Solo Traveling Ke Surakarta: dari Nyawang Laweyan Hingga Mampir ke Monumen Pers Nasional

gomuslim.co.id – Sahabat gomuslim, masih ada yang tak tau kalau nama resmi Kota Solo adalah Surakarta? Okey, kalau sudah tau, bagaimana dengan Kota Sala? Pernah dengar?

Saya akan sedikit jelaskan sekaligus ceritakan perjalanan singkat saya berkunjung ke Kota Solo, eh Surakarta untuk kedua kalinya setelah sebelumnya di tahun 2014.

Singkat cerita, keperluan keluarga membuat saya harus pergi ke Ngawi, sebuah kabupaten di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keperluan singkat, tentunya tak saya siakan begitu saja. Hingga saya pilih Surakarta untuk saya hampiri sepulang dari Ngawi. Lalu tibalah saya di Surakarta, dengan merasa sedikit beruntung karena disambut gerimis tipis, suasana yang cocok untuk segera makan malam dan beristirahat.

Sifat saya yang cenderung tidak sabar, membuat saya tidak sabar pula untuk segera ingin tau ketika melihat sekilas tulisan Kota Sala di Taman Sriwedari Surakarta. Dengan tidak ingin beranalisa asal, saya cari tau kisah sejarah yang mungkin ada di balik sebutan Solo bagi Kota Surakarta ini.

Nama resmi keratonan ini adalah Surakarta, pemberian Sunan Pakubuwana II atas pemerintahan yang baru. Namun sebelumnya, keraton yang ditempati sebagai pusat kerajaan bernama Desa Sala dan Ki Gede Sala atau Kiai Sala sebagai pemilik tanah.

 

 

Penyebutan Sala yang memang sudah populer di kalangan menengah kemudian menjadi Solo, banyak sumber mengatakan karena ejaan yang sulit bagi orang Eropa ketika menyebut Sala, sehingga menjadi Solo. Nama Solo kemudian semakin akrab di telinga saat Keraton Kasunan Surakarta berdiri di tahun 1745 dan mencatat sejarah Sala.


Wisata Heritage di Kampung Batik Laweyan

Saya sangat tertarik dengan tema Festival Laweyan 2018, yang bannernya masih terpampang di depan pertokoan batik, yakni Nyawang Laweyan. Nyawang merupakan kata yang berasal dari Bahasa Jawa, asal kata sawang berarti pandang, dalam kata kerja nyawang berarti memandang. Sementara Laweyan adalah nama kampung, sehingga Nyawang Laweyan berarti Memandang Laweyan. Saya akui, sangat romantis.

Sebagaimana yang saya lakukan saat tiba di Kampung Batik Laweyan, membuat saya mengerti ternyata saya tidak hanya berkunjung, swafoto, belanja batik, tapi lebih dari itu, yakni Memandang (nyawang, red) melihat lebih dalam, lamat-lamat sehingga tidak mudah melupakan.

 

 

Bagaimana tidak, suasananya tetap asri dan terasa ramah meski perumahan penduduk bercampur dengan home industri pembuatan batik Solo dan pertokoan. Kampung Laweyan memang dikenal sebagai tempat untuk melihat proses pembuatan hingga belanja batik Solo. Disamping itu, Kampung Laweyan juga menawarkan sisi klasik Solo di masa lalu.

Rumah-rumah lawas dengan pintu lebar belah dua, rumah makan dengan yang lebih mirip rumah sungguhan dengan menu-menu khas Jawa Tengah seperti Garang Asem dan Tengkleng juga Mbok Jamu yang berkeliling menambah kesan yang mendalam.

Selain itu, di Kampung Laweyan terdapat beberapa tempat bersejarah. Salah satunya adalah Langgar Merdeka, yaitu tempat ibadah umat islam di Kampung Laweyan yang bahkan sekarang dijadikan Cagar Budaya yang wajib dilindungi karena bangunannya memiliki nilai histori tinggi. Kini, Langgar Merdeka menjadi pusat kegiaran syiar Islam, yang diharapkan memberi warna religi di Kampung Laweyan.

Satu lagi yang paling menarik, dan tentu menjadi bagian dari tujuan pastinya adalah spot foto yang instagramable. Tak sulit mencari sudut asik, beberapa titik kampung sepertinya memang sudah disiapkan bagi para pengunjung untuk mengambil gambar sebagai kenang-kenangan.

 

 

Oh ya, di akhir perjalanan di kampung ini saya bertemu dengan mahasiswa Seni Rupa ISI Surakarta yang tengah melukis Kampung Laweyan dari sebuah sudut. Ya, Kampung Laweyan memang sungguh menarik untuk di-sawang.


Saatnya Wisata Edukasi di Monumen Pers Nasional!

