#gomuslimGoestoHalalTripTaiwan

Hari Keempat di Taiwan, Jelajah Desa Pelangi sampai Landmark Unik di Taipei

gomuslim.co.id – Cuaca di Kota Taichung pagi itu cukup dingin. Tetesan embun tampak menghiasi jendela Stay Hotel, tempat kami menginap malam tadi. Ku lihat ke bawah, jalanan masih sepi. Hanya lalu lalang satu dua kendaraan melewati jalanan kota. Hari ini adalah hari keempat saya dan rombongan di Taiwan.

Seperti hari sebelumnya, sejak pagi buta saya sudah mulai bersiap. Packing barang-barang sebelum bersantap dan berangkat. Sarapan pagi di lantai dasar hotel tidak terlalu ramai. Hanya ada kami, rombongan dan beberapa pengunjung hotel lainnya. Usai sarapan, kami bergegas menuju bus yang sudah siap di depan hotel.  

Berkunjung ke Rainbow Village

Tempat pertama yang kami tuju adalah Rainbow Village atau Desa Pelangi. Sesuai namanya, destinasi ini penuh dengan lukisan warna-warni di setiap bangunan. Tidak hanya itu, jalanan atau gang di sekitarnya juga dicat dengan beragam warna.

Rainbow Village dulunya merupakan komplek perumahan para mantan anggota militer. Tempat wisata yang berlokasi di Distrik Nantun, Taichung ini perlahan ditinggalkan oleh para penghuninya. Suatu hari seorang pensiunan militer bernama Huang Yung-fu mulai menggambar tembok di sekitar area tersebut hingga menarik perhatian publik.

Ketika itu, pemerintah kota berencana melakukan pembongkaran terhadap bangunan-bangunan tersebut. Namun hal tersebut urung dilakukan menyusul munculnya gerakan untuk tidak menghancurkan bangunan.

Dalam dua hari, ada lebih dari 3 ribu orang mendukung perumahan militer tetap berdiri. Pada September 2008, Huang mulai melukis mimpinya di dinding dan membawa kehidupan baru. Karena aksinya melukis, banyak orang memanggilnya Kakek Pelangi.

Tempat ini pun menarik banyak orang ketika akhir pekan tiba. Konon, dalam setahun kunjungannya bisa mencapai 1 juta orang. Akhirnya, pemerintah kota menyatakan bahwa lukisan itu layak untuk dilestarikan dan mereka akan memodifikasinya sesuai rencana kota.

Seniman yang menggambar tembok-tembok itu masih ada dan selalu duduk di dalam rumah yang dulu ditinggali. Dibantu beberapa kerabat, di rumah tersebut juga dijual suvenir yang bertema mural tembok warna-warni tersebut. Rainbow Village areanya tidak besar.

Hanya ada 11 rumah dengan ukuran kecil-kecil. Jadi pengunjung cukup ambil foto-foto saja di tempat ini. Namun, saat pengunjung ramai kita harus bersabar untuk antre berfoto ria.

Naik HSR ke Taipei

Tidak lama menjelajah area Rainbow Village, kami langsung berangkat menuju stasiun HSR di Taichung. Tujuan kedua adalah menuju kota Taipei. Dari Taichung, hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke kota Taipei dengan naik HSR.

Seperti hari pertama di Taiwan, kereta super cepat ini merupakan transportasi masal yang nyaman. Selain bersih, budaya antri dan salang menghormati di masyarakat Taiwan juga patut dicontoh oleh kita.   

Makan Siang di Hui Guan Restaurant

Hui Guan Restaurant berlokasi di Bade Road, Distrik Songshan, Kota Taipei. Pemilik restoran di sini muslim keturunan Uighur. Beragam sajian masakan khas dari Ningxia, Tiongkok ini begitu lezat di lidah.

Dari luar, restoran ini seperti restoran biasa pada umumnya. Plang depan berlogo halal terlihat jelas dari sisi jalan. Masuk ke dalam, restoran dipenuhi banyak karya seni dekoratif Islami seperti kaligrafi, gambar masjid sampai petunjuk kiblat.

