Dari Wisata Sejarah Sampai Wisata Religi, Begini Serunya Kota Semarang Walau Cuma Satu Malam

gomuslim.co.id- Malam itu pukul 20.00 waktu Indonesia bagian Stasiun Depok Baru. Waktu yang tepat untuk naik kereta arah Jakarta yang sepi dan tak berdesakkan seperti pagi atau sore di hari kerja. Saya memang sengaja mengambil jadwal kereta malam, tak lain untuk pergi keluar kota--menghabiskan akhir pekan.

Bagi para pekerja, menurut saya, jumat sore atau malam adalah waktu yang tepat untuk mengambil jadwal penerbangan atau kereta. Karena, kita akan sampai ke destinasi yang kita tuju bisa keeseokan harinya dan membuat waktu liburan kita makin lama—walau hanya Sabtu dan Minggu di luar kota.

Khusus untuk warga Jakarta yang akan berakhir pekan ke luar kota dan memilih kereta sebagai alat transportasinya, kamu harus memilih jadwal kereta yang tepat, begitu juga dengan stasiun awal keberangkaatn. Malam itu saya memilih Stasiun Pasar Senen.

Alhasil, saya harus naik kereta commuter line (KR) dari stasiun dekat rumah saya, Depok Baru. Dengan kereta tujuan Tanah Abang-Jatinegera, sebenarnya kita tak perlu turun untuk transit di stasiun tertentu sebelum ke Pasar Senen. Tapi, untuk diketahui, KRL Jabodetabek tidak singgah di stasiun Pasar Senen pada Senin-Jumat alias hanya pada akhir pekan.

Karena itu, jika tujuan dari Depok seperti saya, kamu harus turun untuk pindah jalur kereta di stasiun Gang Sentiong, baru menyebrang rel dan ikut kereta menuju satu stasiun sebelumnya, Stasiun Pasar Senen.

Sekira pukul 21.00 malam, saya sampai di stasiun tujuan. Setelah melakukan print tiket, saya menuju peron Kereta Tawang Jaya untuk tujuan Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang.

Perjalanan solo traveling ini memakan waktu kurang lebih delapan jam. Saya naik kereta Tawang Jaya tujuan stasiun Poncol Semarang pukul 06.00 pagi.

Selama di Semarang, tak banyak yang saya rencanakan untuk pergi ke banyak destinasi wisata. Sekadar melepas penat dari ibukota dan merasakan suasana kota yang baru pertama kali disinggahi membuat saya senang bepergian di akhir pekan. Tapi, kunjungan ke Semarang ini tetap menjadi prioritas saya dalam mengatur keuangan, mulai dari akomodasi sampai oleh-oleh untuk leuarga di rumah sudah saya perhitungkan.

Karena di Semarang saya mempunyai rekan sejawat alias sahabat saya, Nia Kurnia Dewi, seorang mahasiswi magister Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang menjadi tumpuan saya tinggal semalam di Semarang, yaitu di kos-kosannya.

 Bersama Nia, saya diajak berkeliling kota Semarang. Saat pertama tiba di Stasiun Poncol, saya memilih tak dijemput Nia. Karena saya ingin menikmati suasana pagi di kota ini. Kata Nia, rute angkutan umum dari stasiun menuju kosannya agak rumit, jadi saya direkomendasikannya naik ojek online.

Sepanjang jalan, saya menikmati suasana Sabtu pagi di kota yang asri ini. suasana tak sepadat di Jakarta dan kontur tanahnya yang banyak dipenuhi bukit, sehingga sepanjang jalan saya melihat rumah di atas bukit. Saya juga melewati Lawang Sewu, ikon destinasi terkenal di kota ini.

Sesampainya di kosan Nia. Saya memilih istirahat dahulu. Beruntungnya saya, Nia mempunyai motor di kota ini. Karena itu, kata dia, kemana pun saya mau pergi selama di Semarang, dia bersedia mengantarkan. What a kind friend!

Waktu itu sekira pukul 09.00 pagi, destinasi pertama yang Nia rekomendasikan saya adaah taman bunga di kota ini. lokasinya meang agak jauh, ada di desa atas bukit. Dengan berkendara motor, kami menempuh sekira satu jam perjalanan.

