Jalan-Jalan ke Bumi Seni Tarikolot Kuningan, Wisata Alam Seru di Kaki Gunung Ciremai

gomuslim.co.id - Hari masih gelap. Mentari belum menunjukkan sinarnya. Tapi pagi itu 18 anak panti asuhan Yayasan Dulur Salembur Kota Bekasi sudah bersiap. Mereka akan diajak jalan-jalan mengenal alam oleh Komunitas Wisata Panti ke ujung timur Jawa Barat. Tepatnya di Kabupaten Kuningan.

“Ayo anak-anak, kita bersiap. Mobil sudah menunggu di depan,” sahut Mas Danu, ketua Komunitas Wisata Panti mengajak anak-anak yang sudah berkumpul di depan asrama, Sabtu (24/08/2019).

Setelah diberi pengarahan, semua anak masuk mobil. Antri satu per satu. Tak lama, mobil kami melaju ke arah jalan tol yang saat itu belum begitu padat. Baru saat memasuki gerbang tol, kendaraan mulai terlihat padat.

Perjalanan kami dari Kota Bekasi ke Kabupaten Kuningan menghabiskan waktu kurang lebih 5-6 jam. Waktu yang cukup singkat. Jika jalanan lancar, mungkin hanya butuh waktu 4 jam untuk sampai. Kami melewati jalan tol Cipali. Keluar di pintu tol Cirebon, lalu menuju ke arah Kuningan.

Kemping di Bumi Seni Tarikolot

Waktu menunjukkan pukul 11.05 WIB. Kami akhirnya sampai di lokasi yang dituju. Bumi Seni Tarikolot (BST). Tepatnya ada di Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Hampir persis di bawah kaki gunung Ciremai.

Begitu sampai, kami langsung disambut hangat oleh pemilik kawasan BST, bapak Yusuf Imayudin. Kita memanggilnya ‘Kang Oeblet’. Mobil diparkir di atas, sementara kami semua jalan ke bawah. Tempat dimana kami akan melakukan kegiatan selama dua hari ini.

“Lihat anak-anak, tenda sudah siap. Malam ini kita akan kemping di sini. Sebelum itu, yuk sekarang kita makan siang bersama dulu, khas masakan desa,” kata Kang Oeblet.

Kawasan BST ini masih alami dan sangat asri. Banyak pepohonan mulai dari pohon cengkeh, pohon durian, pohon alpukat, bambu dan lainnya. Persis dibawahnya ada sungai mengalir yang airnya sangat jernih. Kata Kang Oeblet, air di sini langsung dari mata air, jadi bisa diminum langsung tanpa dimasak.

“Gimana masakannya? Enak gak?,” tanya Kang Oeblet.

“Enaaaak Kang, Sedaap,” sahut anak-anak ramai sambil melahap nasi beserta lauknya di piring masing-masing.

Di dekat sungai, Kang Oeblet membangun sebuah tempat yang nantinya akan jaid tempat belajar seni budaya. Cukup luas. Bangunan tiga tingkat dengan bentuk segi delapan itu memang belum rampung. Tetapi lantai dua sudah bisa digunakan untuk kegiatan atau pun ibadah shalat.

Selesai makan, anak-anak dengan riang menuju sungai. Mereka seperti tak sabar untuk berendam di air yang segar. Benar saja, begitu masuk ke sungai, sebagian langsung nyemplung. Sebagian lain hanya menginjakan kakinya sambil merasakan aliran air jernih. Dengan ceria mereka bermain. Tawa mereka begitu lepas menikmati suasana sungai yang alami. 

“Ayo anak-anak, yang sudah selesai mainnya, ganti baju dan kita shalat berjamaah di lantai dua bangunan ini. Wudhunya di saluran air di sana,” ajak Mas Danu sambil menunjukkan tempat wudhu.

Usai berjamaah dzuhur, acara dilanjutkan dengan sharing dan pelatihan seni budaya oleh Kang Oeblet. Anak-anak dilatih mulai dari bagaimana mengatur pernafasan, drama, dan sesekali diselingi dengan permainan (ice breaking).

 

Berkunjung ke Museum Bersejarah Linggarjati

Menjelang sore, anak-anak diajak Kang Oeblet mengunjungi salah satu museum bersejarah di Kuningan. Museum Linggarjati. Dari BST jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu 30-40 menit untuk sampai.

Gedung yang berlokasi di Kecamatan Cilimus, Kuningan ini pernah menjadi tempat berlangsungnya perundingan yang menghasilkan Perjanjian Linggarjati antara Indonesia-Belanda (11-12 November 1946). Sekarang dikenal sebagai Gedung Perundingan Linggarjati.

Gedung museum sempat mengalami beberapa perubahan fungsi dan kepemilikan. Pada masa kolonial, gedung yang memiliki gaya arsitektur kolonial ini sempat menjadi markas tentara. Selanjutnya berubah fungsi lagi menjadi Sekolah Dasar dan bahkan pernah juga menjadi hotel.

Karena pentingnya peran gedung ini dalam usaha memerdekaan bangsa Indonesia sepenuhnya, gedung kemudian diresmikan sebagai museum pada tahun 1976. Museum Linggarjati menjadi saksi akan perjuangan diplomatik yang dilakukan oleh para pendiri bangsa seperti Sutan Syahrir, Soesanto, Tirtoprodjo, Mr. Mohammad Roem, dan Dr. A. K Gani

Pengelola Museum Linggarjati menjelaskan tentang sejarah Museum kepada anak-anak panti. Mereka tampak antusias. Bahkan, beberapa diantaranya mencatat penjelasan dari pengelola ini.

