#PanduanKurban

Ini Dalil dan Tujuh Hikmah Kurban

gomuslim.co.id – Kurban merupakan ibadah yang paling ditunggu umat Islam saat hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik. Ibadah yang hanya dilakukan setahun sekali ini menjadi momen penting untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perintah kurban secara jelas tercantum dalam beberapa ayat Alquran dan sejumlah hadits.  Satu di antaranya adalah dalam Alquran surat al-Kautsar [108] ayat 02: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan sembelihlah.”

Kata shalat dalam ayat diatas bisa bermakna shalat Idul Adha. Seperti kita ketahui bersama, shalat adalah tiangnya agama. Pembeda paling mendasar sekaligus pembatas antara seorang muslim dan kafir. Shalat menjadi ibadah fisik yang berhubungan langsung dengan Allah atau ibadah vertikal.

Sementara maksud dari kata menyembelih dari ayat tadi adalah menyembelih hewan kurban. Artinya kata sembelihlah juga diartikan dengan berkurbanlah. Kurban merupakan ibadah harta yang berkaitan langsung dengan sesama (sosial) atau dalam arti horizontal.

Dalil Kurban

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Hajj [22] ayat 36 yang artinya: “Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagaian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur

Kemudian dalam hadistnya, Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa yang memperoleh suatu kelapangan, tetapi dia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami. (HR.Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, jumhur (mayoritas) ulama yang terdiri dari Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) memandang bahwa hukum melaksanakan ibadah kurban bukan wajib, tetapi sunah muakkad (sunah yang dikuatkan).

Hikmah Berkurban

Para ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan kurban pada hari ‘Idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan kurban, atau bahkan lebih baik dari itu. Syekhul Islam mengatakan: “Berkurban, aqiqah, hadyu sunnah, semuanya lebih baik, dari pada sedekah dengan uang senilai hewan yang disembelih.” (Majmu' Fatawa, 6:304)

Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.”

Lantas apa saja hikmah dari ibadah kurban? Berikut ringkasannya:

1. Kurban Tanda Orang Bertakwa

Menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada umat menjadi tanda bahwa seseorang menjadi seorang muslim yang bertakwa. Hal ini karena mereka yang berkurban telah menjalankan salah satu perintah-Nya. Apalagi ibadah kurban memang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Alquran surat Al-Hajj ayat 37:

Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kemudian dalam ayat lain: Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, nusuk/ibadah qurbanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah rabb semesta alam.  Tidak ada sekutu bagi-Nya, aku diperintahkan seperti itu dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri.” (QS. Al An’am: 162)

Makna nusuk dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan, demikian penjelasan dari Said bin Jubair. Ada pula yang menyatakan bahwa makna nusuk adalah semua bentuk ibadah, salah satunya adalah menyembelih hewan.

 

2. Sarana Membangun Kepedulian Sosial

Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa kurban memiliki dimensi ibada horizontal. Menyembelih hewan qurban kemudian membagikan dagingnya kepada orang-orang yang membutuhkan akan membentuk kepedulian terhadap sesama.

Kurban pun berdampak strategis bagi ikhtiar membangun kebersamaan dan pemerataan dalam masyarakat. Sebagian masyarakat kita belum tentu dapat makan daging sekali dalam setahun. Maka kurban dapat dijadikan sarana membangun kebersamaan dan keharmonisan hubungan antara yang punya dengan yang tidak punya.

 

3. Pengingat Kekayaan Hanyalah Titipan

Perintah berkurban mengingatkan kepada umat bahwa pada hakikatnya kekayaan itu hanyalah titipan Allah. Manusia seharusnya menyadari bahwa pada harta yang dimilikinya ada hak orang lain, yang harus ditunaikan dengan cara mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, wakaf, termasuk kurban.

 

4. Membuang Sifat Kebinatangan

Tidak dapat dipungkiri, manusia memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam dirinya seperti rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri. Penyembelihan hewan kurban menjadi simbol untuk menghilangkan sifat-sifat tersebut. Maka dengan  berkurban, diharapkan semua manusia dapat membuang, menyembelih sifat-sifat yang dapat mendatangkan musibah dan bencana.

Simbol ini pun menjadi pesan moral bagi para pemimpin agar menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada mereka. Bagi para pengusaha atau pedagang, kurban menjadi pengingat untuk menyembelih sifat-sifat curang dan tidak jujur, seperti mengurangi timbangan, curang dalam takaran, menipu dan memperdaya pembeli.

Atau kepada semua umat Islam, kurbankan nikmatnya tidur di malam hari dengan sholat malam dan shalat subuh berjamaah. Kurbankan manisnya harta dengan mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, dan memotong hewan qurban. Kurbankan empuknya jabatan dengan melayani umat. Jadikan semua yang kita miliki sebagai alat mendekat kepada Allah SWT.

 

5. Kurban Sebagai Syiar Islam dan Sunnah Nabi Ibrahim

Melaksanakan kurban bagi mereka yang mampu merupakan salah satu syiar Islam. Selain itu, kurban juga sebagai upaya melestarikan millah atau sunnah Nabi Ibrahim, bapaknya para Nabi yang ketika itu diuji oleh Allah SWT atas perintah menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail. Kisah ini tertulis jelad dalam Alquran surat As-Saffat ayat 102 sampai ayat 107.

Kisah kesabaran kedua Nabi membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Ismail pun berubah menjadi seekor domba.

Jika setiap mukmin mengingat  kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.

 

6. Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Ibadah kurban akan menumbuhkan sikap syukur terhadap Allah SWT atas semua nikmat yang telah diberikan. Tasyakur yang sempurna harus melalui dua jalur, yaitu jalur pada Allah dengan shalat dan ibadah lainnya, serta jalur pada manusia dengan meningkatkan ibadah sosial. Shalat dan kurban merupakan salah satu contoh tasyakur dua jalur tersebut.

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

 

7. Kurban Amalan yang Disukai Allah SWT

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi)

Dari hadits di atas kita memahami bahwa kurban merupakan satu amalan ibadah yang amat disukai Allah SWT. Ketika amalan ini kita kerjakan, maka pahala besar pun akan didapat karena menjalankan syariat yang utama.

 

Wallahu’alam Bishawab



Sumber:

Shahih Fiqh Sunnah 2:379 dan Syarhul Mumthi' 7:521

Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 5: 76.

Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah

Shahih Fiqh Sunnah, 2: 379.

Buya Yahya. Fikih Qurban. Pustaka Al Bahjah

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top