Bersama Komunitas Wisata Panti, Begini Keseruan Eduwisata di Way Kambas dan Desa Labuhan Ratu Lampung Timur

gomuslim.co.id – Pagi yang cerah menyambut saya, adik panti dari Rumah Yatim Lampung dan Tim Wisata Panti. Kami hendak bergegas menuju Taman Nasional Way Kambas Lampung.  Kami Tim berangkat dengan menggunakan lima mobil minibus yang menempuh jarak sekitar 93 kilo meter dari Bandar Lampung menuju Way Kambas. Waktu tempuh normal perjalanan ini pada umumnya dua jam. Kami berangkat pukul 09:30.

Suguhan pemandangan yang indah membuat perjalanan kami terasa menyenangkan. Beberapa kali adik panti membuka kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah kameramen untuk menyapa gembira. Sebagian di antaranya juga tertidur pulas selama perjalanan. Pukul 11:30 WIB kami sampai di Desa Labuhan Ratu Lampung Timur. Kami langsung disambut dengan Tari Bedana. Kami larut dalam tarian khas Lampung tersebut.

Setelah larut dalam tarian, kami melanjutkan makan siang dan persiapan menuju beberapa lokasi eduwisata. Dalam perjalanan ini, kami dipandu oleh dua pemandu dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) Gerbang Way Kambas Kak Hendi dan Kak Uswatun. Kak Danu sang Founder Wisata Panti juga ikut berinteraksi dengan mereka untuk membuat perjalanan ini sangat interaktif.

Destinasi Wisata Seru di Lampung Timur

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Pabrik pembuatan batu bata merah. Di sini kami diajarkan bagaimana membuat batu bata merah. Mulai dari pemilihan tanah, membuat adonan atau bahan, pencetakan, penyusunan hingga pembakaran. Masyarakat disini bisa menghasilkan ribuan batu bata merah setiap harinya. Kemudian hasil produksinya dijual di sekitaran  wilayah Lampung dan sekitarnya.

Perjalanan selanjutnya yakni mengunjungi rumah produksi batik Lampung yakni Batik Barata. Pak Basuki Rahmat, pemilik usaha ini memaparkan banyak sekali pengetahuan mengenai batik. Khususnya batik Lampung.

“Ini adalah motif Batik Lampung dan ikon Desa Labuhan Ratu yang kami buat. Ada gajah, badak, siger, nanas, pisang dan lainnya,” jelas Pak Basuki kepada kami.

Untuk pengambilan motif nanas dan pisang, beliau menuturkan bahwa ada perusahaan perkebunan nanas dan pisang di Lampung Timur. Perkebunan itu menjadi tempat bekerka masyarakat desa Labuhan Ratu. Sedangkan untuk motif gajah dan badak dikarenakan keduanya adalah ikon Way Kambas Lampung.

Setelah puas bereduwisata di seputaran desa penyangga Way Kambas, kami melanjutkan perjalan ke tempat yang ditunggu-tunggu yakni Kawasan Taman Nasional Way Kambas.

 “Hayo, siapa yang belum pernah ke Way Kambas?,” tanya kak Hendi kepada kami.

Sebagian besar rombongan pun mengangkat tangan. Dari desa labuhan ratu menuju kawasan Way Kambas tidak terlalu jauh. Desa tersebut berdampingan persis dengan Taman Nasional.

Memasuki kawasan, kami disambut dengan hutan belantara yang rimbun. Cuaca panas yang membuat gerah  berubah sejuk seketika saat tegakan pohon berjejeran di samping kanan kiri jalan. Hutan dataran rendah yang luasnya 1.300 kilo meter persegi ini Nampak masih alami. Kami pun disambut dengan monyet dan babi hutan yang berada di lapangan dan pinggir jalan. “Mereka (Babi dan Monyet) sudah biasa mendekat ke pengunjung. Liat saja, jangan diganggu dan jangan terlalu dekat” Ujar Kak Hendi saat kami turun mobil dan hewa-hewan tersebut mendekat ke arah kami.

Tujuan pertama kami adalah Pusat Latihan Gajah (PLG) atau juga disebut Pusat Konservasi Gajah (PKG) namun, terlebih dahulu kami diajak ke rumah sakit gajah. Megah, mewah dan luar biasa. Itu adalah kesan pertama saat kami datang ke rumah sakit gajah dengan predikat yang tersesar se Asia Tenggara itu.

