Ilmuwan: Pandemi COVID-19 Jadi Momentum Negara Islam untuk Kembangkan Farmasi Halal

gomuslim.co.id – Seorang Peneliti INHART, International Islamic University Malaysia, Prof Irwandi Jaswir mengatakan bahwa negara-negara Islam harus berbenah dan mulai serius dalam pengembangan riset. Pasalnya, mayoritas negara-negara Islam saat ini belum memprioritaskan pengembangan riset sehingga gagap ketika menghadapi kejutan wabah.

"Saat wabah menyerang, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan tidak punya persediaan masker, PCR," ujarnya dalam kesempatan kegiatan International Webinar Series KNEKS terkait industri halal, Selasa (28/4/2020) kemarin.

Jaswir mengatakan, banyak hal yang harus dilakukan oleh negara-negara Islam karena tidak punya riset dan pengembangan yang baik. Padahal peluang berkembangnya farmasi halal datang dari negara-negara Islam.

Masyarakat Muslim global sangat perlu mengganti bahan-bahan nonhalal dan itu membutuhkan riset. Jaswir menegaskan, negara Muslim perlu mengubah caranya menjalankan bisnis tidak hanya dalam digital tapi juga medikal. "Konsep holistik halal dan tayyib ini sangat butuh research and development," tegasnya.

 

Baca juga:

Langka Saat Pandemi, Perlukah Status Kehalalan Vitamin C ?

 

Salah satu contoh lainnya adalah pengembangan vaksin. Indonesia, kata dia, sudah menjadi salah satu negara terdepan yang mengembangkan vaksin halal. Indonesia juga kini sedang berupaya mengembangkan vaksin COVID-19.

Jaswir menyampaikan, pengembangan vaksin butuh setidaknya 18 bulan. Mulai dari inisiasi hingga percobaan pada manusia. Menurutnya, pengembangan vaksin tidak semudah produksi barang farmasi lainnya.

Apalagi untuk virus corona yang sangat mudah bermutasi. Bisa saja tipe COVID-19 di China berbeda dengan negara lainnya. Sehingga sangat perlu riset yang intensif. "Problemnya, kita tidak punya banyak negara Muslim yang memprioritaskan riset vaksin, kita masih bergantung impor," imbuhnya.

Menurutnya, vaksin atau farmasi adalah sektor yang paling dimaklumi. Artinya saat keadaan darurat, seorang Muslim bisa menggunakan obat atau zat non-halal. Namun negara Muslim tidak bisa terus mengandalkan darurat saja. Negara Muslim juga perlu mandiri mengembangkan farmasi halal sendiri. (mga/Rep) 

 

Baca juga:

Muslim Harus Lebih Cermat, Ada Produk Pangan Sekilas Halal


Back to Top