Sang pemilik restoran, Li Hai Rung mengatakan dirinya membuka restoran halal ini pada tahun 2005. Alasan utamanya membuka restoran halal karena dirinya ingin memberi kemudahan bagi wisatawan muslim yang ingin mencicipi masakan halal.

Di restoran ini, ada beberapa menu andalan diantaranya sup makanan laut, daging cincang goreng campur roti pita, ikan goreng gulung curd kacang, daging rebus domba khas Ningxia, kaki ayam cabai saus lada Sichuan, daging sapi rebus dengan tomat & kentang, ayam rebus dengan terong, dan tumis telur cabai.

Di sini memang tidak tersedia mushala, tapi pemilik restoran menyediakan sajadah jika pengunjung ingin menunaikan ibadah shalat.

Berkunjung ke Chiang Kai-shek Memorial Hall

Usai bersantap siang, kami kembali menyusuri jalanan kota Taipei. Destinasi pertama yang dituju di kota ini adalah ke Chiang Kai-shek Memorial Hall. Tempat ini sengaja dibangun untuk mengenang mantan Presiden Republik Tiongkok Chiang Kai-shek yang merupakan penerus Sun Yat Sen, presiden pertama Republik China.  

Monumen ini menempati tanah seluas 250.000 m2 dan dikelilingi oleh taman yang sangat luas. Ada dua gerbang yang dapat Anda lalui untuk dapat masuk ke Chiang Kai-shek Memorial Hall. Kedua gerbang berada disisi utara (Xinyi Road) dan selatan (Ai Guo East Road).

Bangunan Chiang Kai-shek Memorial Hall dibangun sarat dengan filosofi dan nilai-nilai kebudayaan Cina. Halaman di sekitar monumen ditanami dengan bunga berwarna merah. Ada pula tanaman bunga sakura di samping monumen.

Tempat ini cocok untuk dikunjungi, apalagi jika ingin mengenal sejarah berdirinya Negara Taiwan. Selain sejuk, di sekitar monumen juga terdapat beberapa toko yang menjajakan souvenir khas Taiwan.

Puas berfoto ria di sekeliling monumen, kami sempat menyaksikan upacara pergantian prajurit penjaga. Biasanya upacara yang jadi magnet bagi para wisatawan ini dilakukan setiap pukul 10.00 dan 16.00 waktu setempat.

Di lantai bawah Chiang Kai-shek Memorial Hall terdapat museum yang menampilkan semua hal tentang Chiang Kai-shek mulai dari seragam militer, medali-medali sanpai lukisan-lukisan dan manuskrip yang ditinggalkan.

Menjajal Taipei 101

Perjalanan berlanjut menuju Taipei 101. Sebuah gedung pencakar langit yang menjadi icon kota Taipei. Konon bangunan ini dulunya merupakan gedung tertinggi di dunia sebelum dikalahkan oleh Burj Khalifa di Dubai.

Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1999 dan selesai pada tahun 2004. Terdiri dari 101 lantai, bangunan ini menjadi salah satu pusat perbelanjaan. Ada ratusan pertokoan, restauran dan klub di sana. Arsitektur 101 merupakan simbolisasi dari perpaduan antara evolusi teknologi dengan tradisi Asia.

 

Baca juga:

Hari Ketiga di Taiwan, Asiknya Melihat Bunga Sakura dan Danau Indah di Nantou

 

Kami pun sempat masuk ke dalam. Hanya tidak menaiki sampai ke lantai atas. Pengunjung sendiri hanya diperbolehkan naik sampai ke lantai 91 saja. Di atas, pengunjung bisa melihat pemandangan kota Taipei dengan sangat jelas. Menara ini memiliki lift tercepat di dunia yang memecahkan Guinness World Record dengan waktu 37 detik saja.

Di depan gedung 101, terdapat beberapa spot yang pas untuk berfoto. Kami pun mencoba keliling ke sudut yang cukup jauh agar dapat memotret menara kebanggaan masyarakat Taiwan ini.

Saat menyusuri jalanan sekitar, saya begitu kagum dengan pengelolaan kota. Jalanan bersih, trotoar yang luas, dan sejumlah pepohonan menambah suasana sejuk sore itu. Meski agak mendung, kami tetap mencari spot terbaik untuk mengambil gambar menarik.

