Keuangan Islam Akan Berkembang Saat Permintaan Produk Sesuai Syariah Tumbuh

gomuslim.co.id – Moody's Investors Service memperkirakan bahwa keuangan Islam akan berkembang pada tahun 2020 dan seterusnya. Namun hal ini perlu dibantu oleh peningkatan penggunaan produk yang sesuai dengan syariah di wilayah GCC dan Malaysia.

"Kami berharap penerbitan sukuk akan tetap stabil di sekitar $ 180 miliar (Dh661bn) tahun ini, dan pasar asuransi takaful akan melihat pertumbuhan yang stabil karena premi asuransi meningkat di pasar yang baru ditembus," ujar Wakil Presiden dan Pejabat Senior Kredit di Moody's, Nitish Bhojnagarwala seperti dilansir dari publikasi Halal Times, Jumat (3/4/2020).

Meski demikian, risiko penurunan akan meningkat karena wabah coronavirus. Menurutnya, gangguan pasar yang berkepanjangan dapat menghalangi emiten untuk datang ke pasar.

“Akan ada fokus berkelanjutan pada industri sukuk dan peningkatan penerbitan oleh pemerintah pasar keuangan inti Islam. Kebutuhan pembiayaan defisit dari beberapa kedaulatan GCC, di tengah harga minyak yang lebih lemah dan refinancing sukuk yang lebih tinggi, juga akan memberikan dukungan,” papar Moody.

Menurutnya, merger antara bank syariah dan konvensional di GCC akan mendorong peningkatan aset satu kali, seperti yang terjadi pada 2019. Di Kuwait, kata dia, merger antara Kuwait Finance House dan Ahli United Bank yang berbasis di Bahrain setelah selesai, kemungkinan akan menciptakan bank Islam terbesar di dunia, melampaui Al Rajhi Bank yang berbasis di Arab Saudi.

Arab Saudi akan tetap menjadi pasar perbankan Islam terbesar di dunia, sementara sektor ini akan terus berkembang pesat di Malaysia. Sedangkan Aset pembiayaan Islam di kerajaan naik menjadi $ 309bn pada September 2019 dari $ 296bn pada Desember 2018, menurut laporan itu.

 

Baca juga:

Bank Islam Turki Lampaui Pertumbuhan Bank Konvensional di Tengah Pandemi Corona

 

“Kami berharap penetrasi keuangan syariah di Arab Saudi meningkat hingga 80 persen dari pinjaman seluruh sistem (termasuk aset pembiayaan konvensional dan syariah) selama 12-18 bulan ke depan, dari 77 persen pada 2018, didorong oleh meningkatnya permintaan dari perusahaan dan klien ritel,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, penetrasi perbankan Islam di pasar keuangan inti Islam Dewan Kerjasama Teluk, Malaysia, Indonesia dan Turki, meningkat menjadi 31,2 persen pada September 2019, dari 25,5 persen pada 2013. Sementara penerbitan sukuk global tahunan meningkat menjadi $ 179 miliar dari $ 131 miliar.

Di GCC, Oman tetap menjadi pasar perbankan Islam yang tumbuh tercepat dengan tingkat 10 persen dalam sembilan bulan pertama tahun 2019. Oman sendiri memiliki dua bank Islam mandiri dan enam unit syariah di bank konvensional yang menawarkan layanan Islami. Pangsa pasar sektor ini telah meningkat dari nol menjadi sekitar 15 persen dari aset pembiayaan sistem perbankan pada September 2019, dengan potensi untuk pertumbuhan lebih lanjut.

Selanjutnya, di Turki dan Indonesia, penetrasi perbankan syariah tetap relatif rendah, masing-masing 5 persen dan 10 persen. Permintaan untuk manajemen aset Islam, ungkapnya, meningkat karena populasi muslim yang besar, peraturan perundang-undangan yang mendukung dan meningkatnya permintaan investor untuk produk yang sesuai dengan syariah.

"Kami berharap aset Islam tumbuh dengan moderat 3 persen menjadi 4 persen per tahun dalam jangka pendek hingga menengah, dibatasi oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang lemah dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, wilayah Islam terbesar di dunia,” harapnya. (mga/HalalTimes)

 

Baca juga:

BI Sebut Prinsip Syariah di Aceh Jadi Daya Tarik Investasi dan Cegah Korupsi


Back to Top