Nadzir Wakaf adalah Pengelola Harta Wakaf

gomuslim.co.id - Setelah diwakafkan, harta itu sudah keluar dari kepemilikan al-wâqif dan berubah menjadi milik Allah atau kaum Muslim secara umum. Harta yang telah diwakafkan memerlukan orang atau pihak yang mengurus dan mengelolanya. Orang atau pihak yang mengelola harta wakaf itu disebut Nadzir. Kata Nadzir merupakan ism al-fâ’il dari kata nazhara-yanzhuru-nadzaran. Artinya, menjaga, memelihara, mengelola dan mengawasir. Sehingga Nadzir berarti penjaga, pengawas, pengelola, atau pemelihara.

Walaupun para mujtahid tidak menjadikan nadzir sebagai salah satu rukun wakaf, namun para ulama menjelaskan tentang keperluan adanya nadzir wakaf. Nadzir wakaf itu diperlukan agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga tidak sia-sia dan cepat rusak. Sedemikian pentingannya kedudukan nadzir dalam perwakafan, sehingga berfungsi tidaknya harta wakaf sangat bergantung pada nadzir wakaf. Meskipun demikian tidak berarti bahwa nadzir mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang diamanahkan kepadanya.

Nadzir wakaf bertugas menjaga dan mengelolanya, menyewakan, menanaminya, mewujudkan hasilnya, baik hasil sewa, tanaman, maupun buahnya; membagikannya di antara orang-orang yang berhak, menjaga harta pokoknya beserta semua hasilnya secara hati-hati.[1]

 

Baca juga:

Ini Delapan Program Unggulan Badan Wakaf Al Qur’an

 

Kriteria Nadzir (Pengelola Wakaf)

Mengenai siapa yang berindak sebagai nadzir bagi harta wakaf, maka penentuannya dikembalikan kepada orang yang berwakaf. Sebab, dialah yang paling mengetahui wakafnya, baik dari sifat maupun orang yang akan menerimanya. Menurut al-Zuhaili, orang yang berwakaf bisa menunjuk dirinya sendiri, orang al-mawqûf (yang dituju dalam wakaf), atau pihak lainnya untuk menjadi pengelolanya.[2]

Karena itu, jika seseorang berkata, “Barang ini saya wakafkan untuk kaum fakir, dan yang menjadi nadzir adalah Fulan”, maka Fulan pun langsung menjadi nadzir. Tidak boleh ada orang menentang kewenangan Fulan dalam mengelola harta wakaf dan membagikan manfaatnya kepada orang fakir. Kecuali jika dia tidak bisa menunaikan amanah dengan baik.

Beberapa ketentuan pengurus harta wakaf adalah:

  1. Memiliki sifat al-‘adâlah al-zhâhirah (keadilan yang tampak). Sebab, pengelolaan dan pengurusan merupakan wilâyah (perwalian) sebagaimana pada orang yang mengelola wasiat dan bertanguung jawab terhadap suatu urusan. Yang dimaskud dengan adil adalah taat terhadap perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan syar’i. Menurut al-Zuhali, ini merupakan pendapat jumhur.[3]
  2. Memiliki kifâyah (kecukupan, kekuatan). Yakni, kekuatan kepribadian dan kemampuan dalam men-tasharruf-kan (mengurus, mengelola), harta yang menjadi tanggung jawabnya sebagai nâzhir.  Sifat kifâyah tidak memerlukan petunjuk dalam tasharruf. Sifat tersebut juga mengharuskan adanya taklif, yakni baligh dan berakal. Tidak disyaratkan nâzhr harus laku-laki. Sebab, Umar bin al-Khaththab telah berwasiat kepada Khafshah ra.[4]

Termasuk dalam sifat ini adalah mengerti kemaslahatan harta, sehingga harta yang diwakafkan tidak segera habis atau tidak sia-sia. Allah Swt berfirman:

فَإِنۡ ءَانَسۡتُم مِّنۡهُمۡ رُشۡدٗا فَٱدۡفَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَٰلَهُمۡۖ ٦

Kemudian jika menurutmu mereka  telah cerdas (pandai memelihara  harta), maka serahkan kepada mereka  harta-harta mereka. (QS. an-Nisa’ [4]: 6).

 

Dalam ayat ini Allah melarang kita menyerahkan harta anak yatim kepada mereka (padahal harta itu milik mereka), kecuali kalau mereka telah pandai memelihara harta. Maka demikian juga, dilarang kita menyerahkan harta wakaf kepada pengurus wakaf yang tidak memiliki harta tersebut kecuali kalau mereka pandai memelihara harta

Apabila dua sifat di atas, yakni al-‘adâlah dan al-kifâyah, maka penguasa mencabut wakaf dari mereka, meskipun nâzhir adalah orang yang berwakaf itu sendiri. Apabla sifat tersebut penghalang tersebut, maka pengelolaan wakaf itu dapat kembali kepadanya menurut al-Syafi’iyyah apabila disyaratkan dalam wakaf dan tertulis demikian.[5]

 

  1. Beragama Islam, apabila al-mawqûf ‘alayh (penerima wakaf) adalah Muslim, atau yang dituju seperti masjid. Ini didasarkan firman Allah Swt:

 وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا ١٤١

Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (mengalahkan) orang-orang yang beriman. (QS. an-Nisa’ [4]: 141).

Apabila wakafnya ditujukan kepada orang kafir tertentu, diperbolehkan orang kafir yang mengurus dan mengelolanya. Ini merupakan pendapat al-Hanabilah.[6]

 

Ketentuan Upah bagi Nadzir

Orang yang ditunjuk sebagai nadzir yang bertugas untuk mengurus dan mengelola harta wakaf boleh memanfaatkan atau menggunakan wakaf dengan sewajarnya. Itu  sebagai kompensasi atas pekerjaannya itu. Hal ini sebagaimana dalam kelanjutan hadits Ibnu Umar ra yang telah lalu, Nabi saw bersabda:

 

لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ

Orang yang mengurusnya diperbolehkan makan darinya secara makruf (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah, Ahmad).[7]

 

Namun demikian, ia tidak boleh memiliki harta wakaf tersebut. Pengurusan harta wakaf oleh orang itu hakikatnya merupakan amanah agar harta wakaf itu tetap bisa diambil manfaatnya, tidak hilang, rusak atau habis.

 

Baca juga:

Badan Wakaf Al Qur’an, Lembaga Filantropi untuk Kembangkan Potensi Wakaf Produktif di Indonesia



[1]

[2] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7660

[3] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7687

[4] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7687

[5] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7687

[6] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7687

[7] al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiyy wa Adillatuhu, vol. 10, 7687

 

 

Penulis:

Weli Kurniawan

Staff Program Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA)


Back to Top