Refleksi Idul Fitri, Momen Titik Balik Perubahan Diri Jadi Lebih Baik

gomuslim.co.id – Idul Fitri adalah hari yang dinanti-nanti kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa.

Kata Ied menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan Al ‘Ied karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya.

Umat Islam kerap kali menyematkan Idul Fitri dengan aroma kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan yang dianugerahkan pada Allah setelah melalui ibadah berpuasa dan yang lainnya selama bulan Ramadhan. Maka, Idul Fitri selayaknya menjadi momen titik balik perubahan diri setelah sebulan terbina di bulan suci Ramadhan.

Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’” (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih).

Bulan Ramadhan, ibaratlah kawah candradimuka bagi seluruh umat Islam. Dimana dalam bulan tersebut seluruh umat Islam dibina dengan berbagai ibadah yang telah disyariatkan dari yang Sunnah hingga Wajib. Dikatakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Kitab Latho-if Al Ma’arif, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”

Perkataan ini dimunculkan disampaikan oleh Ibnu Rajab Al Hambali karena begitu banyaknya pengampunan di bulan Ramadhan dari amalan yang kita lakukan. Mulai dari amalan puasa, shalat malam (shalat tarawih), menghidupkan lailatul qadar, juga permohonan maaf yang kita minta pada Allah. Itulah yang menyebabkan seolah-olah kita keluar dari bulan Ramadhan seperti bayi yang baru lahir.

Satu hal yang perlu disadari, suci bak bayi yang baru lahir tak ditujukan pada orang yang tidak shalat atau shalatnya bolong-bolong di bulan Ramadhan, bukan bagi orang yang tidak puasa, bukan bagi orang yang malas shalat tarawih, bukan bagi orang yang malas menghidupkan lailatul qadar atau enggan mencari permintaan maaf atas dosa di hari-hari terakhir Ramadhan.

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang meyakini kebenaran atas segala syariat, serta dengan gembira melaksanakan segala perintahNya khususnya di bulan Ramadhan, tentulah wajib bagi kita untuk memastikan diri kita menjadi lebih baik di setiap harinya setelah ‘lulus’ dan menjadi alumnus dari pesantren Ramadhan.

Perbaikan diri dalam hal ibadah akan terpancar pula dalam aplikasi akhlak serta penerapannya di tengah lingkungan sosial seorang muslim. Maka, tradisi bermaaf-maafan antar sesama sebaiknya menjadi momen perbaikan hubluminannas sehingga memaksimalkan diri dalam kebermanfaatan bagi orang lain.

Begitupula peran kita sebagai warga negara yang baik. Mengingat tuntunan Islam di mana dianjurkannya seorang muslim untuk mentaati pemimpin namun tetap tegas dan siap mendidik pemimpin melalui kritik.

Hal-hal tersebut harapannya dapat teraplikasikan dengan baik sebagai bentuk penerapan atas didikan Allah melalui bulan Ramadhan, dengan Isdul Fitri di tanggal 1 Syawal sebagai pembukanya. Wallahu’alam bi Shawab.

 

 

Sumber:

Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan

Misykatul Masobih

Latho-if Al Ma’arif Ibnu Rajab Al Hambali

dbs


Back to Top