#HUTRI74

Refleksi Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, Yuk Merdeka dari Riba!

gomuslim.co.id – "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Begitulah salah satu kalimat dalam Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia. Kalimat tersebut menegaskan bahwa siapa pun, bangsa mana pun berhak untuk merdeka. Berdiri tegak di atas kaki sendiri. Bebas menjalani kehidupan, berdaya dalam menentukan sikap di tanah airnya.

Terlepas dari hal itu, ternyata sebagian dari saudara kita masih banyak yang belum merasakan kemerdekaan, bahkan atas dirinya sendiri. Mereka belum merdeka secara ekonomi karena terjerat dengan ‘Riba’.

Kita lihat saja, begitu banyak saudara-saudara kita yang terjebak dalam lilitan utang berbunga sampai berkali-kali lipat. Riba yang merampas kekayaan orang lain, merusak moralitas, melahirkan benih kebencian dan permusuhan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin masuk dalam lubang kemiskinan karena riba.

Definisi Riba dan Dampaknya

Secara bahasa, ‘Riba’ bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Adapun menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.

Banyak pendapat yang menjelaskan tentang riba, namun terdapat benang merah yang menjelaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.  

Dari definisi tersebut, kita dapat melihat realita kehidupan, begitu banyak praktik riba di sekeliling kita secara disadari atau tidak. Misal, pinjaman bank berbunga, bank keliling (banke), atau pinjaman online yang kini semakin marak. Semua menawarkan kemudahan pinjaman dengan bunga yang tanpa disadari sesungguhnya hal itu merusak dan menyalahi syariat.

Kenapa merusak?

Bayangkan saja, pinjaman berbunga memungkinkan si peminjam membayar pinjaman dengan mencicil. Jika pembayaran lancar, dia kena bunga. Kalau pembayaran macet, dia kena denda. Lebih parah lagi, jika pelunasan dipercepat, dia pun masih kena penalty.

Kejamnya riba bisa kita lihat dari banyaknya orang yang harus kehilangan rumah, kendaraan, atau hartanya karena riba. Rata-rata, korban riba ini terbujuk rayuan awal ketika ditawari pinjaman dari si peminjam.

Riba merupakan pendapatan yang didapat secara tidak adil. Para pengambil riba menggunakan uangnya untuk memerintahkan orang lain agar berusaha dan mengembalikannya. Misalnya 25 persen lebih tinggi dari jumlah yang dipinjamkannya.

Persoalannya, siapa yang bisa menjamin bahwa usaha yang dijalankan oleh orang itu nantinya mendapat keuntungan lebih dari 25 persen? Semua orang, apalagi yang beragama, tahu bahwa siapa pun tidak bisa memastikan apa yang terjadi besok atau lusa.

Siapa pun tahun bahwa berusaha memiliki dua kemungkinan yakni berhasil atau gagal. Dengan menetapkan riba, orang sudah memastikan bahwa usaha yang dikelola pasti, mesti, dan harus untung.

Larangan Riba dalam Islam

Halal dan haram dalam Islam sudah diatur dengan jelas, termasuk dalam hal riba. Dalam Alquran, secara jelas hukum riba adalah haram. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 275:

Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil…” (QS An-Nisaa: 29)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat, maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya”. (QS Al Baqarah:278-279).

Tiga ayat di atas sudah jelas menyebutkan bahwa riba itu haram. Siapa saja diantara umat Islam yang melakukan riba, maka ancamannya jelas, Allah dan Rasul-Nya akan memerangi para pelaku riba.   

Merdeka dari Riba

Untuk itu, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-74 ini hendaknya menjadi momentum untuk memaknai kembali merdeka dari diri sendiri. Merdeka dari riba yang menghancurkan keadilan ekonomi. Merdeka untuk tidak lagi terjerumus kepada hal yang diharamkan agama.

Caranya bisa dimulai dengan mempelajari lagi tentang riba dan segala jenisnya, meyakini dengan kuat bahwa riba itu haram. Kemudian, niatkan dari hati untuk segera meninggalkan riba. Jika masih takut karena tidak bisa melunasi hutang saat meninggalkan riba, maka yakinlah bahwa Allah pasti akan menolong.

Ingatlah selalu sabda Nabi: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik,” (HR. Ahmad 5: 363).   

Lakukan langkah-langkah praktis untuk meninggalkan riba. Ajak teman, saudara dan keluarga yang masih melakukan praktik riba untuk menjauhinya. Selanjutnya tetap bermuamalah, menjaga hubungan baik dengan sesama, praktikkan jual beli yang sesuai dengan syariat Islam. Maka dengan begitu, kita akan Merdeka dari Riba.

Wallahu’alam Bishawab

 


Back to Top