Dinner di Restoran Halal Yunus

Hari semakin gelap. Kami bergegas berpindah tempat. Kali ini, kami makan malam di Thai Yunus Halal Restaurant. Sebuah restoran khas Thailand yang sudah lama hadir di pusat kota Taipei. Karena waktu maghrib telah tiba, saya pun menunaikan ibadah di mushala yang ada dibawah restoran ini.

Yunus Ma, pemilik restoran mengatakan sengaja menyediakan ruangan shalat karena dia sendiri adalah muslim. Mushalanya cukup luas. Muat untuk 20-30 orang kalau berjamaah. Jadi kalau makan di restoran ini bisa sekalian menumpang ibadah shalat.  

Restoran ini sendiri menyediakan beragam macam makanan. Selain khas Thailand, Yunus mengaku bisa menyajikan apa saja sesuai selera pangunung. Bahkan, beberapa pejabat Indonesia pernah mencicip masakan di restoran ini.

Beberapa menu favorit pengunjung di antaranya tim ikan, sup ikan, tom yum, telur dadar, sayur kangkung dan ayam goreng pedas. Ada juga masakan khas China, sambosa sampai prata.

Belanja Malam di Ximending

Puas menyantap hidangan di Restoran Yunus, kami pun langsung menuju lokasi terakhir di Ximending. Kebetulan hotel tempat kami menginap malam ini pun ada di sana. Usai menyimpan barang di kamar hotel, kami berpencar menjelajah surga belanja di Jantung ibukota Taiwan.  

Sebelum menelusur setiap sudut Ximending, saya bertemu dengan pembuat aplikasi Halal Taiwan. Namanya Iman Adipurnama. Asli orang Indonesia yang kini bekerja di salah satu kampus ternama di Taiwan.

Hampir satu jam lebih kami berbincang tentang Taiwan mulai dari masyarakatnya, destinasi wisatanya, makanan halal, dan tempat ibadah sampai kehidupan muslim. Lulusan ITB ini juga menceritakan alasan dirinya dan tim membuat aplikasi untuk muslim.

Selesai berbincang, tibalah saatnya untuk berburu oleh-oleh khas Taiwan. Waktu itu sudah agak larut. Sekitar jam sepuluh malam. Saya pun agak panik karena beberapa toko sudah hampir mau tutup.

  

Malam itu Ximending begitu ramai. Lalu lalang pengunjung hadir di tempat ini. Lampu-lampu menyala terang dan jalanan tak pernah sepi. Beragam toko pakaian, kuliner, kosmetik, souvenir, dan oleh-oleh makanan khas Taiwan ada di kawasan ini. Beberapa toko bahkan menawarkan diskon menarik untuk pembeli.

Disela-sela mencari toko souvenir saya melihat beberapa macam atraksi khas Taiwan perempatan jalan. Mereka yang beraksi ini kebanyakan anak-anak muda.  

Hampir dua jam keliling Ximending, waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Beberapa toko sudah tutup. Dan saya pun kembali ke hotel dengan tentengan oleh-oleh di dua tangan. Tak cukup rasanya menghabiskan waktu dua jam untuk belanja di sini. Jika orang bilang Ximending adalah surga belanja dan kuliner, sepertinya saya akan mengiyakan.

Sesampainya di hotel, saya langsung mengemas barang-barang. Karena besoknya, pagi-pagi buta harus segera chek out dari hotel. Jadwal pesawat kami terbang pukul 9 pagi waktu setempat. Sementara butuh waktu di bandara minimal 2 jam sebelum keberangkatan.

Hari-hari di Taiwan begitu mengesankan. Selain memiliki destinasi yang menawan, pulau Formosa ini semakin gencar menghadirkan fasilitas ramah muslim mulai dari restoran halal, ruang shalat sampai hotel halal.

Bagi kamu para pelancong muslim di Tanah Air, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Taiwan di masa mendatang. Karena Taiwan menyimpan banyak hal yang menakjubkan. (njs)

 

Baca juga:

Hari Kedua di Taiwan, Jelajah Taman Rekreasi EDA dan Festival Kebanggaan Formosa

 


Back to Top