Jelajah Kampung Mualaf, Begini Cerita Keseruan Perjalanan X-Paydisi Baduy bersama Komunitas PAY

gomuslim.co.id – Suku Baduy merupakan kelompok masyarakat adat Suku Banten yang tinggal di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. 

Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat pelaksanaannya. Jika Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar.

Masyarakat Baduy Luar sudah terkontaminasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diperkenankan ketua adat yang di sebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, Baduy Luar juga menerima tamu yang berasal dari luar Indonesia, mereka diperbolehkan mengunjungi hingga menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar.

Sahabat gomuslim, Suku Baduy memiliki peraturan yang cukup ketat terkait pemahaman keyakinan. Diketahui, Suku Baduy menganut keyakinan Sunda Wiwitan. Selain itu, Suku Baduy tidak memperbolehkan anak-anak Baduy bersekolah. Apabila peraturan itu tidak di ikuti, maka warga Suku Baduy harus meninggalkan desanya.

Pada ketentuan hukum yang ada, anak-anak Baduy dari usia 0 sampai 12 tahun adalah tempatnya bermain, lalu pada usia 12 tahun ke atas, untuk anak laki-laki mengikuti ayahnya bekerja sebagai petani, lalu perempuan membantu ibunya bekerja dirumah, bahkan untuk perempuan dengan usia yang masih terbilang belasan tahun, sudah boleh dinikahi.

Dengan kondisi tersebut, tidak sedikit diantara masyarakat Baduy yang memilih keluar dari Desa dan Suku Baduy itu sendiri, dan memilih memeluk agama Islam dan menyekolahkan anak-anaknya agar adanya perubahan dalam kehidupan mereka masing-masing.

Keadaan masyarakat Baduy yang memilih keluar dari Desanya dan memilih memeluk Islam, sangat membutuhkan perhatian dan support dari masyarakat luar. Karena itu, dengan mereka yang memilih menjadi Muallaf, para penggiat dakwah melakukan Gerakan dengan memberikan tempat tinggal bagi mereka.

Dalam penelurusan gomuslim, para penggiat dakwah ini, meminta perizinan kepada kementerian perhutanan untuk menggunakan tanahnya di atas bukit beberapa wilayah, untuk ditempati oleh Muallaf Baduy.

Sebelum penulis menceritakan perjalanan X-Paydisi Baduy bersama Komunitas PAY, Penulis sampaikan terlebih dahulu kondisi masyarakat Mualaf Baduy yang telah keluar dari Desanya terdahulu karena memeluk Agama Islam.

Sekitar 15 Rumah berdiri di atas bukit Desa Cikuning. 15 rumah itu dihuni oleh Muallaf yang pernah tinggal di Baduy Luar. Tidak sedikit diantara mereka yang belum memiliki pekerjaan. Berkebun atau Bertani, yang mereka lakukan selama tinggal di Baduy Luar. Akan tetapi, sejak memutuskan menjadi Muallaf dan keluar dari Desa Baduy Luar, mereka tidak memiliki modal dan tempat untuk berkebun.

Bahkan, dengan keadaan mereka yang seperti itu, terdapat beberapa warga muallaf baduy yang pernah merasakan tidak makan selama tiga hari. Selain itu, keadaan di Muallaf Baduy Kampung Cikuning mengalami sulit air.

Dengan kondisi tersebut, Komunitas Pecinta Yatim & Doefa Indonesia Tercinta (PAY&DOIT) menggelar aksi kemanusiaan untuk membantu para Muallaf Baduy yang tinggal di Kampung CIkuning Desa Tanjungwangi, Muncang, Banteng.

 

Hari Pertama

Jumat, 18 Oktober 2019, Tim Gomuslim Media yang terdiri dari saya sebagai journalis dan 2 kameramen menghadiri undangan Komunitas Pay dalam perjalanan ke Kampung Muallaf Baduy.

