Cerita Traveling ke Pontianak: Menelusuri Sejarah Islam di Kota Galaherang Hingga Mencicipi Kudapan Lezat Khas Melayu

gomuslim.co.id- Sebuah pepatah tua mengatakan “Kalau sudah minum air Sungai Kapuas,  maka kau akan kembali lagi ke Kalimantan”.

Salah seorang kawan dari Mempawah mengatakan hal itu kepada saya saat akan pulang ke Jakarta, setelah enam hari berlibur di Pontianak. Saya hanya bisa mengamini dan membuktikannya.

Pada akhir bulan Agustus 2018 ini saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pontianak, Kalimantan Barat. Perjalanan udara menempuh 1 jam 30 menit untuk sampai tiba di Bandara Supadio, Pontianak. Saat itu saya mengambil penerbangan sore pukul 17.30 wib. Namun, sepanjang perjalanan saya tidak bisa menikmati pemandangan karena hari sudah gelap.

Saya tiba di Bandara Supadio pukul 19.30 wib. Sesampainya di bandara tiba-tiba asap menyergap. Sudah seminggu Kota Pontianak diselimuti asap kebakaran lahan lambut yang sengaja dibakar untuk membuka lahan baru dalam bercocok tanam. Bahkan, selama dua hari terakhir anak sekolah diliburkan  karena khawatir terserang ISPA.

Tujuan pertama adalah Mempawah atau yang dikenal dengan sebutan Kota ‘Galaherang’. Sebuah kabupaten hasil pemekaran Pontianak yang terletak di sisi barat dan berdekatan dengan Laut Natuna. Butuh waktu dua hingga tiga jam perjalanan berkendara mobil dari Kota Pontianak. Perjalanan ke Mempawah melewati beberapa kabupaten dan sungai. Pulau Kalimantan memang dikenal banyaknya aliran sungai. sehingga beberapa kabupaten terhubung dengan dengan  jembatan, orang Pontianak menyebutnya tol.

Suasana Mempawah tidak seramai kota pada umumnya. Tak banyak aktifitas saat sore menjelang malam. Kebanyakan masyarakat setempat berprofesi sebagai Pegawai Negara Sipil (PNS) maka seringkali Mempawah disebut sebagai kotanya PNS. Tapi tak jarang penduduk setempat ada yang berprofesi sebagai petani, dan pedagang. Menariknya, Mempawah terletak tidak jauh dengan pesisir, sehingga banyak pula yang bekerja sebagai nelayan.

Mempawah Mangrove Park

Bicara soal pesisir, di Desa Pasir, Mempawah, ada ekowisata mangrove yang menjadi ikon kota ini. Orang mengenalnya dengan Mempawah Mangrove Park (MMP). Saat saya berkunjung, di tempat itu sedang ada MMP Festival 2018. Perhelatan hari jadi MMP yang ke-2 tahun. Suasana meriah karena dihadiri oleh peserta Summercamp dari perwakilan mahasiswa 4 negara (Taiwan, Malaysia, Brunei, dan China) yang diselenggarakan oleh Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

MMP Festival 2018 berlangsung selama 4 hari 3 malam yang juga disemarakan dengan berbagai atraksi perlombaan rakyat seperti panjat pinang dan tepuk bantal. Ada pula Forum Group Discussion (FGD) yang melibakan tokoh aktivis dan komunitas lingkungan membicarakan isu lingkungan dan perjuangan masing-masing tokoh dalam membentuk Ekowisata di daerahnya.

MMP memiliki jalur trekking mangrove yang ikonik, masyarakat menyebutnya dengan jembatan pelangi karena dicat warna-warni. Ada pula ikon-ikon lainnya seperti spot foto instagramable berbentuk matahari, kupu-kupu, dan menara pandang yang menjadi ciri khas ekowisata mangrove.

Fasilitas di ekowisata juga cukup lengkap, tersedia toilet, kantin, taman baca/perpustakaan, tempat bermain anak, dan pendopo. Karena itu, MMP menjadi objek wisata andalan di Mempawah. Bahkan, tiap akhir pekan MMP ramai dikunjungi oleh ratusan wisatawan. Harga tiket masuk Rp 5.000/orang.

Istana Amantubillah

Tak jauh dari objek wisata Mempawah Mangrove Park, saya berkunjung ke Istana Amantubillah yang artinya “Aku beriman kepada Allah”, terletak di samping jembatan gantung sungai Mempawah yang terkenal di Desa Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur. Istana Melayu Islam ini memiliki arti dikenal dengan kepemimpinan Opu Daeng Menambun dari kerajaan Matan.

Arsitektur bangunan di Istana Amantubillah kental dengan kerajaan Melayu kuno, berbentuk rumah panggung yang memanjang yang berbahan dasar kayu Belian. Di dalam ruangan terdapat berbagai benda-benda peninggalan sang raja. Nuansa kuning hijau mendominasi ornamen sebagai lambang kejayaan. Uniknya, Istana Amantubillah memiliki dua meriam yang konon katanya melahirkan satu meriam kecil, ada pula panji-panji peninggalan raja dan keramik tua.

Sementara, tak jauh dari istana, ada masjid bersejarah bernama Masjid Jami’atul Khair. Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tertua di Mempawah yang dibangun pada 1906 oleh Panembahan Menpawah Panembahan Mohammad Atufik Akamaddin. Arsitektur di atas kubah masjid  berbentuk tempayan kendi karena merupakan amanah dari sang raja. Masjid ini menjadi saksi perkembangan Islam di Mempawah.

