#UlamaPerempuanIndonesia

Nyai Solihah Wahid Hasyim, Sosok Perempuan Tangguh untuk Keluarga, Agama, dan Negara

gomuslim.co.idBeliau adalah Ibunda Gus Dur, Nyai Hj Sholichah ini adalah anak dari Mbah Bishri Syansuri, Rais Am PBNU, setelah Mbah Abdul Wahab Hasbullah. Tentang Nyai Hj Sholichah ini, biografinya ditulis oleh Muhammad Dahlan (et. al) dalam judul Sholihah A Wahid Hasyim: Muslimah di Garis Depan Sebuah Biografi (Jakarta: Yayasan K.H.A Wahid Hasyim, 2001). Secara khusus Gus Dur mengekspresikan kiprah dan sosok ibunya, bersama sang adik Gus Sholah, dalam sebuah buku Ibuku Inspirasiku (Pustaka Tebuireng), yang menceritakan ketangguhan sang ibu dalam menjalani hidup dan berkiprah di masyarakat.

Masa Kecil dan Pernikahan

Sang ibu, dilahirkan di Jombang pada 11 Oktober 1922. Beliau anak kelima KH. Bishri Syansuri dengan istri Nyai Hj. Nur Chadijah (adik dari Mbah Abdul Wahab Hasbullah), dari 10 saudara. Nama kecilnya adalah Munawwaroh. Ketika kecil dididik dalam bidang keilmuan pesantren di di Denanyar. Dalam usia 14 tahun dinikahkan dengan Gus Abdurrahim, anak dari Kyai Cholil Singosari, tetapi sang suami kemudian wafat pada tahun awal pernikahan mereka. Kemudian menikah dengan Kyai Wachid pada tahun 1936 M, tepat hari Jum’at, 10 Syawal 1356 H. Setelah menikah, pada awalnya, mereka tinggal di Denanyar, tetapi kemudian pindah ke Tebuireng, sampai sekitar tahun 1942.

Mahligai rumah tangga Kyai Wahid dengan Neng Waroh yang usai menikah lebih akrab dikenal dengan nama Nyai Sholihah ini hanya berlangsung 15 tahun. Tepatnya tahun 1953, Kyai Abdul Wahid Hasyim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat.

Dari pasangan inilah lahir enam anak yang di kemudian hari menjadi tokoh yang dikenal publik luas, yakni Presiden keempat Indonesia KH Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, KH Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid.

Nyai Hj. Solichah, dengan cepat beradaptasi dengan kecenderungan Kyai Wachid yang kutu buku dan gemar membaca, sehingga ibu Gus Dur ini, dalam waktu yang cepat dapat membaca dan menulis latin, juga membaca majalah-majalah koleksi Kyai Wachid. Meski di Tebuireng tidak lagi mengajar santri sebagaimana di Denanyar, karena tidak ada santri perempuan, Nyai Hj. Solichah menjalaninya dengan tabah dan sabar, dan bahkan mengasah kemampuannya dalam bidang latin dan keagamaan, yang kemampuan ini, nantinya berguna ketika pasangan ini hijrah ke Jakarta.

Kiprah bersama Muslimat NU

Jiwa kepejuangannya dengan amal-amal dari kalangan mushlihah, sebagaimana juga Kyai Wachid Hasyim, sudah tampak ketika beliau pindah dari Ndalem Kasepuhan ke Ndalem Kulon di komplek Tebuireng saat itu, yaitu setelah kelahiran anak pertamanya, Abdurrahman ad-Dakhil. Sejak pindah ke Ndalem Kulon, beliau terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengajian yang diadakan Muslimat NU, yang saat itu bernama NOM. Ketika Kyai Wachid pindah ke Jakarta tahun 1944 untuk terlibat dalam arena perjuangan kebangsaan dan Ke-NU-an, sebagai legislator, Nyai Hj Sholichah juga ikut ke Jakarta.

Tapi, karena Kyai Wachid diminta ke Tebuireng lagi untuk mengurus pesantren, mereka akhirnya tinggal di Tebuireng, dan karena kepindahannya itu, Kyai Wachid melakukan aktivitas Jombang-Jakarta, terutama pada saat pendirian Republik Indonesia. Baru tahun 1950, ketika Kyai Wachid diangkat menjadi mentri agama, Nyai Hj. Sholichah ikut pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta beliau terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, terutama di Muslimat NU Jakarta.

Keterlibatannya yang aktif di arena perbaikan masyarakat dan kepejuangannya, dimulai dengan menjadi anggota Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU tahun 1959 sampai beliau wafat pada Jumat, 29 Juli 1994 dalam usia 72 tahun. Keterlibatannya di Muslimat NU itu, masih ditambah dengan keterlibatannya sebagai legislator DKI Jakarta (1957), DPR-GR/MPRS (1960), DPR/MPR (1971 mewakili NU, 1978-1987 mewakili PPP).

