#HariMenanamPohonIndonesia

Menanam Pohon adalah Sedekah yang Tiada Putusnya

Kapan terakhir Anda menanam pohon?

gomuslim.co.id-  Sepenggal pertanyaan ini menjadi refleksi bagi kita sebagai makhluk yang berakal untuk kembali bertanya dari mana asal oksigen yang selama ini kita hirup? Pantaskah kita menghirup oksigen dari pohon yang tidak pernah kita tanam sendiri?

Berdasarkan keputusan presiden RI Nomor 24 Tahun 2008, telah ditetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Penetapan tersebut juga merupakan upaya melakukan kesinambungan terhadap kegiatan pencanangan Aksi Penanaman Serentak Indonesia dan Pekan Pemeliharaan Pohon di Desa Cibadak, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor tanggal 28 November 2007, yang merupakan awal dimulainya kegiatan menanam selama bulan Desember 2007 sebagai Bulan Menanam Nasional.

Hal ini dilatar belakangi oleh perubahan iklim secara global yang dampaknya adalah terganggunya sistem tata air DAS, dan ancaman terjadinya bencana alam (banjir, tanah longsor dan kekeringan) serta ketergangguan ketahanan pangan nasional.

Selamatkan Hutan Mangrove

Dalam hal ini, salah satu pohon yang menjadi ancaman terbesar adalah Mangrove. Pada hakikatnya, Mangrove adalah kumpulan tumbuhan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, habitat aslinya ada di pinggir pantai dan pulau. Namun masyarakat lokal lebih mengenalnya dengan bakau, yang merupakan salah satu spesies Mangrove Rhizopora mucronata.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat saat ini luasan ekosistem hutan Mangrove di Indonesia mencapai sekitar 3,5 juta hektar yang tersebar di 257 Kabupaten dan Kota di Indonesia sekitar. 

Namun setiap tahun, sekitar 5 atau 6 persen hutan Mangrove rusak atau hilang, baik yang disebabkan oleh konversi lahan hutan bakau, ilegal logging maupun pencemaran perluasan tambak.

Hutan Mangrove  merupakan ekosistem esensial di dunia  baik untuk perikanan serta konservasi ekosistem, terlebih hutan Mangrove yang  dapat menyerap karbondioksida 5 kalilipat  dari pada hutan daratan. Untuk itu, diperlukan upaya untuk melestarikan hutan Mangrove yang tersisa.

Namun ironisnya, hingga saat ini hutan Mangrove masih menjadi anak tiri dalam pengelolahan rencana tata ruang dan wilayah.

Artinya, hutan mangrove gampang dibongkar, dirusak, demi pembangunan yang lebih besar. Lahan Mangrove tidak menjadi prioritas dalam rencana tata ruang dan wilayah di Indonesia dan mudah dikorbankan untuk ‘kepentingan’.

Sampai saat ini total luas lahan Mangrove di Indonesia sebanyak 3,7 juta hektar lebih. Dari jumlah tersebut kondisi Mangrove yang sudah rusak sebanyak 1,085 juta hektar yang terdiri dari 325.513,402 hektar berada di kawasan hutan dan 759.531,270 hektar berada di luar kawasan hutan.

Komunitas Penggiat Mangrove KeMANGTEER JAKARTA

Bukannya untuk menyalahkan satu pihak, tapi justru menjadi refleksi diri bersama. Mengingat seberapa banyak kita menghirup oksigen dari pohon yang tidak pernah kita tanam sendiri dengan kedua tangan. Keberadaan Komunitas KeMANGTEER JAKARTA (KeSEMaT Mangrove Volunteer) di DKI Jakarta menjadi salah satu upaya konservasi penyangga hutan Mangrove yang tersisa di Jakarta.

KeMANGTEER JAKARTA berupaya melakukan perubahan sederhana dalam melestarikan hutan Mangrove. Mengembalikan sabuk hijau pesisir sebagai penyangga kehidupan biota laut yang akan memulai kehidupannya dari hutan lahan basah.

Sebagai komunitas anak muda mileniall, KeMANGTEER JAKARTA setahap demi setahap mengajak generasi muda untuk menjadikan menanam pohon sebagai gaya hidup dan liburan berfaedah di akhir pekan.

Menanam adalah bagian dari sedekah dan Islam mengajarkannya

Salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar adalah perintah Nabi Muhammad SAW untuk menyingkirkan gangguan dari jalan yang beliau jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, perintah beliau untuk menanam pohon walaupun esok hari kiamat. Disamping kita telah menjaga kehidupan manusia di sekitar kita. Bukankah satu pohon adalah jatah untuk dua orang ?

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, “Bercocok tanam termasuk fardhu kifâyah. Imam (penguasa) berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon”.

Bahkan untuk memotivasi umat beliau agar gemar menanam pohon beliau mengatakan :

“Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah dan amal jariah yang tiada putusnya”.

Bahkan pohon itu akan menjadi asset pahala baginya sesudah mati yang akan terus mengalirkan pahala baginya.

Mari Menanam Pohon

Tidak ada kata terlambat dalam memulai hal baik, dan bukan saatnya lagi saling menyalahkan satu sama lain. Tindakan yang sangat bijak adalah meneladani Hari Pohon Nasional dengan aksi nyata, cukup ikut berkontribusi dalam “Menanam Pohon” adalah langkah awal menghapus hutang oksigen kita kepada semesta dan menabung sedekah.

Selamat Meneladani Hari Pohon Nasional 28 November 2017

Kecil Menanam Dewasa Lestari !

 

-Nathasi Fadhlin, Aktivis KeMANGTEER JAKARTA