Pandemi COVID-19, Iran Gunakan Masjid di Teheran Sebagai Tempat Produksi Masker

gomuslim.co.id – Sebuah masjid di Teheran, tepatnya di Masjid Imamzadeh-Masum yang terletak di Distrik Barat Daya Ibukota Iran berubah fungsi menjadi sebuah pabrik yang memproduksi masker. Para sukarelawan wanita yang biasanya mendatangi para pengunjung ke medan perang Iran-Irak bergabung sebagai upaya memerangi COVID-19.

Para wanita tersebut berbaris seperti pekerja pabrik. Ada sekitar 15 wanita yang mengambil posisi di depan meja mesin jahit untuk menghasilkan masker wajah. Mereka adalah anggota Basij yang merupakan seorang sukarela milisi yang setia pada pendirian islam di Iran yang bekerja mengenakan gamis dan cadar hitam. Saat ini, Iran pun menjadi salah satu negara yang paling parah dilanda pandemi COVID-19. Untuk itu, ketika bekerja, hampir semua wanita mengenakan masker.

"Kelompok kami biasanya pergi ke medan perang perang Iran-Irak setiap tahun untuk melayani pengunjung. Tahun ini, karena penyebaran coronavirus, perjalanan antar kota dilarang dan kami tidak dapat pergi ke sana. Jadi, kami datang ke sini untuk melayani rekan-rekan kami. Kami sudah mengerjakan ini selama lebih dari sebulan," ujar salah satu pekerja wanita, Fatemeh Saidi yang masih berusia 27 tahun seperti dilansir dari publikasi AFP, Rabu (8/4/2020).

 

Baca juga:

Kolaborasi, Artis dan Badan Amal Muslim di Pakistan Sediakan APD untuk Tim Medis

 

Ia menjelaskan, ketika para wanita menjahit, sebuah tim lain pun bertugas memotong dan menyortir masker yang ditempatkan dalam ember. Sedangkan ada kelompok wanita lain yang melipat dan mengatur lembaran materi cetak saat diproduksi.

Di ruangan lain di tempat ibadah, para lelaki yang duduk di atas sajadah membuat sarung tangan plastik dengan alat penyegelan panas yang belum sempurna. "Kami mendistribusikan produk-produk ini ke rumah sakit dan daerah yang kekurangan di Teheran dan beberapa kota lain," jelas Saidi.

Menurutnya, para sukarelawan tersebut tidak melihat alasan agama atas kontribusinya. Baginya, itu sama dengan membuat hati Imam Zaman bahagia atau nama lain untuk Mahdi, yang terakhir dari 12 imam suci yang dihormati oleh Islam Syiah di Iran.

Kelompok yang terdiri dari sekitar 40 wanita ini biasanya melakukan perjalanan setiap tahun ke medan perang perang 1980-1988 yang dikunjungi kaum muda selama liburan Tahun Baru Persia sebagai bagian dari pendidikan mereka.

Namun saat ini, adalah tugas yang mereka lihat sebagai peran mereka dalam upaya nasional untuk memerangi pandemi COVID-19, yang telah merenggut lebih dari 3.700 nyawa di Iran.

Merujuk pada langkah-langkah hukuman yang telah diterapkan kembali oleh AS terhadap Iran sejak menarik diri dari perjanjian nuklir pada 2018, Presiden Hassan Rouhani mengatakan hal itu semakin menyulitkan keadaan. "Situasi kita dua kali lebih sulit karena kita menghadapi sanksi dan virus corona," ujarnya. (mga/DailyMail)

 

Baca juga:

Bantu Pemerintah Perangi Corona, Pengusaha Muslim India Ini Gelontorkan Dana 2,4 T


Back to Top