#PanduanKurban

Begini Ketentuan Pembagian Daging Hewan Kurban

gomuslim.co.id – Hari Raya Idul Adha 1440H/2019M segera tiba. Umat Islam di seluruh dunia menyambut gembira datangnya hari besar kedua dalam Islam ini. Sebagian muslim menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, sebagian besar lain menjalankan ibadah kurban di wilayah masing-masing.

Terkait ibadah kurban, sebelumnya telah dibahas mengenai syarat, ketentuan, tips memilih hewan, sampai keutamaan berkurban. Kali ini, gomuslim akan membahas mengenai pembagian atau pendistribusian daging hewan kurban yang dianjurkan sesuai syariat. Berikut rangkumannya:

Jika kurban wajib karena nadzar, maka semua dari daging kurban harus dibagikan, dan diantara mereka yang menerima harus ada fakir miskinnya dan tidak harus semuanya fakir miskin. Jika orang yang berkurban atau orang yang wajib dinafkahinya ikut makan, maka wajib baginya untuk menggantinya sesuai dengan yang dimakannya.

Adapun, jika kurban sunnah, maka tidak disyaratkan sesuatu apapun dalam pembagiannya, asalkan ada bagian untuk orang fakir miskin, seberapa pun bagian tersebut. Dan dianjurkan untuk bisa membagi menjadi 3 bagian. Berikut pendistribusiannya:

Pertama, orang yang berkurban boleh mengambil untuk dikonsumsi sendiri maksimal sepertiga dari binatang kurbannya secara wajar (tidak memilih bagian yang baik-baik saja).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Faqih dinyatakan, “Orang yang berkurban diperintahkan untuk makan daging kurbannya dan mensedekahkannya. Sebagaimana firman Allah: “Makanlah daging qurban itu dan berikan kepada orang yang membutuhkan” (QS. Al-Haj: 28)

Kedua, orang yang berkurban boleh mengambil untuk dibagikan pada kerabat, tetangga, atau teman dekat walaupun kaya, maksimal sepertiga dari binatang kurbannya

Ketiga, dibagikan kepada fakir miskin minimal sepertiga binatang kurban.

 

Hal tersebut didasarkan pada makna hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Nabi SAW membagi kurbannya atas tiga bagian: sepertiga untuk keluarganya, sepertiga untuk tetangganya yang miskin, dan sepertiganya lagi untuk peminta-minta (HR Abu Musa Al Isfahani).

Dalam hadits lain yang artinya: "Makanlah, hidangkanlah dan simpanlah untuk keluargamu". (HR. Bukhori).

"Makanlah dan simpanlah untuk keluargamu, dan sedekahkanlah". (HR. Muslim).

Selain ketiga hal tersebut, daging kurban juga boleh disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berkurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah hari raya sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?” Maka beliau menjawab,” (Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun demikian, pembagian seperti ini tidaklah harus. Semakin banyak daging yang dikeluarkan, semakin banyak pahalanya. Boleh menyedekahkan semua hasil sembelihan kurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk disedekahkan seluruhnya kepada orang miskin dan sedikitpun tidak diberikan kepada orang kaya. (Minhaajul Muslim, hal. 266).

 

 

Baca juga:

Kandang Qurban, Marketplace Penyedia Hewan Kurban Berkualitas Terbaik dari Peternak Lokal


 

Di sisi lain, tidak boleh diberikan kepada penjual daging karena mereka sudah sangat terbiasa, bahkan mungkin sudah bosan dengan daging, sehingga jika diberikan pada mereka, maka diduga kuat akan dijual. Begitu juga kulit atau bagian tertentu dari binatang kurban tidak boleh diberikan kepada penyembelih sebagai upahnya.

Hal ini disandarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ali RA bahwa Nabi SAW memerintahnya untuk berdiri ketika menyembelih unta (kurban), membagikan kulitnya, bagian punggungnya, dan sama sekali tidak memberi bagian pada penjual daging. (HR Bukhari dan Muslim).

Daging kurban boleh juga diberikan kepada nonmuslim yang tidak memusuhi umat Islam (menurut mazhab Hanbali boleh, sedangkan menurut mazhab Maliki makruh). Hal ini karena tidak ada ayat atau pun hadits yang melarangnya, juga tidak ada ayat atau pun hadits yang mengkhususkan pembagiannya pada orang Islam saja.

 

Kulit Hewan Kurban

Fuqaha berpendapat bahwa tidak diperbolehkan menjual bagian mana pun (termasuk kulit) dari hewan kurban. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW (yang maknanya): “Barangsiapa yang menjual kulit binatang kurbannya, maka berarti dia tidak lagi berkurban ((HR Al Hakim dan Baihaqi).

Di antara fuqaha ada yang memahami hadits ini berefek hukum haram, tapi ada pula yang menganggapnya hanya makruh (tidak disukai). Walaupun hadits tersebut sahih, tetapi pelarangan dalam hadits yang tidak didukung oleh ayat Alaquran, maka nilainya tidak mencapai haram, sebab mustahil Allah membiarkan hal yang haram tidak tercover dalam Alquran walau hanya tersirat.

Mengingat kenyataan empiris dan kebutuhan praktis bahwa kulit hewan kurban itu lebih bermanfaat jika dijual dan uangnya dibagikan pada fakir miskin atau dipergunakan untuk biaya operasional yang tidak terelakan dalam penanganan dan pendistribusian kurban, maka atas dasar istihsan (pertimbangan kebaikan menurut akal sehat), menjual kulit hewan kurban untuk keperluan yang masih terkait dengan kurban diperbolehkan.

 

Wallahu’alam bishawab



Sumber:

KH Ahmad Zahro. 2008. Fiqih Kontemporer. Qaf Media Kreativa 

Buya Yahya. Fiqih Qurban. Cirebon: Pustaka Al Bahjah

Ammi Nur Baits. Panduan Kurban Praktis



Baca juga:

Jual Hewan Kurban Kualitas Terbaik, Ini Daftar Harga di Kandang Qurban

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top