Inilah Fiqih dan Sejarah Wakaf

gomuslim.co.id - Pengertian fiqih wakaf dapat dijelaskan secara bahasa dan syar’i. Agar kita memahami ibadah sunnah yang powerfull ini untuk menjadi sumber aliran pahala yang mengisi kantong-kantong pahala kita.

Secara bahasa, kata wakaf atau al-waqf berasal dari kata waqafa–yaqifu–waqf[an]; artinya habbasa (menahan, menghalangi). Sehingga, kata al-waqaf bermakna al-habs (menahan).[1] 

Sedangkan secara syar’i, ada beberapa penjelasan yang dikemukakan para ulama. Menurut Sayyid Sabiq, wakaf adalah menahan harta pokok dan mengalirkan buahnya. Dengan ungkapan lain, menahan harta dan mengambil manfaatnya untuk digunakan di jalan Allah.[2]

Dari dua penjelasan tersebut, yang kita ambil adalah penjelasan secara syar’i nya bukan secara bahasa.

Untuk lebih memberi gambaran tentang penjelasan secara syar’i tentang fiqih wakaf berikut ini penjelasan lengkap tentang wakaf berdasarkan dalil al qur’an dan as sunnah.

 

Baca juga:

Ini Delapan Program Unggulan Badan Wakaf Al Qur’an

 

 

Di antaranya adalah firman Allah Swt:

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خُلَّةٞ وَلَا شَفَٰعَةٞۗ ٢٥٤

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di ja lan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa´at (QS al-Baqarah [2]: 254).

 

Selain itu, ada juga Firman Allah Swt:

ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَأَنفِقُواْ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسۡتَخۡلَفِينَ فِيهِۖ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ٧

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar (QS al-Hadid [57]: 7).

Begitu juga termaktub dalam:

 

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai (QS Ali Imran [3]: 92).

 

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. al-Baqarah [2]: 261)

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang anjuran untuk menginfakkan harta yang diperoleh untuk mendapatkan pahala dan kebaikan. Di samping itu, QS al-Baqarah [2]: 261 telah menyebutkan pahala yang berlipat ganda yang akan diperoleh orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Sejarah wakaf

Menurut Ibnu Hajar al-Haitami, wakaf pertama dalam Islam adalah tanah yang disedekahkan oleh Umar.[3] Penjelaan yang sama juga dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani. Ini didasarkan perkataan Ibnu Umar ra ketika meriwayatkan hadits tentang Umar bin al-Khaththab yang menyedekahkan tanahnya di Khaibar, ”Wakaf pertama kali di dalam Islam adalah wakafnya Umar”.   Riwayat ini diperkuat oleh Hadits yang dituturkan dari Amru bin Sa’ad bin Mu’adz. Ia berkata, ”Kami bertanya tentang wakaf pertama kali di dalam Islam.  Kaum Muhajirin menjawab, ”Wakafnya Umar”.  Sedangkan kaum Anshar menjawab, ”Wakafnya Rasulullah saw.”[4]

Di antara keistimewaan wakaf adalah belum pernah dikenal di masa jahiliyyah sedekah semacam itu. Imam al-Syafi’i berkata, “Wakaf dalam makna syar’i belum pernah dikenal oleh orang Jahiliyyah.”[5] Beliau juga berkata, “Orang Jahiliyyah belum pernah mewakafkan rumah atau tanah sebagaimana yang Anda ketahui”.[6]

Sedangkan, keutamaan wakaf, karena merupakan salah satu jenis amal menginfakkan harta di jalan Allah Swt, maka keutamaan wakaf tercakup dalam  keutamaan sedekah dan infak. Berkenaan dengan sedekah dan infak, amat banyak ayat yang menjelaskan tentang keutamaannya.

 
 


[1] al-Shan’ani, Subul al-Salâm, vol. 2 (tt: Dar al-Hadits, tt), 126; al-Jurjani, al-Ta’rifât (Beirut:Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1983), 253

[2] Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1997), 515

[3] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtâj fî Syarh al-Minhâj, vol. 6, 236

[4] Ibnu Hajar al-Asqanai, Fat-h al-Barri

[5] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtâj fî Syarh al-Minhâj, vol. 6 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-    ‘Arabi, tt), 236

[6] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7603.



Penulis:

Weli Kurniawan

Staff Program Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA)



Back to Top