Perbedaan Wakaf dengan Hibah, Hadiah, Zakat, dan Sedekah

gomuslim.co.id – Sahabat gomuslim, pada pembahasan panduan wakaf kali ini, terkait perbedaan antara wakaf dengan hibah, hadiah, zakat, dan sedekah.

Perbedaan dengan Hibah dan Hadiah

Hibah dan hadiah adalah pemberian harta milik seseorang pada saat masih hidup kepada orang lain. Hibah terjadi pada benda-benda yang mubah apa pun; mulai dari makanan, minuman, uang, baju, rumah, tanah, dan lain sebagainya. 

Sedangkan, harta yang diwakafkan disyaratkan harus tetap utuh atau awet ketika dimanfaatkan. Tidak boleh mewakafkan harta yang mudah rusak, habis atau lenyap saat dimanfaatkan.  Syarat seperti ini tidak berlaku pada harta yang hendak dihibahkan. Harta yang dihibahkan maupun manfaatnya berhak dimiliki oleh penerima hibah.  Adapun pada kasus wakaf, penerima wakaf hanya berhak atas manfaat dan gunanya saja.

Perbedaan Antara Wakaf dengan Zakat

Antara wakaf dan zakat terdapat perbedaan. Perbedaan antara keduanya adalah:

1. Status hukumnya

Zakat berhukum wajib, sedangkan wakaf berhukum sunnah (mandub)

2. Status benda yang diberikan

Penerima harta zakat berhak atas kepemilikan benda dan manfaatnya sekaligus.  Fakir miskin, ketika mendapatkan seekor sapi zakat misalnya, maka ia berhak memiliki sapi itu, dan semua manfaat yang dihasilkannya. 

Sedangkan, penerima wakaf hanya berhak mengambil manfaat dan hasil  dari harta wakaf itu. Ia tidak berhak memiliki atau menghabiskan harta wakafnya.  Pada wakaf hewan ternak, misalnya wakaf kambing, maka penerima wakaf hanya berhak mengambil air susunya, atau manfaat dari kambing tersebut. Sedangkan kambing yang diwakafkan tidak boleh dia miliki.

3. Penerima yang boleh menerima:

Harta zakat hanya diperuntukkan bagi delapan golongan yang telah ditetapkan dalam al-Quran (QS al-Taubah [9]: 60. Yakni, orang fakir, miskin, amil, muallaf yang dibujuk hatinya, membebaskan budak, orang yang berutang, jihad fi sabilillah, dan ibnu sabil  

Sedangkan, penerima wakaf tidak diberikan kepada golongan tertentu seperti zakat.

4. Persyaratan harta benda yang diberikan:

Pada harta zakat tertentu disyaratkan adanya haul dan nishab. Adapun pada wakaf, tidak ada syarat haul dan nishab.

5. Jumlah harta benda yang diberikan:

Jumlah zakat yang harus dikeluarkan dari harta-harta yang wajib dizakati telah ditentukan; misalnya, zakat emas dan perak sebesar 2,5%, dan sebagainya. Sedangkan, dalam wakaf, tidak ada ketentuan spesifik mengenai jumlah harta yang harus diwakafkan.

 

Baca juga:

Ini Delapan Program Unggulan Badan Wakaf Al Qur’an

 

Perbedaan Wakaf dengan Sedekah

Wakaf termasuk sedekah. Hanya saja terdapat perbedaan antara wakaf dengan sedekah secara umum. Perbedaanya adalah:

1. Status harta

Dalam wakaf, harta yang diberikan tidak berubah menjadi milik penerima wakaf. Harta yang diwakafkan menjadi milik Allah Swt. Sedangkan dalam sedekah secara umum, harta yang diberikan itu berubah menjadi milik orang yang diberi.

2. Yang diterima oleh penerima

Penerima wakaf hanya berhak atas manfaat dan hasil dari harta wakaf. Sedangkan sedekah secara umum; penerima sedekah berhak atas benda dan manfaatnya sekaligus.

 

Inilah perbedaan wakaf dengan bentuk sedekah lainnya termasuk hibah. Semoga menjadi ilmu dan menambah pengetahuan kita tentang wakaf serta menjadikan wakaf sebagai gaya hidup kita.

Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Seperti Umar bin al-Khaththab ra, Utsman bin ‘Affan ra., Abu Talhah ra., dan para sahabat lainnya juga memiliki sikap yang sama dalam mewakafkan harta. Jabir ra berkata:

 

لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ذُو مَقْدِرَةٍ إلَّا وَقَفَ

Tidak ada seorang pun di antara para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan (untuk berwakaf) melainkan dia akan mengeluarkan hartanya untuk wakaf.[1]

 

Dan tentu saja panutan dan teladan manusia, Rasulullah saw. Beliau adalah uswah dalam seluruh kebaikan, termasuk dalam soal mewakafkan harta. ‘Amr ibn al-Harits ra berkata:

 

مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلاَ دِينَارًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا ، إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ وَسِلاَحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً .

Rasulullah saw tidak meninggalkan dirham, dinar, dan budak lelaki atau perempuan. Beliau hanya meninggalkan seekor bighal yang berwana putih, senjata, dan tanah yang telah beliau jadikan sebagai sedekah (HR. al-Bukhari)

 

Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fat-h al-Barri menjelaskan riwayat ini, “Rasulullah saw menyedekahkan manfaat dari tanahnya. Hukumnya adalah hukum wakaf.”[2]

 


[1] Ibnu Qudamah, al-Mughnî, vol. 6 (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1968), 

[2] Ibnu Hajajar al-Asqalani, Fat-h al-Qadîr, vol. 2 (Beirut Dar al-Ma’rifah, 1379H).

 

 

Baca juga:

Badan Wakaf Al Qur’an, Lembaga Filantropi untuk Kembangkan Potensi Wakaf Produktif di Indonesia

 

 

Penulis:

Weli Kurniawan

Staff Program Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA)

 

Komentar

  • Indara

    10 Juli 2019

    kemang

    Aku kira hukum , tatacara dan itungan amal ibadahnya it sama , ternyata beda ya. Terimakasih ya gomuslim atas penjelasannya


    Reply






















Tulis Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top