 Alhamdulillah, saat itu tidak ada gajah yang sakit. Petugas hanya menerangkan beberapa tempat untung merawat gajah dan jenis makanan gajah saat sakit. Rumah sakit gajah ini adalah satu-satunya rumah perawatan untuk gajah di Indonesia. Berdiri sejak tahun 2015 dilengkapi dengan laboratorium, ruang periksa, gudang pakan, mahout (pawang gajah), guest house, kolam air minum gajah dan lainnya.

Ketika matahari mulai beranjak terbenam, kami tiba di PLG. Ya, tempat yang kami tunggu-tunggu.

”Ye liat gajah,” teriak beberapa adik panti sambil menunjukan raut gembiranya. Puluhan gajah Nampak jelas di depan mata kami.

Gajah gajah tersebut sedang “ngandang” di hamparan lapangan yang sangat luas. Para mahout terlihat sedang memandikan gajah dan memberi makan gajah. Sebuah mobil truk besar membawa dedauanan tiba untuk menyuplai kebutuhan pakan gajah. Gajah Sumatera adalah herbivora yang membutuhkan banyak asupan makanan. Satu ekor gajah dewasa membutuhkan 200 sampai 300 biomasa setiap harinya.

Kami semua tidak ada yang melewatkan berfoto dengan gajah. Satu persatu dari kami mengantri, bergantian untuk berfoto.

Bermalam di Home Stay Desa Labuhan Ratu

Menjelang magrib, kami menyegerakan untuk tiba di home stay milik Mas Nandar (Ketua Kelompok Pokdarwis Gerbang Desa). Home Stay tersebut berada di Desa Labuhan Ratu. Setelah kami membersihkan badan, perjalanan selanjutnya adalah menuju rumah Konservasi Universitas Lampung (Unila).

Di rumah Konservasi Unila adik-adik panti menampilkan beberapa pertunjukan kepada kami. Tausiah, pembacaan puisi, qori, hingga pertunjukan taekwondo sangat mengihibur kami malam itu. Malam yang menyenangkan tersebut diakhiri dengan presentasi dari kakak-kakak Unila mengenai edukasi kelelawar. Kemudian kami pun menuju homestay untuk beristirahat.

Pagi harinya, kami disambut nuansa pedesaan yang khas. Sepi dan damai, tak banyak suara keributan. Hanya suara burung dan candaan kami saja yang terdengar. Kami bersiap menuju Camp Elephant respont Unit (Camp Eru). Perjalanan dimulai. Ditemani terik matahari, kami berjalan sekitar dua kilo meter. Sambil bernyanyi bersama dan bertepuk tangan tak terasa kami tiba di Cam Eru.

Di sana kami disambut dengan petugas dari Way Kambas. Kami langsung diberi penyuluhan tentang konservasi, Gajah dan Way Kambas. Pihak way kambas juga menekankan bahwa Camp Eru  bukanlah tempat wisata. Eru adalah kawasan konservasi. Tapi jika ada yang igin belajar konservasi maka kami persilahkan. Tapi tetap dengan prosedur pengurusan simaksi.

Di Camp Eru, kami berkesempatan untuk lebih dekat dengan gajah. Kami bergantian memandikan dua ekor gajah. Ditemani mahout gajah, kami memberanikan diri membasahi badan gajah dan menyikat kulit gajah yang tebalnya sekitar lima centimeter. Perjalanan di Camp Eru kami akhiri dengan berfoto bersama. Kemudian kami menuju homestay untuk berkemas, sebelum berpamitan.

Kami berkumpul di Rumah Konservasi Pukul 13:00 WIB. Kemudian berpamitan kepada masyarakat, kakak-kakak Unila dan pokdarwis gerbang. Perjalanan selama dua hari di Way Kambas ini memberikan pelajaran berharga bagi kami, terutama adik panti. Kami diperlihatkan bagaimana sebuah inovasi dan kreasi yang diproduksi dari desa. Sebagai muslim, kami juga diajarkan untuk menjaga alam sebagai upaya menjaga kebaikan alam untuk sekarang dan masa yang akan datang (Wan/gomuslim)


Back to Top