Dari Teluk Penyu Hingga Nusa Kambangan, Begini Cerita Perjalanan Wisata Bahari ke Cilacap

gomuslim.co.id- Berwisata ke Jawa Tengah tak melulu dengan Yogyakarta, Malang, atau Surabaya. Di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah ada Kota Cilacap, salah satu Kabupaten di Jawa Tengah ini menyajikan ragam wisata bahari yang eksotis.

Selain garus pantai yang luas, Cilacap juga memiliki pulau yang terkenal yakni Nusa Kambangan. Sebuah pulau yang tertutup dan terdapat lembaga pemasyarakatan Kelas I, ada beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I yang masih aktif antara lain; LP Permisan, LP Kembangkuning, LP Batu, dan LP Besi.

Bagi para pekerja, berlibur ke Cilacap bisa dilakukan selama 2 hari 1 malam. Ada cukup banyak objek wisata yang dapat dikunjungi di tengah kota, salah satunya objek wisata Pantai Teluk Penyu.

Menuju ke Cilacap

Beberapa waktu silam, saya mengunjungi Cilacap, perjalanan dilakukan dengan berkendara kereta malam kelas ekonomi, Serayu jurusan Senen - Kroya. Tiketnya cukup murah sekitar Rp 67.000, namun perjalanan membutuhkan waktu sekitar 10 jam.

Jika ingin lebih cepat sampai Anda bisa naik kereta kelas eksekutif, Purwojaya, Taksaka, atau Argo Dwipangga dari Stasiun Gambir menuju stasiun Purwokerto. Harga tiket berkisar 300 ribuan, hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 5 jam perjalanan.

Bagi wisatawan Muslim beribadah sholat di tengah perjalanan kereta terkadang tidak nyaman. Namun jangan khawatir, saat ini di setiap stasiun sudah di fasilitasi dengan mushola sehingga penumpang kereta bisa beribadah dengan nyaman.

Salah satu stasiun terdekat untuk mencapai Cilacap adalah Stasiun Kroya. Stasiun ini menjadi salah satu stasiun terbesar di wilayah Kabupaten Cilacap. Saat itu saya turun di Stasiun Kroya dan melanjutkan perjalanan lagi ke Kota Cilacap dengan mini bus jurusan Kroya – Terminal Cilacap atau Gunung Simping. Ongkosnya Rp 20.000 dengan waktu tempuh 1,5 jam perjalanan menuju pusat kota.

Sepanjang perjalanan menuju Kota Cilacap, Anda akan disuguhi pemandangan yang indah, hamparan sawah sepanjang jalan, pohon kelapa dan beberapa bukit yang terbentang Indah memberikan kesan asri dari Kroya.

Selain itu, kondisi kerukunan umat beragama di Kota Kroya terbina dengan baik, di mana para tokoh agama senantiasa menjalin silaturahmi dalam rangka meningkatkan peran serta dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

Jumlah penduduk di Kota Kroya menurut agama yang dianut, terdiri dari; Islam: 136.663 jiwa, Katholik: 617 jiwa, Protestan: 1913 jiwa, Hindu: 56 jiwa, Budha: 418 jiwa. Dengan luas wilayah 58 KM2, dan jumlah penduduk 139.667 jiwa (2013), kepadatan penduduk di kota kroya mencapai 2.019 jiwa /KM2.

Sedangkan jumlah tempat peribadatan adalah; Masjid: 144 buah, Mushola/langgar: 262 buah, Gereja katholik: 12 buah, Gereja protestan: 23 buah, Vihara: 7 buah. Penduduk di Kroya hidup berdampingan selaras dengan kepercayaan dan budaya.

Di Kroya Anda masih bisa menemukan becak sebagai transportasi dan para pesepeda yang lalu lalang di sudut jalan.

Setelah tiba di terminal Cilacap, untuk menuju pusat kota, Anda perlu melanjutkan dengan menumpang angkutan umum (mikrolet) dari terminal cilacap jurusan Kedamalang. Angkutan umum ini akan melewati alun-alun dan mengarah ke ikon objek wisata Cilacap yang terkenal, Teluk Penyu.

 

 

Bermalam di Cilacap, Hotel Halal Jadi Pilihan

Ingin bermalam di Cilacap? jangan khawatir karena Cilacap sudah menyediakan banyak alternatif pilihan hotel.  Bagi wisatawan Muslim hotel halal sangat mudah ditemui. Bahkan, rata-rata hotel di Cilacap menerapkan aturan tidak memperbolehkan bermalam dengan pasangan yang bukan muhrim. Hal ini jelas tertulis di peraturan hotel.

Saya memilih bermalam di Hotel Teluk Penyu, yang terletak di Jl. Dr. Wahidin, tidak jauh dari pantai Teluk Penyu. Anda bisa menghabiskan waktu sore untuk menikmati sunset di dipantai Teluk Penyu. Di sana wisatawan bisa dengan mudah menemukan berbagai makanan halal dari seafood dan terdapat cukup banyak tempat makan angkringan di pinggir jalan yang menawarkan berbagai pilihanan makanan, seperti sate-satean yang halal.

Sebagai oleh-oleh, pengunjung bisa berbelanja ikan asin, udang rebon, dan berbagai olahan kerupuk ikan tersedia dengan kisaran harg yang cukup terjangkau murah.

Saat sore, saya berkunjung ke Pantai Teluk Penyu, angin pantai bersemilir memecah deburan ombak. Teluk Penyu merupakan bagian dari garis pantai selatan, sehingga ombaknya cukup kencang. Di depan gerbang masuk, ada imbauan agar wisatawan tidak berenang.

Berkeliling dengan Jukik, Nikmati Pemandangan Nusa Kambangan

Jika Anda ingin menikmati sensasi berbeda lainnya, beberapa nelayan menyediakan kapal kayu jukik untuk berkeliling pulau Nusa Kambangan yang tak jauh dari bibir pantai Teluk Penyu.

Pemandangan hamparan pepohonan hijau tinggi dan lebat menutupi pulau Nusa Kambangan, yang sebagian pulaunya boleh dikunjungi oleh wisatwan untuk sekedar singgah dan berswa foto.

Pengunjung juga dapat melihat beberapa meriam tua peninggalan Belanda, menyusuri hutan kecil di sekitaran bibir pantai.

Saya mencoba untuk sekedar berkeliling dengan kapal kayu jukik. Terjangan ombak sore membawa sensasi tersendiri. Terlihat dari kejauhan benteng Pendem dekat depo pertamina. Benteng ini menyimapan nilai sejarah. Ada pula taman, dan bekas penjara. Ketika air laut surut kita bisa masuk kedalam gua dengan dipandu pemandu. Dulu tempat ini menjadi persembunyian tentara jepang.

Saat senja tiba, pengunjung dapat menikmati keindahan rona jingga dari bibir pantai, sembari duduk-duduk di bawah pasir putih. Wisatawan  bisa mengabadikan momen keindahan langit sore Teluk Penyu.

“Dulunya di sini banyak penyu, tapi karena dulu banyak yang ngambilin jadinya penyunya punah,” ujar salah seorang nelayan.

Wisata Cilacap kaya akan berbagai objek wisata pantai, selain teluk penyu ada pula kampung laut, hutan air payau, dan beberapa pantai lainnya. (nat)