Begini Pembagian Wakaf dalam Hadist dan Peraturan Pemerintah

gomuslim.co.id - Jumhur ulama mendefinisikan wakaf sebagai menahan harta yang bisa dimanfaatkan, sedangkan bendanya tetap langgeng, tanpa dipergunakan untuk sesuatu yang bisa melenyapkannya baik oleh orang yang berwakaf maupun orang lain, digunakan sesuatu yang mubah atau dalam kebajikan dan kebaikan dalam rangka taqarrub kepada Allah.[1]

Dari definisi itu terdapat perkara yang sama dalam pembagian wakaf. Pertama, wakaf adalah habs mâl (menahan harta). Hal yang dimaksud dengan menahan atau menghalangi harta adalah menahan atau menghalangi harta dari kepemilikan oleh seseorang atau suatu pihak, baik orang yang mewakafkan atau orang lain.

Ketentuan ini didasarkan kepada Hadits dari Ibnu Umar ra. Dia memberitakan bahwa Umar bin al-Khaththab ra pernah mendapat harta yang sangat berharga berupa kebun kurma di Khaibar. Umar ra pun ingin menyedekahkan harta tersebut. Lalu dia bertanya kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda:

إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا

Jika engaku mau, engkau dapat menahan pokoknya dan bersedekah dengannya (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad).

 

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda:

تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ

Bersedekahlah dengan pokoknya; tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwarisi; tetapi hasilnya dibelanjakan. (HR al-Bukhari).

 

Baca juga:

Ini Delapan Program Unggulan Badan Wakaf Al Qur’an

 

Dalam Hadits tersebut Rasulullah saw bersabda: habbasta ashlahâ (kamu menahan pokok bendanya). Ungkapan ini jelas memberikan pengertian bahwa barang yang telah diwakafkan itu ditahan, tidak berpindah kepemilikan kepada orang lain. Kesimpulan tersebut semakin jelas dalam sabda beliau: lâ yubâ’u wa lâ yûhabu wa lâ yûratsu (tidak boleh dijual, dihibahkan, dan diwariskan).

Kedua, yang diperbolehkan dalam wakaf adalah menggunakan manfaat, buah, atau hasil dari harta pokok yang diwakafkan. Dengan kata lain, seluruh manfaat yang dihasilkan dari harta pokok yang diwakafkan boleh digunakan. Termasuk pula benda yang dihasilkan, semisal buah dari kebun yang diwakafkan, hasil sewa dari gedung yang diwakafkan, dan lain-lain.

Kesimpulan ini didasarkan pada Hadits di atas: Yunfaqu tsamaruhu (dibelanjakan hasilnya). Dalam kelanjutan riwayat di atas juga disebutkan: 

فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِى الْفُقَرَاءِ وَفِى الْقُرْبَى وَفِى الرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ

Umar lalu bersedekah dengannya untuk orang-orang fakir, kaum kerabat, membebaskan budak, jihad fi sabilillah, ibnu sabil, dan para tamu. Orang yang mengurusnya diperbolehkan makan darinya secara makruf atau memberi makan temannya, tanpa memilikinya (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah, Ahmad).

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa wakaf merupakan salah satu bentuk sedekah, akan tetapi hanya boleh diambil manfaatnya. Sedangkan bendanya harus tetap utuh dan tidak boleh dipindahkan kepemilikannya.

Macam-macam wakaf

Dari penjelasan diatas dapat diturunkan secara teknis macam-macam wakaf yang bisa dilakukan oleh umat islam untuk meraih banyak pahala.

Pertama, wakaf individu wakaf ini dilakukan oleh satu individu misalnya berupa tanah untuk kepentingan umum misalnya membuat masjid, jalan, kebun, dan lain-lain.

Kedua, wakaf kelompok atau komunitas masyarakat yang berhimpun mewujudkan harta wakaf misal berupa mobil untuk dakwah, kapal untuk dakwah da’i kepulauan, dan lainnya.

Ketiga wakaf individu atau kelompok yang ditujukan untuk satu orang tertentu misalkan wakaf al quran, wakaf motor yang pemanfaatannya bisa untuk individu atau kelompok masyarakat.

Kalau kita merujuk pada Peraturan Pemerintah No.2 Tahun 1977 dalam peraturan ini  hanya mengatur wakaf sosial (untuk umum) atas tanah milik. Sedangkan macam-macam bentuk wakaf lainnya belum diatur, padahal bentuk wakaf tidak hanya berupa tanah, namun semua benda yang tidak habis dalam satu kali pakai.

Bahkan dalam sejarah ke khilafaan Islam pernah ada rumah wakaf yang menyediakan perabot rumah tangga berupa piring, gelas, sendok dan lain-lain. Dimana warga bisa mengambil atau meminta kepada rumah wakaf tersebut segala peralatan rumah tangga untuk dimanfaatkan. (bwa)

 

 

Baca juga:

Badan Wakaf Al Qur’an, Lembaga Filantropi untuk Kembangkan Potensi Wakaf Produktif di Indonesia

 

 

Penulis:

Weli Kurniawan

Staff Program Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA)

 

 



[1] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10 (Damaskus: Dar al-Fikr, tt), 7599


Back to Top