#PanduanKurban

Ketentuan Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

gomuslim.co.id – Hari Raya Idul Adha 1440H tinggal beberapa hari lagi. Umat Islam di seluruh dunia merayakan hari besar kedua ini dengan melaksanakan shalat Id dan ibadah kurban yakni menyembelih hewan ternak (kambing, domba, sapi, dan unta) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagian muslim lain menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

Terkait dengan ibadah kurban, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya tentang menyembelih hewan kurban untuk orang yang sudah meninggal dunia. Apakah hal ini diperbolehkan menurut syariat Islam?

Berikut gomuslim merangkumnya untuk para pembaca:

Para ulama berbeda pendapat terkait persoalan kurban untuk orang yang sudah meninggal dunia. Dalam Mazhab Syafi’I misalnya, tidak boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika orang yang telah meninggalkan dunia itu telah berwasiat sebelum ia meninggal.

Maka, menurut madzhab ini apabila orang yang sudah meninggal dunia tersebut sudah mewasiatkan untuk berkurban, maka pihak keluarga atau penerima wasiat diajurkan untuk menunaikannya dengan berkurban. Kemudian membagikan daging kurban kepada fakir miskin.

Adapun, orang yang melaksanakan wasiat dan orang lain yang mampu tidak boleh memakan daging kurban tersebut, karena tidak ada izin dari orang yang telah meninggal dunia untuk memakan daging kurban tersebut.

Ibnu Utsaimin dalam Risalah Fiqhiyah Ibnu Utsaimin, Ahkam Udhiyah mengatakan berkurban untuk orang yang telah meninggal apabila dia pernah berwasiat yang nilainya kurang dari sepertiga hartanya, atau dia mewakafkan hewannya maka wajib ditunaikan.

“Allah melarang untuk mengubah wasiat, kecuali jika wasiat tersebut adalah wasiat yang tidak benar atau wasiat yang mengandung dosa, seperti wasiat yang melebihi 1/3 atau diberikan kepada orang yang kaya,”. Allah SWT berfirman:

(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 182).

Sementara, dalam pendapat Mazhab Maliki, berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia hukumnya makruh, jika orang yang meninggal dunia itu tidak menyatakan atau berwasiat sebelum ia meninggal. Namun, jika orang yang meninggal itu menyebutkannya sebelum ia meninggal dan bukan nadzar, maka ahli warisnya dianjurkan agar melaksanakannya.

Adapun, menurut Mazhab Hanbali, boleh berkurban untuk orang yang telah meninggal dunia, daging hewan kurban tersebut disedekahkan dan dimakan, balasan pahalanya untuk orang yang telah meninggal dunia tersebut.

 

Baca juga:

Kandang Qurban, Marketplace Penyedia Hewan Kurban Berkualitas Terbaik dari Peternak Lokal

 

Dari penjelasan tersebut, setidaknya ada tiga hal yang menjadi sorotan. Pertama, orang yang meninggal bukan sebagai sasaran utama kurban, namun statusnya mengikuti kurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berkurban untuk dirinya dan keluarganya, sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berkurban jenis ini dibolehkan, pahala kurbannya meliputi dirinya dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Orang yang meninggal dunia termasuk salah satu yang mendapat pahala dari kurban seseorang. Berdasarkan hadits bahwa Nabi SAW berkurban untuk dirinya dan keluarga beliau. Sementara keluarga Nabi SAW mencakup istri beliau yang telah meninggal dan yang masih hidup. Demikian pula ketika beliau berkurban untuk umatnya, di antara mereka ada yang sudah meninggal, dan ada yang belum dilahirkan. Namun, berkurban secara khusus atas nama orang yang telah meninggal, saya tidak mengetahui adanya dalil dalam masalah ini.” (Syarhul Mumthi', 7:287).

Jadi, berkurban atas nama orang yang sudah meninggal dunia adalah mengirimkan pahala kurban. Yang melakukan ibadah kurban tetap keluarga yang masih hidup. Lalu ketika kita dapat pahala, kita mintakan kepada Allah SWT agar dihadiahkan pahalanya kepada yang sudah wafat.

Kedua, berkurban khusus untuk orang yang telah meninggal dunia tanpa ada wasiat dari orang yang telah meninggal tersebut, sebagian ulama Madzhab Hanbali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit. Mereka mengkiyaskan (menyamakan) dengan sedekah atas nama mayit.

Ketiga, berkurban khusus untuk orang yang meninggal karena orang yang sudah meninggal tersebut sudah mewasiatkan agar keluarganya berkurban untuk dirinya jika ia meninggal. Berkurban untuk orang yang sudah meninggal tersebut dalam kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiatnya.

Dagingnya maupun darahnya tidak akan sampai kepada Allah, namun yang sampai kepada kalian adalah taqwa kalian,” (QS. Al-Hajj: 37).



Wallahu’alam Bishawab

 

Sumber:

Abdul Somad. 33 Tanya Jawab Seputar Qurban

Ammi Nur Baits. Panduan Kurban Praktis

Konsultasi Syariah

 

 

 

Baca juga:

Jual Hewan Kurban Kualitas Terbaik, Ini Daftar Harga di Kandang Qurban

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top