Tugu Khatulistiwa, Istana Kadriah, Masjid Mujahidin dan Museum Kalimantan Barat

Berkunjung ke Kalimantan Barat tidak lengkap kalau belum ke tugu khatulistiwa, saat di Pontianak saya berkunjung ke tugu khatulistiwa yang merupakan simbol ikonik Pulau Kalimantan yang menadakan Indonesia terletak di garis khatulistiwa.

Tugu khatulistiwa memiliki peristiwa titik kulminasi Matahari yang terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September setiap tahunnya yang dikenal dengan Estical, fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.

Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan.

Istana Islam Kadriah 

Tidak jauh dari tugu khatulistiwa ada kerajaan Islam bernama Istana Kadriah. Pendirian Istana Kadriah dilakukan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, keturunan Rasulullah dari Imam Ali ar-Ridha yang dibangun pada 1771 M. Terletak tepat di persimpangan sungai, yakni Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas. 

Syarif Abdurrahman Alkadrie melakukan penyebaran Islam di Pontianak. Sama seperti Istana Amantubillah, Istana Kadriah didominasi arsitektur melayu kuno yang kental dengan warna kuning. Berbentuk rumah pangung dengan pondasi kayu berlian.

Salah satu yang menarik dari istana kadriah adanya cermin seribu bayangan yang jika kita bercermin di depan maka banyangan kita akan nampak berjumlah ratusan ke belakang. Ada pula masjid tertua bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak yang tidak jauh dengan Istana Kadriah.

Berrsitektur melayu kuno, masjid ini masih mempertahankan arsitektur dan pondasi alami tapa ada perombakan, sehingga masuk ke dalam cagar budaya.

Di sekitar masjid terdapat pemukiman warga yang masih memiliki keturunan dengan Sultan Alkadrie, mereka diberi gelar sebagai syarif dan syarifah yang menandakan bahwa mereka masih keturuna sultan.

Masjid Raya Mujahidin Kalbar

Setelah menyusuri kerajaan melayu Islam, saya berkunjung ke masjid terbesar di Kota Pontianak, yaitu Masjid Raya Mujahidin yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Masjid ini merupakan landmark Islami di Kota Pontianak.

Bangunan masjid merupakan hasil renovasi pada tahun 2015, terlihat megah dan bernuansa Arab dengan sentuhan arsitektur Masjid Nabawai. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik seperti aula serbaguna untuk pertemuan atau pernikahan.

Tidak jauh dari masjid saya berkunjung ke Museum Kalimantan Barat. Tempat ini menyimpan  informasi yang berkaitan dengan sejarah peradaban Suku Melayu dan Dayak yang menjadi suku asli masyarakat di Kalimantan Barat. Terdapat berbagai informasi seputar budaya lokal, kerajinan tenun, dan benda bersejarah lainnya. Harga tiket masuk Rp 6.000, buka mulai hari Selasa sampai Kamis mulai pukul 08.00-16.00. Sementara pada Jumat hingga Minggu, tutup lebih cepat satu jam. Museum ini libur setiap Senin dan pada saat libur nasional.

Kuliner Khas Pontianak

Setelah puas mengunjungi tempat besejarah, tak lengkap rasanya jika belum menikmati kuliner khas pontianak. Di Jalan Tamar No. 3 ada tempat makan bernama Gleam Cafe yang menyajikan menu makanan dan camilan khas Pontianak. Saya mencicipi Chaikue, khas kue tradisional Pontianak. Chaikue memiliki isian rebung, kacang hijau, dan tongcai. Dinikmati dengan cocolan saus yang rasanya asam tapi segar, untuk satu porsi bersisi 10 dibandrol dengan harga Rp 11.000. Ada juga Kue Hebi yang terbuat dari tepung beras ditaburi abon yang gurih, untuk 1 kue seharga Rp 5.000.

Sedangkan menu utama yang khas ada Ikan Nila Asam Pedas, dilengkapi dengan nanas, kuahnya lebih kental dibanding pindang pada umumnya. Udang gala telur asin juga menjadi andalan di cafe ini. Rasanya gurih dan crispy, satu porsi isi 5 ekor udang dihargai Rp 40.000.

Kedai Kopi Aming dan Oleh-Oleh Pontianak

Kaum laki-laki di Pontianak sangat menyukai kopi. Maka tak heran hampir sebagian warung kopi di Pontianak tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi jika malam, Anda harus datang lebih sore untuk dapat menikmati Kopi Aming malam hari yang terkenal.

Warung Kopi Amning terletak di Jalan Ketapang yang selalu dipenuhi oleh para pecinta kopi. Kopi Aming memiliki ciri khas biji kopi robusta yang nikmat hasil racikan sang pemilik, Limin Wong atau yang akran disapa Aming. Sebagai oleh-oleh anda bisa membeli bubu kopi yang dijual dengan berbagai ukuran. Untuk ukuran 200 gr dibandrol Rp 14.000. Buka pukul 06.00 hingga 23.00.

Tak hanya oleh-oleh Kopi Aming yang khas. Pontianak juga dikenal dengan Kue Bingke Fajar yang gurih dan lezat, kerupuk amplang, kerupuk kuku macan, olahan lidah buaya dan souvenir syal kain motif Melayu dan dayak yang dapat ditemui di Pusat Oleh-Oleh Pontianak (PSP) di Jalan Patimura No. 58, buka mulai pukul 09.00 hingga 20.00.

Mari berkunjung ke Pontianak, menelusuri jejak sejarah Islam Melayu dan mencicipi kuliner khasnya yang enak bercitarasa Melayu. Tunggu cerita perjalanan saya selanjutnya di Jelajah Nusantara. (nat)

 

 

 

 

 


Back to Top