#PersembahanUntukSangNabi: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H

Menemukan Rasulullah

 

gomuslim.co.id- Mari membahas tentang kepribadian paling mulia, seorang utusan yang memilih menjadi Nabinya rakyat jelata, bukan Nabi yang diraja-raja. Seluruh semesta bershalawat kepadanya, menyampaikan salam kehormatan atas perjuangannya, atas mulia akhlaknya, dan diatas semuanya, atas cinta yang begitu besar yang dia berikan pada setiap ciptaan Tuhan. Ya, namanya Muhammad, anak dari Abdullah dan Aminah, dua sejoli dengan ketinggian akhlak dan kemurnian iman.  

Dialah Muhammad, yang Allah janjikan untuknya surga, tapi dia tak lega sebelum ummatnya mendapat kepastian agar tidak celaka. Dia orang yang tak punya dosa, tapi tak henti meminta ampunan dari Sang Maha Kuasa, hanya demi terjaga diri kita dari siksa neraka. Wajar kalau kita merindukan sosoknya, menginginkan sebentar saja pertemuan dengan wajah mulianya, mengharapkan darinya syafaat agar mendapat kemudahan di hari pembalasan.

Duhai Rasulullah, duhai Al-Mustafa. Betapa mulia dirimu, padahal Allah janjikan posisi sebagai pemilik setiap harta di dunia, tapi engkau pilih dudung bercengkrama bersama mereka yang tak punya. Padahal kalau mau, Jibril akan berikan kepadamu kekuasaan dari para raja, tapi engkau memilih berdiri menentang kepongahan penguasa. Ah, betapa mulia..betapa suci..betapa mempesona.

Pernahkah merasakan rindu pada Muhammad? Pada sosok yang begitu sempurna, yang para sahabat jatuh cinta pada ketampanan rupanya, namun lebih jatuh pada kemuliaan akhlak dan kedalaman ilmu yang dia miliki. Kurasa pernah, mungkin kita semua akan menjawab..”pernah”.

Lantas bagaimana, kita yang jauh ini, yang boro-boro mengikuti sunnahnya –wajib saja kita ogah-ogahan- bisa bertemu dengan Sang Baginda? Untuk mereka yang rindu, untuk mereka yang ingin bertemu, untuk mereka yang ingin berkumpul dengan kekasih sejati yang merindu sebelum mata bertatap syahdu, izinkan aku berbagi sebuah resep.

Rasulullah pernah bersabda: “temukan aku di antara orang-orang mustadh’afin di antara kalian”. Mustadh’afin dapat diterjemahkan sebagai “orang-orang lemah” atau “orang-orang tertindas”. Mereka yang berada pada posisi terzhalimi, tertekan, terhinakan, dan tak jarang dicabut kemerdekaannya oleh orang lain yang lebih berkuasa.

Di antara orang-orang lemah inilah Rasulullah meminta kita untuk menemukannya, meminta kita untuk duduk bercengkrama dan sejenak melupakan derajat yang diukir oleh harta, melupakan sekat perbedaan yang berjarak tahta. Muhammad sang utusan mulia, adalah seorang pria dengan segala kelebihan yang tak bisa orang lain memilikinya.

Dia seorang Nabi yang diberi derajat lebih tinggi dari langit, diberi akses langsung untuk mendapat ijabah dari setiap do’a. Tapi tak akan pernah kita temukan Sang Rasul di belantara harta, apalagi dikalangan penguasa yang dengan mudah mengambil hak rakyatnya.

Kalau kalian benar merasa rindu, maka duduklah bersama mereka yang tertindas, duduk dan bercengkrama dengan mereka, jadilah seperti Rasulullah Mumahammad SAW, mengangkat derajat mereka yang dihinakan masyarakat, memberi kehormatan pada mereka yang tak punya kemerdekaan. Rasakan dalam hati kedamaian, karena telah mencontoh sang suri tauladan.

Karena hanya dengan bersama mereka yang tertindas, kita bisa merasakan nikmatnya melepas rindu dengan Sang Utusan, Muhammad Shalallahu alaihi wasalam..

(foto: radarindo)

 

Penulis:

M. Ali Ghifari

Producer - Script Writer @filmmakermuslim/DAQU Movie