Ini Hukum Menjual Tanah Wakaf

gomuslim.co.id -  Sahabat gomuslim, terkait dasar hukum penjualan aset wakaf adalah hadist Abdullah bin Umar berikut ini:

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ


  “ Dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma bahwa Umar bin Khathab radliallahu 'anhu mendapat bagian lahan di Khaibar lalu dia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta pendapat Beliau tentang tanah lahan tersebut seraya  berkata: “ Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar dimana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka apa yang Tuan perintahkan tentang tanah tersebut? Maka Beliau berkata:

“ Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya lalu kamu dapat bershadaqah dengan (hasil buah) nya.” Ibnu Umar radliallahu 'anhu berkata: Maka Umar menshadaqahkannya (hasilnya), dan wakaf tersebut tidak boleh dijual, tidak dihibahkan dan juga tidak diwariskan,  namun dia menshadaqahkannya untuk para faqir, kerabat, untuk membebaskan budak, fii sabilillah, ibnu sabil dan untuk menjamu tamu. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma'ruf dan untuk memberi makan orang lain bukan bermaksud menimbunnya.”  (HR Bukhori)

Berdasarkan hadist tersebut,  para ulama berpendapat bahwa aset wakaf tidak boleh dijual atau ditarik kembali  oleh pemiliknya, bahkan sebagian kalangan menyatakan bahwa hal ini merupakan kesepakatan ulama. Berkata Imam Qurthubi : “ Pendapat yang membolehkan penarikan kembali barang yang sudah diwakafkan adalah pendapat yang menyelesihi kesepakatan ulama, maka tidak boleh diikuti. “

 

Baca juga:

Ini Delapan Program Unggulan Badan Wakaf Al Qur’an

 

Perubahan Harta yang Diwakafkan

Sebagaimana telah diterangkan di muka, harta wakaf harus langgeng dan utuh. Meskipun demikian, harta wakaf itu bisa diubah menjadi lainnya karena dua sebab, yakni:

Pertama, Mengganti bentuk harta wakaf karena adanya keperluan. Ini dilakukan karena harta wakaf itu tidak bisa dimanfaatkan seacara langsung untuk tujuan wakafnya. Misalnya, wakaf tanah yang diperuntukkan untuk jihad.

Agar bisa dimanfaatkan, maka tanah itu bisa dijual dan dibelikan sesuatu yang bisa digunakan untuk berjihad. Dalam konteks ini, harta wakaf itu bisa diubah bentuknya atau memindahkan tempat harta wakaf itu; atau bahkan kedua-duanya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad. Dasarnya adalah perbuatan Umar bin al-Khaththab ra yang pernah memerintahkan Saad bin Abi Waqash ra --ketika itu menjadi wali di Kufah--, untuk memindahkan Masjid Kufah yang lama ke tempat lain dan membangun Baitul Mal di sebelah kiblat masjid. Lalu tempat masjid lama itu diubah menjadi pasar bagi pedagang kurma.[1]

Kedua, Mengubah harta wakaf untuk kemaslahatan yang lebih besar. Kebolehan ini juga didasarkan pada tindakan Umar bin al-Khathtah ra dan Utsman bin Affan ra, misalnya, pernah merehab dan memperbesar Masjid Nabawi. [2] Apa yang dilakukan Umar bin al-Khaththab ra di atas atau perombakan Masjid Nabawi oleh Umar bin al-Khaththab ra dan Utsman bin Affan ra itu diketahui oleh para Sahabat dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Hal itu menujukkan adanya Ijmak Sahabat akan kebolehan hal itu.

Ketika harta yang diwakafkan mengalami kerusakan, misalnya, sebuah rumah wakaf yang telah rusak dan tidak dapat dipakai lagi, atau karena sudah ditinggalkan oleh penduduk tempat tersebut, maka boleh rumah itu dijual kemudian hasilnya dibelikan rumah kemudian dijadikan wakaf sebagaimana rumah yang telah dijual tadi, hal ini didasari oleh perkataan dan perintah Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab ra tatkala beliau mendengar bahwa baitul mal di negeri Kufah telah rusak:

Bahwa Umar bin al-Khaththab ra menulis surat kepada Sa’d ra tatkala beliau mendengar bahwa baitul mal yang ada di negeri Kufah telah rusak: “Hendaknya engkau pindahkan masjid yang ada di Tamarin, dan jadikan (buatlah) baitul mal di sebelah kiblat masjid, karena sesungguhnya di masjid itu orang yang shalat senantiasa ada.

Ibnu Qudamah berkata: “(Karena tidak diketahui seorang sahabat Nabi yang mengingkari perintah Umar radhiyallahu ‘anhu ini), maka hal ini adalah ijma’/kesepakatan para sahabat Nabi.”

Kesimpulan dari penjelasan tersebut adalah menjual tanah wakaf hukumnya adalah haram kecuali dengan alasan yang syar’i atau dibenarkan oleh syariah.

 

Baca juga:

Badan Wakaf Al Qur’an, Lembaga Filantropi untuk Kembangkan Potensi Wakaf Produktif di Indonesia

 

 

Penulis:

Weli Kurniawan

Staff Program Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA)

 

 



[1] Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 3, 530

[2] Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 3, 530-531


Back to Top