Taman Bunga di Semarang

Di sekitar wilayah Semarang, tepat di Desa Bandungan terkenal sebagai wilayah yang sejuk dan asri. Berada di kaki gunung Ungaran, Bandungan saat ini menjadi tempat favorit warga kota Semarang untuk ngadem sebentar dari teriknya Semarang Kota. Salah satu destinasi di desa ini yang wajib dikunjungi adalah Setiya Aji Flower Farm.

Taman bunga ini terkenal dengan bunga krisannya yang indah. Pemandangannya menjadi sagat apik untuk foto di media sosial. tapi, ingat, jangan sampai kita merusaknya dengan menginjak dan mengotori tempat yang indah ini. Untuk berkeliling taman bunga, pengunjung cukup membayar tiket seharga Rp 7.500.

Karena jarak yang lumayan jauh (menurut saya), malam minggu di Semarang kami putuskan untuk istirahat saja di kosan Nia. Apalagi saya sempat mengalami masuk angin saat pulang dari taman bunga tersebut. Di perjalanan pulang, cuaca Semarang begitu ekstrim. Kami kehujanan dan sempat menepi sebentar. Alhamdulillah, Nia membawa dua jas hujan di jok motornya. Ketika hujan sedikit reda, kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Tapi, di sekira lima belas menit perjalanan udara Semarang kembali terang dan cukup terik di daerah ini. Alhasil, badan saya drop saat sampai di kosan Nia. Sejak sampai di Semarang pagi tadi saya belum sempat merebahkan diri, malam itu saya akhirnya istirahat tidur, karena kata Nia, Minggu pagi sampai siang dia akan mengajak saya ke destinasi lain di kota ini.

Berwisata Sejarah di Klenteng Sampo Kong dan Lawang Sewu

Minggu pagi badan saya sudah lebih baik. Kereta pulang saya dari Semarang ke Jakarta terjadwal pukul 14.00. Karena itu, Nia mengajak saya keluar jalan-jalan sejak pagi. Tepat pukul 07.00 pagi kami berangkat menuju destinasi kedua saya di Semarang, yaitu Klenteng Sam Po Kong.

Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He atau Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Alqur'an".

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng- mengingat bentuknya memiliki arsitektur bangunan cina sehingga mirip sebuah kelenteng.

Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Berkunjung ke tempat ini, jangan lupa untuk berfoto dengan patung Laksamana Cheng Ho. Dia adalah seorang pelaut dan penjelajah Cina terkenal yang melakukan pelayaran jelajah samudra antara tahun 1405 hingga 1433.  Cheng Ho memang dari keluarga muslim. Ia anak dari Haji Ma Ha Zhi dan ibu dari marga Oen (Wen) di Desa He Tay, Kabupaten Kun Yang.

Cheng Ho merupakan salah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan yang baik kepada Kaisar Cina Yongle yang berkuasa dari tahun 1403 hingga 1424 yang merupakan kaisar ketiga dari dinasti Ming. Dalam semua ekpedisi pelayaran dunia, tak bisa melepaskan sebuah nama bernama Cheng Ho. Namanya bisa disandingkan dengan Bartolemeus Dias, Marco Polo, Vasco da Gama, Christopher Colombus,dan lainnya.  Nama-nama pelaut bangsa Eropa yang sudah tersohor. Namun para petualang laut itu masih sangat kecil bila dibandingkan dengan nama Laksamana Muslim Cheng Ho. Sejarah juga mencatat bahwa kapal laut Cheng Ho 7 kali lebih besar dari kapal yang digunakan Culombus, si penemu benua Amerika.

Setelah selesai berfoto-foto di Sampoo Kong, kami menuju Lawang Sewu. Di tempat ini, saya sudah mengatur janji dengan seorang teman lagi, orang Semarang asli, namanya Ka Lestari. Minggu pagi itu ternyata sedang ada agenda nasional, yaitu lomba debat Bahasa Inggris, sehingg bagi pengunjung biasa seperti kami hal ini membuat Lawang Sewu jadi begitu ramai. Tapi, kami masih sempat berkeliling dan berfoto di spot-spot apik Lawang Sewu.