Perjalanan kami akan dilakukan selama 2 hari 2 malam. Kami dari tim media menerima rundown yang dikirim pihak PAY untuk keberangkatan tepat pukul 23.00 dari Basecamp PAY di bilangan Jakarta Barat. Kami berangkat dari Redaksi menuju Basecamp PAY pukul 21.00 WIB.

Sebelum keberangkatan, Panitia penyelenggara Aksi Kemanusiaan PAY melakukan briefing dan pengecekan alat yang akan digunakan selama di Kampung Muallaf. Prediksi kami, perjalanan akan menempuh jarak 80 Kilometer dengan durasi 5 Jam.

Tepat pukul 23.00 WIB, kami berangkat menggunakan Bus Pariwisata menuju Banten. Sebelum jalan, kami terlebih dahulu melakukan Doa agar kami selamat hingga tujuan.

Singkat cerita, dalam perjalanan terlihat banyak diantara teman-teman PAY dan kameramen gomuslim yang tertidur, mungkin karena kami juga berangkat tengah malam kali yaa..!!

Saya mencoba bertahan untuk tidak tidur dalam perjalanan (walau sempat juga tertidur ayam), tepat pukul 01.30 WIB dini hari. Bus kami sudah berada di Banten. Rute perjalanan kami luar biasa.

Saat bus kami memasuki area perbukitan di wilayah Banten, tepat pukul 02.00 WIB bus kami mulai melintasi hutan belantara, jalanan curam, track yang berkelok, hingga menanjak kami lalui. Kanan kiri kami hutan tanpa adanya penerangan, hanya lampu dari bus kami yang menerangi bahu jalan tempat kami melintas.

Prediksi kami meleset (sedikit), pukul 03.00 WIB kami transit sebentar di rumah Pemuka Agama. Tujua nnya, kami menjemput salah satu panitia PAY yang telah duluan jalan ke Baduy.

Kemudian, kami kembali melakukan perjalanan menuju Destinasi Kampung yang kami tuju. Tepat pukul 03.30 WIB kami sampai di bawah bukit.

Bus yang mengantar kami hanya bisa mengantar hingga dibawah bukit, kemudian kami harus berjalan menanjak ke kampung dengan jarak 500 hingga 1 kilometer. Dalam perjalanan menanjak kami menuju kampung Muallaf tepat di atas bukit Kampung Cikuning, kami melintasi sawah yang tidak ada penerangan sama sekali, hanya lampu dari handphone kami masing-masing dan lampu dari Lighting kameramen yang membawa kami hingga ke atas.

Tepat pukul 04.00 WIB kami tiba di atas Bukit kampung Cikuning. Kegiatan kami saat itu hanya menunggu waktu Shalat Subuh dan berkemas diri untuk memulai kegiatan pertama di Kampung Muallaf Cikuning Baduy.

 

Hari Kedua

Di Hari kedua, Sabtu (19/10/2019), tepat pukul 07.00 WIB, Komunitas PAY memulai dengan briefing untuk kegiatan yang akan dilakukan dan membagikan tempat untuk bermalam kami. Sahabat, warga Mualaf Baduy sangat welcome lho dengan kami. Kami diperbolehkan menginap di rumahnya saat melakukan aksi kemanusiaan.

Setelah informasi tempat kami menginap disampaikan oleh Panitia, sebelum memulai kegiatan, kami taruh dahulu barang bawaan kami di salah satu rumah Muallaf Baduy.

Pukul 07.45 WIB, Panitia bergegas membangun tenda terpal untuk kegiatan pengobatan gratis, 2 rumah diantaranya kami gunakan untuk pengecekan pasien dan pemberian obat. Tepat pukul 08.00 WIB, PAY menggelar pengobatan Gratis di Kampung Mualaf Baduy. dalam pantauan penulis, agenda itu sangat diminati oleh masyarakat.

