#PanduanKurban

Begini Ketentuan Kurban untuk Satu Perusahaan atau Instansi

gomuslim.co.id – Kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat utama. Ibadah yang hanya bisa dilakukan di tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Tidak heran, banyak umat Islam yang begitu semangat untuk berkurban. Bukan hanya di kalangan masyarakat umum, di lingkungan sekolah dan perusahaan.

Mungkin kita pernah mendengar ada satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan, ketika Idul Adha tiba, sebagian sekolah menggalakkan kegiatan latihan kurban bagi siswanya. Pihak sekolah menggalang patungan, urunan atau iuran secara kolektif dari siswa.

Nah, hasil dari iuran tersebut digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari kurban. Tentu, motifnya adalah untuk mendidik anak agar membiasakan murah hati dan menumbuhkan jiwa solidaritas di kalangan anak didik. Apakah hal ini bisa dinilai sebagai ibadah kurban?

Perlu dipahami bahwa kurban adalah salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syariat. Apabila keluar dari aturan ini, maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah kurban, alias kurbannya tidak sah.

Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan atau kepemilikan hewan kurban. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan seekor kambing hanya mencukupi dan sah untuk kurban bagi satu orang. Sementara untuk satu ekor sapi untuk tujuh orang. Tapi dalam tradisi ini seekor kambing diperuntukkan bagi banyak orang/anak.

Ibnu Abbas RA berkata, “Kami pernah safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika tiba Idul Adha, kami urunan untuk onta 10 orang dan sapi 7 orang. (HR. Ibn Majah 3131 dan dishahihkan al-Albani).

Jika mengacu pada ketentuan di atas bahwa pengadaan seekor kambing hanya berlaku untuk satu orang, maka kurban patungan satu sekolah semacam ini tidak sah dan tidak bernilai kurban, melainkan sedekah (jika ada yang diberikan orang lain) atau ukhuwwah (jika dimakan sendiri oleh anggota patungan).

Tetapi jika mengacu pada riwayat bahwa Nabi saw setiap tahun berkurban dengan dua ekor domba, yang seekor untuk beliau sendiri sedang yang seekor lagi untuk umatnya, maka kurban patungan ini masih mendapat tempat untuk disebut kurban, walau tentu pahalanya ya sebesar atau senilai nominal dana yang dilibatkan.

Namun, untuk peruntukan atau pahala kurban, satu ekor kambing bisa dikurbankan atas nama satu orang dan seluruh anggota keluarganya. Abu Ayyub RA berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan seluruh anggota keluarganya.” (HR. Tirmidzi 1505, Ibn Majah 3125, dan dishahihkan al-Albani).

Secara fikih ibadah, belum ada fuqaha yang mengakui bahwa kurban patungan kambing itu sebagai kurban syar'i. Tapi secara fikih tarbiyah (pendidikan) tetap ada manfaatnya, yaitu untuk mendidik kedermawanan, kepedulian, dan kesetiakawanan.

 

Baca juga:

Kandang Qurban, Marketplace Penyedia Hewan Kurban Berkualitas Terbaik dari Peternak Lokal

 

Sebaliknya, bagaimana jika ada suatu perusahaan yang karena pemiliknya muslim taat dan usahanya cukup lancar dan beruntung besar, maka apakah perusahaan tersebut juga harus menyelenggarakan kurban?

Secara fiqih formal (yuridis) kurban adalah ibadah individual untuk kepentingan sosial. Jadi, sekaya apa pun seseorang, dia hanya berkeharusan kurban untuk dirinva dengan seekor kambing. Instansi atau perusahaan tidak dikenai keharusan untuk berkurban.

Tetapi secara fiqih moral (etis) siapa pun muslim yang mempunyai kelonggaran rezeki, mestinya terpanggil untuk berkurban sesuai kelonggarannya, lebih dari kelazimannya, tidak hanya seekor kambing tetapi sebaiknya lebih dari itu, sesuai kemampuan maksimalnya, dengan beberapa ekor kambing dan/atau sapi.

Atas namanya tentu bukan instansi/perusahaan, tetapi perorangan. Boleh pemiliknya sendirian, boleh dengan keluarganya, atau lebih bagus lagi diatasnamakan beberapa karyawan tertentu sebagai reward.

Jika kurban sebagai hadiah kepada karyawan, maka ada tiga ketentuan yang perlu diperhatikan. Pertama, harus dipastikan kepemilikan sapinya. Terutama ketika perusahaan mengeluarkan lebih dari 1 sapi. Sebagai contoh, perusahaan mengeluarkan 10 ekor sapi untuk 70 karyawan. Secara perhitungan benar, namun tetap perlu ditegaskan, siapa pemilik masing-masing sapi.

Kedua, semua karyawan yang mendapat hadiah ibadah kurban harus sadar bahwa dia sedang berkurban. Karena setiap ibadah butuh niat. Sehingga tidak boleh perusahaan mengeluarkan sejumlah sapi kurban untuk beberapa karyawannya, tapi yang bersangkutan tidak tahu.

Ketiga, ketika hewan ini telah diserahkan ke karyawan, semua aturan kurban berlaku untuknya. Seperti anjuran menyembelih sendiri, atau melihat penyembelihannya, tidak boleh menjual bagian kurbannya, berhak dapat dagingnya dan seterusnya.

 

Wallahu’alam Bishawab



Sumber:

KH Ahmad Zahro. 2008.Fiqih Kontemporer. Qaf Media Kreativa 

Ammi Nur Baits. Panduan Kurban Praktis

Konsultasi Syariah

 

 

Baca juga:

Jual Hewan Kurban Kualitas Terbaik, Ini Daftar Harga di Kandang Qurban


 

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top