dari corona di satu sisi, tetapi mereka akan mati karena kelaparan di sisi lain. Pakistan tidak memiliki persyaratan yang berada di Amerika Serikat atau Eropa. Negara kita memiliki kemiskinan yang parah," ujar Khan mengakui kondisi negaranya melalui pidatonya beberapa waktu lalu seperti dilansir dari publikasi BBC, Kamis (2/4/2020).

Meski Khan menunjukan realita yang pahit, namun ia optimis bahwa akan selalu ada harapan yang bisa lahir dari pergerakan masyarakat itu sendiri. Di tengah pandemi, rakyat Pakistan bersama-sama membantu mereka yang kurang beruntung dengan cara yang unik dan inspiratif.

Menurut survei pemerintah baru-baru ini, bank-bank Pakistan telah mengumpulkan 7.377.678.000 rupee Pakistan dalam zakat dari masyarakat pada 2018-2019. Namun, banyak penyaluran zakat diberikan langsung kepada mereka yang membutuhkan, sehingga total nominal sesungguhnya tidak didokumentasikan.

Banyak warga yang menawarkan pemberian zakat untuk penerima upah harian yang tidak memiliki uang cuti, asuransi kesehatan, atau jaminan keuangan lainnya. 

Ketika banyak negara berfokus pada kebersihan fisik selama wabah virus korona, ahli biologi molekuler di Universitas Hamdard di Karachi, Dr Imtiaz Ahmed Khan, menyamakan zakat dengan pembersihan spiritual. Ia mengutip ungkapan Pakistan yang populer "Paisa haath ki meil hai" yang artinya “Uang seperti kotoran di tangan seseorang.”

"Zakat menghilangkan kotoran dari kekayaan. Saya bertanggung jawab jika ada tetangga saya yang pergi tidur dengan lapar. Bagaimana saya bisa memiliki dapur yang terlalu banyak menimbun sementara salah satu tetangga saya membutuhkan?,” ungkap Dr Khan.

 

Baca juga:

Begini Kisah Pasien Muslim Pakistan yang Sembuh dari COVID-19

 

Gerakan penyaluran zakat ketika penyebaran virus korona terjadi di Pakistan bukan terjadi secara mendadak. Biasanya zakat dilakukan secara sukarela, tetapi dari 47 negara mayoritas Muslim di dunia, Pakistan adalah satu dari enam negara yang mengamanatkan dan mengumpulkan oleh pemerintah. "Pakistan adalah satu-satunya negara yang didirikan atas nama Islam," ujar salah seorang penulis The Oxford Encyclopedia of the Islamic World, Rizwan Hussain.

Menurut sebuah laporan oleh Stanford Social Innovation Review, Pakistan menyumbang lebih dari 1 persen dari PDB untuk amal. Sebuah studi nasional menemukan bahwa 98 persen orang Pakistan memberi untuk amal atau menyumbangkan waktu mereka.

Ketika virus korona menyebar, banyak orang Pakistan telah menyalurkan zakar lebih dari 2.5 persen. Sementara yang tidak memiliki wajib zakat menawarkan sebanyak mungkin amal yang dapat diberikan.

Banyak donasi telah digunakan untuk membuat paket raashan atau ransum bulanan yang menyediakan upah harian dan barang kebutuhan dasar sehari-hari dasar, seperti tepung, minyak, gula, dan teh. Biasanya paket tersebut didistribusikan selama bulan Ramadhan, tetapi sekarang dibagikan kepada para pekerja upahan harian yang terkena dampak ekonomi dari pandemi. "Dalam beberapa hari terakhir saja, kami telah melihat banyak kelompok pendukung menjamur khusus untuk pekerja upah harian dan paket raashan," imbuh seorang pengajar di Institut Administrasi Bisnis Karachi, Ahmad Sajjad.

Menurut Sajjad, peristiwa pandemi wabah ini, mengingatkannya pada gempa 2005 ketika orang-orang Pakistan berkumpul untuk menawarkan amal. Bedanya, ketika itu orang-orang meyalurkan pada kamp-kamp, namun sekarang media sosial menjadi tempat untuk mengumpulkan dana dan memberikan bantuan.

Ia mengungkapkan, di seluruh Pakistan, permohonan untuk sumbangan banyak beredar di WhatsApp dan media sosial lainnya. Sementara itu, kaum perempuan memainkan peran penting dengan menawarkan rumah mereka sebagai tempat pengumpulan bahan-bahan pokok, seperti tepung, minyak, dan kacang-kacangan. (mga/BBC)

 

Baca juga:

Dokter Muslim Pakistan Ini Sadar APD Minim, Tapi Ikhlas Rawat Pasien Corona Hingga Nyawanya Melayang


Back to Top