Saat ditanya kepada salah satu pasien dari Mualaf Baduy, ia mengatakan pengobatan gratis ini sangat bermanfaat untuk warga karena apabila warga Muallaf Baduy sakit, jarak tempuh untuk sampai ke tempat pengobatan sekitar harus menempuh kurang lebih 7 kilometer. Pengobatan gratis yang digelar PAY tidak hanya diminati oleh warga muallaf, juga kepada warga setempat diluar kampung muallaf.

Dalam pengecekan kesehatan, dokter Almahira Azzahra salah satu relawan dokter dari Tasikmalaya, Jawa Barat ini mengaku adanya temuan penyakit pasien yang harus di rujuk ke rumah sakit.

Selain itu, kata dokter Alma sapaan akrabnya, sebagian besar pasien mengalami sakit seperti batuk, demam, gatal-gatal, dan pegal-pegal. Kemudian terdapat satu wanita hamil yang melakukan pengecekan di pengobatan gratis PAY.

“Ada satu orang wanita hamil. Saat saya tanya pernah melakukan pengecekan kehamilan, si Ibu itu bilang tidak pernah melakukan pengecekan sama sekali, ya Allah,” kata dokter Alma.

Selain pengobatan, Komunitas PAY juga membangun ulang aula kumpul warga baduy dengan mengubahnya menjadi tempat membaca yang dinamakan ‘Saung Elmu’. Berbagai kegiatan dilakukan baik mengecat, mendekor ulang dengan menata buku-buku bacaan dan Alquran.

Di Hari kedua ini, berbagai kegiatan anak-anak juga dilibatkan dalam membangun Saung Elmu, dimana anak-anak muallaf Baduy diminta cap tangan untuk mempercantik tampilan Saung. Selain itu, anak-anak juga diajak bermain, diberikan edukasi islami oleh para Relawan Komunitas PAY hingga malam hari.

Setelah kegiatan anak-anak dilakukan, dan anak-anak juga diberikan berbagai macam hadiah atas prestasi dalam permainan dan edukasi yang diberikan, para relawan PAY dan Media diperseilahkan untuk istirahat.

 

Hari Ketiga

Di hari ketiga, tepat pada hari Ahad (20/10/2019), Komunitas PAY kembali melakukan berbagai kegaiatan. Tepat pukul 08.00 WIB, Komunitas PAY melihat kamar mandi yang telah dibangun, tidak dapat digunakan karena saluran air yang tidak sampai ke kamar mandi.

Pembangunan Saluran Air dari Sumur ke Kamar Mandi

 

Kata Ketua Panitia Dado, agenda pengaktifasian kamar mandi merupakan agenda dadakan. Perbaikan kamar mandi dilakukan karena pengalaman pribadi penulis akan sulitnya mandi walau hanya sekedar buang air kecil.

Selain perbaikan dan pengaktifasian kembali kamar mandi, Agenda komunitas PAY juga melakukan masak dan makan bersama warga Muallaf Baduy. Berbagai menu masakan disiapkan oleh para wanita dari Warga Mualaf Kampung Baduy, juga dari para Relawan.

 

Tepat pukul 11.00 WIB, menjelang dzuhur, kami melaksanakan dahulu makan bersama antara Para Relawan PAY dengan warga sekitar. Berbaur bersaudara penuh hangat kami rasakan saat itu. Tidak ada rasa canggung ataupun malu, yang kami rasakan kenikmatan kebersamaan dan kenikmatan masakan yang telah disajikan para wanita relawan serta warga Mualaf.

 

 

Pukul 12.00 WIB, adzan zuhur memanggil kami. Para laki-laki bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat zuhur. Setelah itu, kami semua kembali kerumah tempat kami menginap dan berberes packing untuk jalan pulang.

Tepat pukul 13.00 WIB sudah masuk jadwal kami pulang. Akan tetapi sulit bagi kami untuk bergegas pulang. Berfoto, selfie kami lakukan dahulu sebelum pulang. Kami berpamit kepada warga kampung Muallaf dan mengucapkan terimakasih atas waktu dan tempat yang telah diberikan.