Saya rasa, sahabat gomuslim perlu memasukkan Monumen Pers Nasional dalam wishlist kunjungan ketika datang ke Solo. FYI, tempat ini membuat saya tersenyum bahkan sebelum masuk ke dalam. Iya, pemandangan menyenangkan sudah saya lihat dari kejauhan. Di depan Monumen Nasional terdapat majalah dinding dengan design lemari kaca. Mading persembahan dari Dinas Kominfo setempat ini menampilkan koran daerah kota Solo yang terus di-update setiap harinya.

Dan yang saya katakan mampu membuat tersenyum sejak dari kejauhan adalah, melihat animo masyarakat untuk terus mengupdate berita dan wawasan sosial dengan membaca koran yang telah difasilitasi pemerintah. Saya melihat, beberapa orang yang lewat sengaja berhenti dan memarkir kendaraannya untuk berdiri membaca koran.

Tak luput driver ojek online, anak sekolah, laki-laki dan perempuan, yang artinya tidak melihat kalangan atau suatu golongan tertentu. Terasa heterogen dan menyeluruh, membuat saya berpikir bahwa Indonesia masih harus optimis terkait dengan minat baca masyarakatnya.

 

 

Monumen Pers Nasional diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1978. Di dalamnya terdapat ruangan luas, yang dipakai untuk berbagai macam kegiatan akan digelar, seperti diskusi public, seminar, teater, dan lain sebagainya.

Di bagian kanan dan kiri dari pintu masuk, terdapat pula patung dari sebelas tokoh penting perintis pers di Indonesia, berserta keterangan biografi dan kiprahnya di bidang jurnalistik. Membuat saya secara pribadi semakin percaya bahwa karya yang baik adalah sebuah amal jariyah yang tak pernah putus. Monumen menjadi bagian yang mengabadikan, meski banyak pula karya yang tak terabadikan namun sama-sama bermakna dan bermanfaat.

Sahabat gomuslim akan melihat surat kabar dari berbagai daerah di Indonesia dari tahun ke tahun. Baik sejak masih dalam masa penjajahan Belanda maupun ketika sudah merdeka hingga tahun 2019 tersimpan apik dan rapi dalam lemari penyimpanan.

 

 

Berkaitan dengan pers, menjadi penting pula tentunya mengetahui diaroma perkembangan pers di Indonesia yang terdiri dari 6 fase. Diceritakan dalam visualisasi patung di sebuah aquarium kaca sehingga pengunjung bebas melihat dan mengambil gambar yang tentunya menambah khazanah pengetahuan sejarah pers Indonesia.

Gedung Monumen Pers Nasional terbagi menjadi dua bagian, di bagian yang lain yakni bagian kiri disimpan pula berbagai media elektronik dari zaman ke zaman. Baik Radio, mesin ketik, televise, alat pemancar, kamera, telephone, hingga microfilm.

Beberapa Benda Pers bersejarah seperti Baju Wartawan Perang milik Hendro seorang wartawan perang senior serta Peralatan terjun Payung milik Wartawan TVRI Trisno Yuwono juga tertata rapih. Benda-benda yang tersaji adalah hasil kegiatan survey Benda Pers yang dilaksanakan sejak tahun 2010 dari hampir 34 propinsi di Indonesia.

Saya yang tak ingin berhenti menjelajah nyaris menyerah karena waktu, namun akhirnya terus memaksa tak segera pulang setelah sadar ternyata tempat ini tak hanya monumen dengan benda sejarah, namun juga memiliki perpustakaan dan ruang e-paper di lantai dua.

Perpustakaan Monumen Pers Nasional ini memiliki konsep modern dengan design lemari serta tata letaknya yang tak membosankan. Dengan berbagai bentuk kursi yang disediakan saya pikir pengunjung sepakat dengan saya untuk ingin berlama-lama di perpustakaan.

Tak hanya menyajikan buku di bidang pers dan komunikasi, perpustakaan ini menyediakan buku dari berbagai disiplin ilmu, juga tersedia novel dan komik. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, dan siapapun boleh menjadi anggota.

Akhirnya, saya harus benar-benar menyerah dengan waktu. Setelah tak lupa mengabadikan segala yang saya lihat dengan kamera, saya harus segera berpamitan pada pegawai monumen pers yang dengan ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

Sahabat gomuslim yang juga ingin berkunjung tidak perlu khawatir mencocokkan hari karena Monumen Pers Nasional buka setiap hari, dengan jadwal kunjungan sebagai berikut;

Senin – Kamis                  : 08.00 WIB s/d 16.00 WIB

Jumat                              : 08.00 WIB s/d 16.30 WIB

Sabtu – Minggu                : 08.00 WIB s/d 16.00 WIB

 

Oh ya, sebelum kembali ke Jakarta tentunya saya tak lupa mencicipi kuliner khas Kota Solo dong ya, serta tak lupa pula mengunjungi pasar Triwindu Ngarsopuro yang cukup terkenal dengan barang antique, authentic, dan limited. Jangan khawatir, akan saya ceritakan dalam kisah perjalanan selanjutnya ya! Happy Traveling! (nov)

 

Baca juga:

Masjid Tertua di Kota Solo Ini Jadi Destinasi Wisata Religi Andalan


Back to Top