#UlamaPerempuanIndonesia

Sultanah Safiatuddin Syah, Sosok Ratu Cerdas yang Pernah Pimpin Aceh selama 34 Tahun

gomuslim.co.id – Tak hanya Cut Nyak Dien, ada satu lagi sosok pahlawan perempuan yang patut kita ketahui dan teladani dari tanah Serambi Mekkah, Aceh. Dialah Sultanah Safiatuddin Syah cukup banyak sehingga dapat memberikan gambaran yang memadai tentang kiprahnya memimpin. Syafiatuddin Syah lahir tahun 1612 dan anak tertua Sultan Iskandar Muda. Puteri Syafiatuddin gadis yang rupawan, cerdas dan berpengetahuan. Setelah dewasa, dia dinikahkan dengan Iskandar Thani,putera Sultan Pahang yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Sultanah Safiatuddin Syah memerintah selama 1641 – 1675, pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Potugis. Ia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab. Ia meninggal 23 Oktober 1675.

Sultanah Safiatuddin bergelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah. Anak tertua dari Sultan Iskandar Muda dan dilahirkan pada tahun 1612 dengan nama Putri Sri Alam. Safiatud-din Tajul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.”

Sebelum menjadi sultanah

Sebelum ia menjadi sultana, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Tsani (1637-1641). Setelah Iskandar Tsani wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Sultana Safiatuddin diangkat menjadi sultana.

Sebelum berstatus sebagai sultanah, Safiatuddin Syah merupakan istri dari Sultan Iskandar Tsani. Setelah sang suami wafat ketika itu sangat sulit mencari sosok pengganti laki-laki yang masih memiliki ikatan keluarga, sehingga Safiatuddin Syah pun maju untuk dijadikan ratu. Dalam masa kepemimpinannya, terjadi hal-hal luar biasa. Sayangnya, di sisi lain kontra pun terjadi lantaran beliau adalah wanita.

Memimpin Selama Lebih dari 30 Tahun

Tidak banyak yang tahu apabila pemilik nama asli Putri Sri Alam ini merupakan sultanah pertama yang memimpin kerajaan Islam Aceh Darusalam. Masa kepemimpinannya pun tidak main-main untuk sosok perempuan, yakni 31 tahun mulai dari tahun 1644-1675.

Pada tahun 1639 ketika terjadi Perang Malaka, Sultanah Safiatuddin bahkan membentuk sebuah barisan perempuan untuk menguatkan benteng istana. Banyak kebijakan bernilai positif yang dilakukan oleh ratu hebat ini. Salah satu yang terkenal adalah tentang tradisi pemberian hadiah berupa tanah untuk pahlawan perang. Masa pemerintahan sultanah Safiatuddin pun dinilai sangat bijak, di mana menyoal hukum serta adat istiadat dijalankan dengan baik.

Ratu yang Juga Seorang Penulis

Pada masa kepemimpinan Sultanah Safiatuddin perkembangan sastra sangatlah pesat. Hal ini juga tidak lain karena sang ratu merupakan sosok yang cinta terhadap bacaan. Banyak yang mengetahui apabila beliau sangat menyukai mengarang sajak dan cerita-cerita pendek.

Tidak hanya sebatas rasa suka saja, wujud nyata yang telah dilakukan oleh Sultanah Safiatuddin untuk mencerdaskan rakyatnya ketika itu adalah mendirikan perpustakaan. Tak banyak pemimpin yang perhatian dengan hal-hal semacam ini, namun Sultanah Safiatuddin melakukannya dengan sangat baik.

Meski tidak banyak arsip yang mencatat sejarah tentang Sultanah Safiatuddin, tapi usahanya memimpin tentu patut jadi teladan dan diapresiasi. Keberhasilannya memimpin sebuah kerajaan pun terbilang nyata. Hal ini membuktikan apabila perempuan juga memiliki hak untuk punya sebuah ambisi mewujudkan mimpi. Semoga dengan membaca postingan ini kita jadi semakin mencintai sejarah.

Baca juga:

Rahmah El Yunusiyyah, Mujahidah dan Pelopor Pendidikan Perempuan Asal Padang


Masa pemerintahan dan Hubungan Luar Negeri

Sultanah Safiatuddin memerintah selama 34 tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan.

Sejarah pemerintahan Sultana Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Prancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik.[2] Ia memerintah pada masa-masa yang paling sulit karena Malaka diperebutkan antara VOC dengan Portugis. Ia dihormati oleh rakyatnya dan disegani Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab.

Penasehat negara

Pada masa pemerintahannya yang terdapat dua orang ulama penasehat negara (mufti) yaitu, Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkil yang bergelar Teungku Syiah Kuala. Atas permintaan Ratu, Nuruddin menulis buku berjudul Hidayatul Imam yang ditujukan bagi kepentingan rakyat umum, dan atas permintaan Ratu pula, Abdurrauf Singkil menulis buku berjudul Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab, untuk menjadi pedoman bagi para qadhi dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ratu Safiatuddin bukan saja mengutamakan kesejahteraan negerinya tetapi juga berusaha menjalankan pemerintahannya sesuai dengan hukum Islam.

Ia memerintah antara tahun 1641-1675. Diceritakan bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita serta membantu berdirinya perpustakaan di negerinya. Safiatuddin meninggal pada tanggal 23 Oktober 1675. (dbs)

 

Sumber:

Perempuan-perempuan Aceh Tempo Dulu yang Perkasa. Kabari, 19 Maret 2008.

kabarinews.com/perempuan-perempuan-aceh-tempo-dulu-yang-perkasa

 

 

Baca juga:

Nyai Khoiriyah Hasyim, Tokoh Pendidik dan Pejuang Emansipasi Perempuan di Kalangan Pesantren


Back to Top