Di sekeliling gedung, tampak ribuan bendera merah putih terpasang melalui bambu-bambu tertancap. Bendera-bendera tersebut untuk memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia. “Bendera-bendera itu ada berkat gagasan dari Mba Heni ini, kawan saya yang hebat,” kata Kang Oeblet seraya mengenalkan kawannya kepada anak-anak. 

Usai mengelilingi gedung, anak-anak diajak turun ke bawah. Menikmati suasana halaman Museum yang dipenuhi bendera merah putih. Sesekali Kang Oeblet mengajak anak-anak menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Membakar semangat kebangsaan generasi penerus bangsa.

Malam Api Unggun

Hari semakin petang, kami pun kembali ke BST. Bersiap untuk shalat berjamaah Maghrib di bangunan lantai dua samping sungai. Usai shalat, anak-anak diajak makan malam bersama.

“Sekarang kita makan malam bareng, setelah itu siap-siap api unggun ya,” sahut Kang Oeblet.

Seperti di alam pada umumnya, di sini kami menikmati suasana malam tanpa lampu, tanpa listrik. Untuk itulah, api unggun dibuat. Selain menghangatkan badan di tengah dinginnya malam, api unggun juga menjadi pelengkap kegiatan kemping supaya lebih berwarna.

Di sela api unggun menyala, Kang Oeblet menyampaikan pencerahan kepada adik-adik. Semua diajak mendoakan satu sama lain agar cita-cita anak panti tercapai.

“Kita baca Al Fatihah bersama. Kirim doa untuk ananda Yunus agar dimudahkan menggapai cita-citanya menjadi….. Disehatkan dan diberi keberkahan dalam setiap langkahnya. Lahu Al-Fatihah,” ucap Kang Oeblet.

Doa ini satu persatu dibacakan pada 18 anak yang mengikuti kegiatan kemping. Tidak luput, doa juga dipanjatkan untuk seluruh orang tua, ayah dan ibu, anak-anak panti yang sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Semua berdoa, semua menangis, dan semua berpelukan satu sama lain. Malam ini menjadi malam indah yang tidak akan bisa dilupakan adik-adik panti.

Pada kesempatan ini, Mas Danu juga berpesan kepada anak-anak untuk terus belajar sungguh-sungguh agar kelak mencapai cita-cita yang diinginkan. “Bersyukur dan berbahagialah kalian semua. Meski tanpa dampingan orang tua, kalian tetap punya keluarga di sini. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin dan jangan pernah lupa untuk mendoakan ayah ibu,” ucapnya.

Malam semakin larut, acara api unggun pun usai. Anak-anak masuk ke tenda masing-masing.

Main ke Air Terjun & Air Panas Cilengkrang

 

Pagi sekali, mentari begitu indah terlihat dari kejauhan. Warna oranye terpancar dari sisi timur bukit. Anak-anak sudah bersiap sejak adzan subuh berkumandang. Dingin. Tapi sungguh hari ini cuaca yang mengasikan.

Setelah sarapan pagi, anak-anak diajak ke tempat wisata air terjun dan air panas Cilengkrang. Tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu 40 menit menyusuri jalanan tanjakan dan turunan untuk sampai. Semua semangat. Tidak ada satu pun anak yang mogok di tengah jalan. Capek terbayar saat tiba di air terjun yang mempesona serta kolam air panas yang buat badan sangat nyaman.

Plung…

tanpa membuka pakaian, anak-anak langsung nyemplung ke kolam air panas yang tersedia tepat sebelum air terjun. Kata Kang Oeblet, berendam di air panas ini baik untuk tubuh dan menyehatkan.

Puas berendam air panas, sebagian anak-anak mendekat air terjun. Mereka membasuh badan sepuasnya dibawah cucuran air yang begitu kencang. Asik. Anak-anak pun riang gembira. Tidak sia-sia berjalan menyusuri jalanan terjal.

Tidak terasa, waktu sudah hampir siang. Waktunya kembali kembali ke BST. “Sudah cukup berendam atau main di air terjunnya anak-anak? Kalau sudah yuk kita kembali lagi ke tenda,” ajak Kang Oeblet.

Kami pun kembali menyusuri jalanan awal. Di tengah jalan, semua mencicip jajanan warung yang tersedia. Ada gorengan, surabi, kerupuk, minuman, dan makanan sederhana lainnya. Semua terasa lezat setelah menempuh perjalanan yang lumayan.

Sesampainya di BST, semua beres-beres. Mandi secara bergantian, shalat dzuhur berjamaah dan makan bersama. Di akhir acara, Kang Oeblet dan Mas Danu menyampaikan sambutan atas terselenggaranya kegiatan.

Kang Oeblet senang karena kedatangan tamu adik-adik panti. Ia mempersilahkan adik-adik untuk kembali lagi main ke Kuningan di kemudian hari. “Bumi Seni Tarikolot selalu membuka diri. Suatu saat, kalau kalian mau ke sini lagi, silakan, disini terbuka. Kaerna kalau dua hari, rasanya tidak cukup,” ucapnya.

Acara ditutup dengan doa dan berfoto bersama di dekat lapangan tenda. Raut kebahagiaan dan keceriaan begitu terlihat di wajah anak-anak. Semua bersalaman dan saling berpelukan. Kegiatan kemping seni kali ini sangat menyenangkan dan berkesan. (jms)    


Back to Top