Lawang Sewu atau dalam bahasa Indonesia berarti seribu pintu adalah gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober sampai 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Wisata Kuliner Makanan Khas Kota The Port of Java

Pulang dari Lawang Sewu, Nia mengajakku berwisata kuliner di alun-alun ota Semarang, yaitu makanan khas Semarang. Yap, tahu gimbal. Makanan ini mirip gado-gado di Jakarta. Yang membuatkan berbeda adalah toping bakwan udang dan tahu dengan bumbu kacang yang lain dari gado-gado biasa. Mantab di lidah dan pas untuk menu sarapan di hari terakhir saya di Semarang.

Tahu gimbal adalah makanan khas Kota Semarang. Makanan ini terdiri dari tahu goreng, rajangan kol mentah, lontong, taoge, telur, dan gimbal dan dicampur dengan bumbu kacang yang khas karena menggunakan petis udang.

Wisata Religi ke Masjid Agung Jawa Tengah

Selesai sarapan tahu gimbal, kami kembali ke kosan Nia untuk berkemas barang-barangku. Tak lama di kosan, kami berangkat lagi sekira pukul 11.00 untuk menyocokan waktu sholat Dzuhur. Permintaan saya kepada Nia adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Saya ingin sholat di masjid ini. Alhamdulillah terlaksana. Saya kagum dengan arsiterturnya. MAJT punya pesona tersendiri untuk menarik pengunjung datang setiap harinya. Tapi, sayang payung raksasanya tidak dibuka pada siang hari.

Perpaduan gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani (Romawi) begitu melekat pada bangunan Masjid ini. Atap Masjid dan dasar tiang dibuat penuh dengan motif batik menunjukan ciri khas Jawa. Sementara, di bagian dinding terlihat sentuhan kaligrafi dan kubah besar yang dikelilingi 4 menara yang menunjukkan sentuhan khas Timur Tengah.

MAJT ini sekias mirip dengan Masjid Nabawi yang ada di kota Madinah, Arab Saudi. Tandanya, ada enam payung elektronik otomatis berukuran raksasa yang memang terinspirasi dari payung di Masjid Nabawi. Jumlah payungnya yang ada 6. Ini menjadi simbol rukun iman dalam ajaran agama Islam

Payung elektrik dibuka setiap salat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid. Bila payung dibuka, maka kapasitas masjid bisa jauh lebih besar hingga mampu menampung 10.000 jamaah.

(Baca juga: Masjid Agung Semarang Jawa Tengah, Kemegahan Perpaduan Arsitektur Tiga Budaya)

Selepas sholat Dzuhur, Nia mengantar saya menuju pusat oleh-oleh kota Semarang di kawasan pusat kota. Tempat ini menjual banyak varian oleh-oleh, khususnya makanan. Mulai dari wingko babat, lumpia, bandeng presto, dan lainnya. Saya membeli beberapa oleh-oelh untuk keluarga dan tak lupa rekan-rekan di kantor.

Akhirnya, perjalanan akhir pekan di Semarang saya sudah selesai. Saya berpamitan kepada Nia yang juga mengantar saya ke stasiun Poncol untuk naik kereta Tawang Jaya menuju stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Demikian cerita perjalanan saya yang berlangsung akhir tahun 2016 lalu ini. Semoga bisa jadi referensi kamu untuk menghabiskan akhir pekan yang tanpa ribet, karena Senin pagi harus berangkat lagi menjalani rutinitas. Semarang menjadi pilihan kota yang nyaman untuk disinggahi.

Jika kalian tak punya kenalan atau warga asli yang bisa merekomendasikan akomodasi murah di kota tujuan wisata, untuk liburan low budget, saya sarankan untuk menggunakkan aplikasi untuk backpacker, seperti Airn BnB atau berburu promo hotel murah. Oke, good luck for work hard and play hard! :)) 

-Ig: @fauziahmuslimah, journalist-blogger-Muslimah Backpacker.