Dari kejauhan, berlari anak-anak baduy menghampiri kami, menangis dan menginginkan kami untuk tetap bersama mereka dan tidak pulang. Mereka seperti merasa kehilangan kami saat kami ingin pulang.

Para Relawan mencoba menenangkan mereka dengan memberikan support kepada mereka, memeluk mereka, memberikan nasihat kepada mereka. Pelukan erat anak-anak baduy sangat sulit terlepas, mereka memberatkan kami untuk meninggalkan mereka.

Sahabat, Komunitas PAY membawa pelangi untuk mereka. Komunitas PAY membawa kenangan manis untuk mereka. Komunitas PAY menanam edukasi baik yang akan memotivasi mereka untuk semangat dalam menjalani hidup dan mengajak mereka untuk berbahagia selalu.

Akhirnya, kami pulang. Berjalan turun bukit melintasi sawah yang pada malam itu kami telah lalui. Lalu, kami masuk kedalam Bus yang siap antar kami pulang. Dalam perjalanan, sekitar 20 meter, anak-anak baduy menghampiri tepian jalan, melihat kepergian kami. Air mata mereka terus menetes, terlihat masih sangat sulit untuk melepas kami pulang.

Kemudian, saat bus kami melintasi mereka, tangan-tangan manis mereka melambai ke kami, tangan itu seperti berucap kepada kami “Kakak hati-hati di jalan, Kakak nanti main lagi kesini ya, Kakak jangan lupakan kami”.

Singkat Cerita, kami pulang menuju Ibu Kota yang gersang, penuh asap dan Gedung Gedung bertingkat, tidak seperti kampung muallaf baduy yang alami, yang masih menurunkan embun pada waktu subuh.

Oiya sahabat, ada yang lucu dalam perjalanan pulang kami menuju Jakarta. Dalam perjalanan, dua relawan PAY harus segera menuju toilet. Kemudian, tidak jelang lama, satu relawan sudah kembali ke bus, lalu supir menegaskan apakah semua sudah didalam. Dan tanpa kami sadari, kami menyatakan sudah lengkap.

Hingga akhirnya bus kami melanjutkan perjalanan. Ada yang mengganjal pada salah satu kameramen gomuslim. Kata Bhey kameramen gomuslim “Kang, bukannya yang keluar 2 orang ya?, yang masuk baru 1 lho”.

Mulai berhitung lagi kami, hingga akhirnya setelah menempuh jarang kurang lebih 100 hingga 200 meter, salah satu relawan yang duduk sebelah ralawan yang tertinggal, engeuh kalua sebelumnya belum naik. Bus kami putar balik menjemput dan benar terlihat salah satu relawan PAY pasrah ditinggal bus.

Saya mencoba bertanya bagaimana perasaannya, relawan itu mengatakan “Saya juga baru masuk. Ko saya mendengar suara bus semakin menjauh. AKhirnya saya keluar benar saja bus saya sudah jalan. Yang saya fikirkan bukan menghubungi relawan lain, tapi yang saya fikirkan, mau naik bus apa saya untuk sampai ke Jakarta”.

Setelah kejadian lucu itu, bus kami kembali melaju pulang ke Jakarta. Tepat pukul 21.00WIB kami tiba di Basecamp PAY. Dan pada saat itu juga, kami pamit berpisah, pulang kerumah masing-masing.

Sahabat gomuslim, X-Paydisi di Kampung Muallaf Baduy ini memberikan kesan positif bagi saya penulis. Bagaimana menjadi manusia yang berguna, bagaimana menjadi manusia yang mau memikirkan nasib manusia lain yang membutuhkan. Serta mengajarkan saya tentang arti kepedulian dan arti gotong royong yang sesungguhnya. (hmz/gomuslim)

 

 

Baca juga:

Jelajah Kampung Mualaf Baduy, Komunitas PAY Bangun Perekonomian Umat Hingga Dukung Penguatan Iman Islam


Back to Top