#MaulidNabiMuhammad

Meneladani Akhlak Rasulullah di Era Joker

gomuslim.co.id – Baru-baru ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan fenomena Joker. Tokoh rekaan asal Amerika ini mendadak dibicarakan banyak orang karena kisahnya yang kontroversional. Pasalnya, Joker digambarkan sebagai seseorang yang polos, lugu namun kerap mendapatkan ketidakadilan dari orang sekitar sehingga menjelma menjadi sosok jahat yang tak ragu membunuh orang lain, sehingga lahirlah quotes yang terkenal dari film ini, yakni ‘orang jahat lahir dari orang baik yang tersakiti’.

Di dunia maya, banyak sekali beredar baik meme maupun postingan atas quote tersebut yang menggambarkan perasaan sakitnya menjadi korban atas ketidakadilan yang kerap dirasakan. Namun haruskah kita semua (yang merasa sebagai orang baik) lalu turut menjelma menjadi sosok jahat setelah menerima perlakuan tidak baik?

Haruskah kita bersama-sama menjadi Joker berjamaah sebagai bentuk muaknya kita karena perlakuan-perlakuan diskriminatif?

Menariknya, Agama Islam tak hanya mengatur segala urusan kita namun juga mempersiapkan sosok teladan yang menjadi contoh terbaik di muka bumi, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW Bin Abdullah.

Dalam Imam Ibnu Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah, diceritakan seorang nabi Muhammad yang memiliki perangai baik justru banyak menerima penolakan saat memulai dakwah Islam secara terang-terangan.

 

 

Ibnu Ishaq berkata:

"Ketika itu, jika sahabat-sahabat Rasulullah Shallal-lahu Alaihi wa Salam ingin melakukan shalat, mereka pergi ke syi'b (jalan di antara dua gunung) dan merahasiakan shalatnya dari penglihatan kaumnya. Ketika Sa'ad bin Abu Waqqash bersama beberapa orang dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang shalat di salah satu syi'b, tiba-tiba beberapa orang dari kaum musyrikin muncul ke tempat mereka. Orangorang Quraisy tersebut mengecam tindakan kaum Muslimin, dan mencela apa yang mereka perbuat, hingga terjadilah perkelahian di antara mereka. Dalam perkelahian tersebut, Sa'ad bin Abu Waqqash memukul salah seorang dari orang-orang musyrikin dengan tulang rahang unta hingga terluka. Itulah darah yang pertama kali ditumpahkan dalam Islam."

Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan seperti semula. Beliau menampakkan agama Allah, dan mengajak manusia kepadanya, hingga konflik meledak antara beliau dengan orang-orang Quraisy, orang-orang menjauhkan diri dari yang lain, mendendam satu sama lain, orang-orang Quraisy menyebut-nyebut nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam pembicaraan mereka, mengancam beliau, dan mengadakan rapat untuk membahas persoalan beliau.

Penolakan itu membawa penolakan-penolakan lain, tak hanya di medan perang, secara sosial Rasulullah banyak menerima tindakan diskriminatif termasuk dari sang paman yakni Abu Lahab.

 

Kisah Nabi dan Pengemis Buta

Ada satu kisah yang sangat terkenal, di mana seseorang yang buta dan kerap menjelek-jelekan Nabi Muhammad justru masuk Islam karena akhlak Sang Nabi.

Seorang pengemis buta dan memiliki kepercayaan Yahudi selalu berpesan pada orang sekitarnya, "Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir," cecarnya.

Seandainya dia tidak buta, tentunya cepat berubah sikap dan perangai. Sebab, adalah Rasulullah Muhammad SAW yang gemar mendatanginya. Bukan untuk menghardiknya atau sekadar meminta klarifikasi atas hasutannya itu. Nabi SAW justru rajin datang kepadanya dengan menenteng makanan.

Tanpa bicara sepatah kata pun, beliau lantas duduk di sebelah pengemis Yahudi buta itu. Setelah meminta izin, Rasulullah SAW pun menyuapi orang tadi dengan penuh kasih sayang. Hal itu dilakukannya rutin, bahkan kemudian menjadi kebiasaan setiap pagi.

Seiring waktu, Allah SWT memanggil beliau. Rasulullah SAW wafat, menyisakan duka yang teramat dalam di tengah para keluarga, sahabat, dan kaum Muslimin pada umumnya.

Sementara itu, kepemimpinan umat sudah berada di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sang khalifah ini memang sudah bertekad untuk mengikuti tradisi dan kebijakan-kebijakan peninggalan Rasulullah SAW. Bahkan termasuk rutinitasnya sehari-hari.

Suatu hari, Abu Bakar berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya yang juga istri Nabi SAW itu.

"Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku tunaikan?" tanya Abu Bakar.

Aisyah pun menjawab, "Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu saja".

"Apakah itu?"

"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang sering duduk di sana," ungkap Aisyah.

Maka keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Dia pun bergegas menuju titik lokasi yang dimaksud, supaya berjumpa dengan si pengemis.

Betapa gembira Abu Bakar mendapati adanya seorang pengemis buta yang duduk di dekat sana. Setelah mengucapkan salam, Abu Bakar lalu duduk dan meminta izin kepadanya untuk menyuapinya.

Namun, di luar dugaan pengemis tadi malah murka dan membentak-bentak, "Siapakah kamu!?"

Abu Bakar menjawab, "Aku ini orang yang biasa menyuapimu."

"Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," teriak si pengemis lagi, "Jikalau benar kamu adalah dia, maka tidak susah aku mengunyah makanan di mulutku. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu dengan mulutnya sendiri. Barulah kemudian dia menyuapiku dengan itu," terang si pengemis sambil tetap meraut wajah kesal.

Abu Bakar tidak kuasa menahan deraian air matanya, "Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, Abu Bakar. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah Rasulullah Muhammad SAW."

Mendengar penjelasan Abu Bakar, pengemis tadi seketika terkejut. Dia lalu menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia."

Maka di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Demikianlah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW.



Muhammad, Tokoh Idola Umat Islam

Dari cerita-cerita tersebut, umat Islam seharusnya memahami bahwa tak ada satupun tokoh yang lebih layak diagungkan selain Baginda Nabi Muhammad. Perangainya yang baik, jujur, cerdas dan penyayang sehingga dilabeli Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah adalah harga mati yang dapat dijadikan panutan umat Islam, bukan Joker, artis korea, marvel, dan lain sebagainya.

Lalu, tak bolehkan umat Islam menyukai (ngefans,red) tokoh-tokoh atau public figure?

Menurut Direktur Ma’had Aly an Nuaimy Jakarta, DR H M Taufik Q Hulaimi MA Med,
Mengidolakan seseorang timbul karena pihak yang mengidolakan mempunyai kecenderungan yang sama dengan pihak yang diidolakan, Ia mendapatkan apa yang diinginkan dalam diri sang idola. Pecinta sepakbola mengidolakan Lionel Messi bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena keindahan permainan sepak bolanya. Maka mengidolakan figure yang baik dan tidak pernah memperlihatkan perbuatan dosa di depan umum, hukumnya adalah boleh. (nov)

 

Wallau’alam bi shawab 

 

 

Sumber:

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri, As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam, Darul Falah, 2000.

Konsultasi syariah

neliti.co

 


Back to Top