 

Baca juga:

Nyai Khoiriyah Hasyim, Tokoh Pendidik dan Pejuang Emansipasi Perempuan di Kalangan Pesantren

 

Fokus kegiatan dan minat Nyai Solichah adalah Muslimat NU. Ia memulai keaktifannya dari tingkat paling bawah, membentuk ranting, lalu naik ke tingkat cabang, tingkat wilayah, dan akhirnya sampai pada tingkat pucuk kepimpinanan. Dalam kegiatan di lingkungan Muslimat, Ia merintis berdirinya Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) yang mengelola segala jenis fasilitas umum seperti Rumah Sakit, klinik, panti asuhan, rumah bersalin, dan fasilitas sosial lainnya.

Kegiatan sosialnya tidak hanya di lingkungan Muslimat NU saja, ia juga aktif di berbagai organisasi sosial seperti YDB (Yayasan Dana Bantuan), Yayasan Bunga Kamboja, IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), Home Care, panti jompo dan pengajian untuk para ibu yang dinamakan al-Ishlah di Mataraman. Di dalamnya ia sangat aktif dan cukup berperan.

Dalam buku “Ibuku inspirasiku” sosok Nyai Solichah ditulis oleh kedua putranya, Gus Dur dan Gus Sholah. Nyai Solichah Wahid di mata kedua putranya adalah pribadi yang terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja, ia sangat rajin melakukan silaturrahim dengan banyak pihak.

Menjadi Orangtua Tunggal

Ketika Kyai Wachid wafat dalam kecelakaan di Cimahi, pada 1953, Nyai H. Solichah mengambil alih semua peran menghidupi, membimbing, dan mendidik keluarga. Karena beliau tidak mau tinggal di Jombang dan tetap memilih di Jakarta. Beliau dijadikan oleh Alloh, menjadi seorang yang harus menghadapi liku-liku hidup dan merawat-membesarkan anak-anaknya di dalam belantara Jakarta yang keras.

Pada awalnya Kyai Bishri Syansuri memang mengendaki, melalui musyawarah keluarga, agar dia kembali ke Jombang, dan bahkan ketika anak-anaknya akan dibagi di antara paman-pamannya untuk diasuh, Nyai Hj. Sholichah tidak bersedia. Beliau memilih tinggal di Jakarta bersama anak-anak mereka (Ulama Perempuan Indonesia, hlm. 124). Ketangguhan, kesabaran, dan keuletan, kiprahnya di masyarakat, integritasnya, dan dipadu dengan munajat-munajat beliau kepada Alloh, telah menjadikan Nyai Hj. Solichah ini, sebagai sosok yang sangat dihormati, bukan hanya oleh anak-anaknya, tetapi juga oleh tokoh-tokoh NU, dan kolega-koleganya di luar NU.

Gus Dur menyebut sang ibu, seperti dituturkan dalam buku Ibuku Inspirasiku, dengan menyebutnya, seperti “ayam induk” bagi para pimpinan NU pada masanya, tidak pernah lepas kontak dengan para pimpinan masyarakat, lokal, dan nasional. Bahkan keputusan kembali ke Khitah NU di Situbondo, tidak juga terlepas dari sosok beliau. Gus Dur yang dicalonkan di arena Muktamar NU di Situbondo, juga mau maju setelah meminta restu dulu kepada beliau (hlm. 44-45).

Saat Beliau Wafat

Tokoh yang sangat dihormati Gus Dur ini, wafat pada Jum’at, 29 Juli 1994, sekitar pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Usianya kala itu 72 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman Tebuireng Jombang. Nama beliau, diabadikan untuk nama Masjid di Ciganjur, menjadi Masjid al-Munawwaroh, seperti sengaja mengingatkan kerinduan ketangguhan dan munajat-munajat Nyai HJ. Sholicah ini, yang begitu sangat dihormati oleh Gus Dur.

Maka, apa yang dilakukan Gus Dur, pada dasarnya adalah juga untuk memenuhi harapan ibunya, sebagai anak-laki-laki pertama, agar bisa meneruskan perjuangan sang ayah, Kyai Wachid Hasyim. Sehingga ketika Gus Dur diminta ke Krapyak, lalu Tegalrejo, Tambakberas, dan seterusnya, pada dasarnya dia sedang menjalankan amal birrul walidain, terutama kepada sang ibu.

 

 

 

Sumber:

Ulama Perempuan Indonesia. Editor: Jajat Buhanudin. Jakarta: 2002. Gramedia dan PPIM IAIN Jakarta.

muslimobsession.com

NU Online

BangkitMedia

 

 

Baca juga:

Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Pahlawan Penggerak Pendidikan Perempuan dari Tanah Minang


Back to Top